Ketika membaca kisah "menggugah" ini, saya semakin memantapkan
keinginan saya menjadi seorang wartawan, setidaknya untuk sekarang
ini. Walaupun saya tau pahit-getirnya menjadi seorang wartawan
(pekerja media) seperti yang terungkap di posting sebelumnya, saya
masih meminati dunia itu. Jujur saja, saya tidak mendapat dukungan
yang cukup dari keluarga & orang2 terdekat saya mengenai cita-cita
saya itu. Saya malah dicap idealis, naif, dsb...Yang jelas, saya
memiliki harapan mengenai terciptanya industri media & dunia
jurnalistik Indonesia yang lebih baik lagi..Entah kapan, yang pasti,
suatu saat nanti! 

Dari seorang yang percaya (believer),

Patrick Hutapea   





--- In [email protected], 

> Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                
                 From: "Yusrianti Y.Pontodjaf" <yuspontodjaf@
yahoo.co. id>
>  Reply-To: <jurnalis_jakarta@ yahoogroups. com.au>
>  Date: Tue, 1 May 2007 11:18:46 +0700 (ICT)
>  To: <jurnalis_jakarta@ yahoogroups. com.au>
>  Subject: [jurnalis_jakarta] Renungan ...Upah Layak bagi Yusman
>  
>  Ballada Upah Layak bagi Jurnalis
>  
>  Tadi malam entah mengapa, saya ingat nasib Yusman, redaktur saya di
Berita
>  Kota Makassar. Usianya sekira 40 tahun saat itu. Ia bapak dari tiga
anak
>  yang cerdas dan lucu, suami dari istri yang masih muda dan cantik.
>  
>  Ayah Yusman, Hasan namanya. Hasan juga wartawan dan terakhir saya
bertemu,
>  ia (masih setia) jadi wartawan berposko di Pengadilan Negeri
makassar. Hasan
>  membesarkan Yusman dari honor sebagai wartawan. Dan Yusman juga
bertekad
>  membesarkan tiga anaknya dari honor sebagai wartawan.
>  
>  Kebutuhan sehari hari makin meningkat, biaya sekolah juga makin
mahal. Hasan
>  mulai sakit sakitan dan Yusman coab mengambil alih semua tanggungjawab
>  keluarga besar itu. Saya tahu karena sesekali saya ikut dalam
kegembiraan
>  dan kesedihan keluarga itu di sebuah lorong sempit Jalan Gunung
Lompobattang
>  sana. Rumah sempit ditambah satu ponakan yang sudah yatim. Yusman harus
>  memberi makan paling tidak 8 orang setiap hari, biaya sekolah dan
lain-lain.
>  
>  Saya tidak pernah menanyakan detail gaji Redaktur saat itu, tapi
dari cerita
>  teman teman, redaktur hanya dapat Rp 500 ribu. Bayangkan, seorang
Yusman
>  dengan pendapatan maksimal Rp 1 juta misalnya, harus memberi makan
8 orang.
>  Tapi saya tidak dapat berbuat apa apa. Sesekali saya menangis dalam
hati
>  melihat betapa Yusman berjuang demi keluarganya. Ia cukup idealis meski
>  sesekali menerima amplop untuk berita advetorial. Ia juga menerima
order
>  iklan untuk kantor . Sesekali ia membeli makanan dan transport juga
pada
>  saya. Entah uangnya darimana...ia hanya bilang "Ini bagi bagi
>  rezeki...kantor mana cukup kasi makan kita"
>  
>  Saya juga masih magang waktu itu. Tiga bulan pertama hanya dapat
transport
>  Rp 25 ribu untuk satu minggu. Atau Rp 100 ribu dalam sebulan !
Jumlah yang
>  kecil tapi masih cukup buat saya. Tahun 1999 waktu itu saya masih punya
>  cukup banyak tabungan dan deposito dari pekerjaan sebelumnya di
Jakarta.
>  Makan, uang jajan dan uang kongkow pun masih tertutupi dari pekerjaan
>  sambilan sebagai pekerja sosial beberapa LSM di Makassar.
>  
>  Tahun 2002, saya dan beberapa teman hengkang dari media Jawa Pos
Grup itu.
>  Ada yang menjadi anggota DPRD, Direktur LSM Korupsi, dosen di
Pontianak juga
>  jadi wartawan TV. Yusman masih setia dengan kantor lama. Saya pindah ke
>  Jakarta lalu bolak balik bekerja Jakarta-Makassar. Lalu menerima
tawaran di
>  salah satu harian lain di Makassar. Dan Yusman, masih setia di
kantor lama.
>  Masih redaktur lalu saya dengar jadi reporter biasa nyambi bisnis ikan.
>  
>  Terakhir kami bertemu, saya tridak ingat kapan ? ia bercerita soal
rencana
>  bisnis ikannya. Ia sudah mulai capek dengan kemiskinannya Dan tak
tahan malu
>  kalau harus menerima amplop, meski tak sering ia lakukan. Juga
tidak untuk
>  berita pesanan, hanya sekedar rasa terima aksih. Amplop abu abu.
Bisnis ikan
>  adalah solusi, menurutnya. Saya ikut senang.
>  
>  Kemudian saya mendapat kabar yang mulai terpotong potong...Yusman
keluar
>  dari kantor lama...bisnis ikannya mulai maju....Tetapi kemudian
saya juga
>  mendengar kabar lagi...bisnis ikannya gagal, istrinya terpaksa kerja di
>  pelabuhan jadi operator ? dan mulai bertengkar.. .ada tuduhan
>  berselingkuh. ...lalu.. ..(tidak jelas) Yusman kabur meninggalkan
keluarganya.
>  MUNGKINKAH.. . ??? Yusman yang taat dan sering menasehati saya
seperti kakak,
>  istrinya yang cantik dan setia dengan serba tidak cukupnya selama ini ?
>  
>  Semuanya membingungkan dan mengiris hati saya. Betapa Upah Layak harus
>  diperjuangkan. Betapa perjuangan untuk hidup layak bagi seorang
jurnalis
>  memakan begitu banyak korban. Bukan hanya Yusman..., kesetiaan istri,
>  keceriaan tiga orang anak, kenyamanan hari tua Pak Hasan dan istrinya,
>  kelanjutan sekolah seorang anak yatim dan kegembiraan banyak
temannya ikut
>  terampas !!!? Kegembiraan saya, kegembiraan teman teman yang selama ini
>  dibimbingnya. Ketaatan seorang yang percaya Tuhan dan nasib.....Yusman
>  mungkin kalah karena is sendiri.
>  
>  Lalu, masihkah perjuangan upah layak bagi jurnalis dianggap 'demo
>  kepentingan' tuntutan gak masuk akal ??? Renungkan cerita ini teman
temanku.
>  Ini bukan untuk ditonton, tetapi untuk didukung dan diperjuangkan.
Sendiri
>  saya tak sanggup berdiri tapi bersama saya rasa punya asa...Bersatulah
>  Jurnalis Perjuangkan Upah Layak !
>  
>  Tuk Pak Yusman dan rekans jurnalis... Selamat Hari Buruh
>  
>  Yusrianti Y.Pontodjaf
>  
>  __________________________________________________
>  Do You Yahoo!?
>  Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
>  http://mail.yahoo.com 
>  
>  [Non-text portions of this message have been removed]
>  
>  
>      
>                        
> 
>  
> ---------------------------------
> No need to miss a message. Get email on-the-go 
> with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke