Mas Chairil, Kalau dikatakan kemampuan berbahasa asing student kita minim sekali, saya kok kurang sependapat.
Saya saksikan sendiri, ketika jalan-jalan di Mangga Dua, seorang sales wanita atau SPG (saya kira masih berusia 20 tahunan) dengan bahasa Inggris yang lancar (terlepas dari grammar yang agak kacau), dapat menjelaskan produknya kepada seorang tamu asing (bule). Di Ratu Plaza, Jakarta Selatan, juga sama. Para sales wanita (SPG) dengan fasih melayani para tamu asing (bule) yang asyik berbelanja DVD. Sekali lagi percakapan dilakukan dalam bahasa Inggris yang lancar. Salam. ----- Original Message ---- From: chairil sanie djailany <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, May 8, 2007 9:18:54 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Minat baca yang kurang! Akhirnya saya tergelitik juga untuk urun rembug masalah minat baca ini, menurut saya yang pasti menurunnya minat baca diutamakan oleh harga buku yang tidak terjangkau dibandingkan oleh faktor-faktor lainnya. Saya ingat pada tahun tujuh puluhan saja semasa masih kuliah hal itu sudah terasa mulai memberatkan bagi para mahasiswa untuk membeli buku / textbook yang perlu di baca untuk referensi atau bahan belajar karena harganya telah mencapai 15 rb sampai 40 rb untuk buku bekas dan 2 sampai 3 kali lipatnya untuk buku baru, (bandingkan dengan biaya hidup yang masih sangat murah untuk mahasiswa pendatang di yogya yang hanya berkisar 50 rb sampai 150 rb). Pada masa itu pun sebenarnya sudah umum beredar dikalangan mahasiswa untuk mensiasatinya dengan sistim copy referensi bacaan / hal yang dicari atau dengan membeli buku / textbook terbitan INDIA yang sangat murah bahkan bisa lebih rendah dari harga buku / textbook asli yang bekas. Menurut desas-desus pada masa itu bahwa buku made in INDIA itu adalah BAJAKAN dan memang menggunakan kertas yang relatif jelek sehingga ada trik tertentu dalam peletakannya saat tidak di baca di rak buku. Indonesia sudah di cap jadi negara pembajak nomor wahid....... .......kepalang basah kenapa tidak sekalian saja membajak buku-buku pinter demi kemajuan bangsa...... .....toh sudah terbukti dengan kemajuan yang dicapai oleh INDIA saat ini dengan perlakuan mereka terhadap kebutuhan buku-buku pinter yang dapat dimiliki secara murah. Saya tidak tahu apakah saat ini strategi INDIA tersebut masih relevan dilaksanakan atau masih bisa dijalankan atau tidak, sudah tentu dengan sedikit nilai tambah dengan alih bahasa ke bahasa Indonesia, mengingat kemampuan bahasa asing yang masih minim sekali dikuasai oleh para student bangsa kita. salam, csd [EMAIL PROTECTED] ac.id wrote: Pak Bambang, Saya setuju dengan anda. Rasanya kecendrungan penerbit sekarang kebanyakan memang mengejar target profit ketimbang kualitas. Lebih banhyak buku2 pop yang dikonstruksikan sebagai 'best seller', tapi sebenarnya kurang mendidik. Saya heran saja banyak juga buku2 textbook, kalau di bidang saya misalnya untuk sosiologi banyak yang sebenarnya kurang bermutu, tapi tetap terbit, biasanya dibuat sebagian intelektual akademisiyang menulis cuma ngejar target credit utk urusan kepangkatan etc. Budaya membaca rendah juga budaya menulis, banyak penerbit yang gak punya proof reader untuk mengkritisi kelayakan suatu naskah. Kapan negara benar2 peduli pada budaya baca lagi..penerbitan macam Balai Pustaka saja terseok2..kita tenggelam jadi bangsa yang lehernya terikat pada kait budaya instan. salam dari yogya tia Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]
