Selamat sore, rekan-rekan sekalian,
Setelah banyak membicarakan mengenai Komunitas Air Mata Guru beberapa waktu yang lalu, apakah sudah dibuat gerakan yang nyata untuk mendukung mereka? Saya kuatir mereka akan kehabisan bensin (dana) untuk gerakan mereka dan akhirnya berhenti di tengah jalan, dengan korban para guru-guru yang berani bersaksi mengenai kecurangan UN. Kalau di milis kita ini belum ada dibuat dukungan nyata, saya dapat info di bawah dari milis lain yang sudah membuat dompet peduli untuk gerakan mendukung Komunitas Air Mata Guru ini. Silahkan hubungi langsung Ibu Tiorisna di bawah atau transfer dana ke nomor rekening di bawah untuk mendukung saudara-saudara kita yang sedang berjuang. Selamat mendukung, jangan sampai kita berhenti di bicara ya. -----Original Message---- From: Tiorisna Sihotang <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Update Rek Peduli Air Mata Guru & Sharing Kemarin sy sempat berbincang dengan seorang rekan di Air Mata Guru di Medan. Mereka bilang bhw dana perjuangan yg mereka terima sudah ada sekitar 10 juta rupiah, dan defisit 1.9 juta rupiah. Dana-dana tsb digunakan utk biaya-biaya rapat spt konsumsi, foto copy,Biaya transportasi para guru yg dari daerah, Biaya demo (yg katanya sangat tertib) sekitar 800 orang, biaya utk komunikasi dan pengumpulan data dari berbagai daerah. DLL. Mendengar kekurangan dana tsb, sy langsung transfer dana yg sdh terkumpul sementara ke rekening mereka. Total Rp2,6 juta rupiah. Katanya mereka masih membutuhkan dana utk mengumpulkan data dari seluruh Indonesia, utk rapat-rapat (operasional), utk menutupi transportasi guru yang ke Jakarta, dan mungkin juga perlu utk Pengacara. Oleh sebab itu, masih sangat dibutuhkan dukungan dari rekan-rekan semua, bukan utk kepentingan mereka tetapi kepentingan masa depan bangsa kita ini, khususny dunia pendidikan. Mungkin anak atau cucu kita kelak yg akan menikmati perjuangan ini. Jika tergerak, silahkan memberi ke rekening Dompet Peduli Air Mata Guru berikut: BCA# 4910092168 a.n : Tiorisna Sihotang ps: Hari ini, sy mendapat kabar bhw dua guru, yaitu PATAR dan DAUD, besok akan LIVE di TRANS 7, acara SELAMAT PAGI INDONESIA. Karena acara tsb, mereka batal pulang hari ini dan tiketnya menjadi hangus. Walaupun tiketnya akan diganti oleh pihak Trans 7, tetapi uang saku mereka sekarang tentunya makin menipis. Maka, ayo dong, kita bantu rame-rame. ok ?? salam. Tiorisna Sihotang HP : 021-70225202 EMAIL : [EMAIL PROTECTED] atau : [EMAIL PROTECTED] -----Original Message---- From: Tiorisna Sihotang <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Diintimidasi Terus, Guru Lapor ke Komnas HAM Salam. Berita dibawah ini dimuat di Harian Kompas Hari ini, 9/May, Halaman 12 (Humaniora). Sekedar informasi tambahan, rekan-rekan Air Mata Guru ini juga sudah bertemu dgn Anggota DPD, di gedung DPR/MPR kemarin. Sy dengar sedikit tentang pertemuan itu, satu statement yg sangat mengharukan adalah ketika Anggota DPD mengatakan bhw mereka akan mengusahakan perlindungan bagi para guru, namun katanya Bang Denni Saragih menjawab kira-kira begini : Kami datang bukan mencari perlindungan bagi diri kami, kami menyadari betul resiko yg kami hadapi dan kami sudah siap untuk itu. Kami menemui bapak-bapak/ibu-ibu adalah untuk memperjuangkan masa depan pendidikan di negara kita ini. salam/tio Diintimidasi Terus, Guru Lapor ke Komnas HAM Seorang Guru Diancam Akan Dibunuh oleh Siswa yang Curang www.kompas.com/kompas-cetak/0705/09/humaniora/3522048.htm Jakarta, Kompas - Menyusul semakin gencarnya tekanan terhadap sejumlah guru yang mengungkap kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional di Kota Medan dan sekitarnya, perwakilan guru yang tergabung dalam Komunitas Air Mata Guru di Medan meminta perlindungan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, di Jakarta, Selasa (8/5). Pelaporan itu sebagai bentuk antisipasi supaya para guru yang tetap berkomitmen untuk mengungkap kecurangan pelaksanaan ujian nasional (UN) ini memiliki jaminan untuk menggunakan hak-hak asasi dalam menyatakan sesuatu sesuai hati nuraninya dan justru tidak menjadi korban. Denni B Saragih, Koordinator Komunitas Air Mata Guru Medan, mengatakan bahwa anggota komunitas ini mendapat tekanan dari berbagai pihak untuk mencabut laporan yang diberikan para guru atau membuat pernyataan bahwa apa yang dilaporkan adalah laporan palsu. Sudah banyak guru yang gentar untuk bersaksi sesuai hati nurani karena mereka terancam kehilangan pekerjaan, terutama yang berstatus pegawai negeri. Banyak juga siswa yang tidak berani mengungkapkan kebenaran karena takut tidak lulus ujian. "Kami menduga tekanan kepada komunitas ini masih akan terus berlanjut dan semakin berat. Jika kami tidak mengantisipasi dan mulai melindungi hak-hak asasi guru berbicara sesuai hati nuraninya, para guru akan takut untuk bersaksi." kata Denni. Ancaman dari siswa Patar Tambunan, guru SMA Negeri 17 Medan yang ikut ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), mengaku mendapatkan pesan dari rekan guru bahwa siswa yang dipergokinya membawa kertas contekan saat UN akan membunuh dirinya jika siswa itu tidak lulus ujian. "Saya merasa terancam. Tapi saya harus tetap berani mengungkapkan apa yang terjadi," ujar guru calon PNS ini. Dalam laporannya ke Komnas HAM kemarin, perwakilan Komunitas Air Mata Guru juga menyampaikan laporan sementara sejumlah guru dan alumni siswa yang mendapat intimidasi dari berbagai pihak. Intimidasi itu antara lain berupa tekanan untuk mengundurkan diri dari sekolah, membuat pernyataan untuk tidak melaporkan kecurangan yang terjadi di dalam kelas, hingga tekanan-tekanan psikologis yang membuat guru merasa tidak nyaman di sekolahnya saat ini. Sebelumnya, permohonan perlindungan kepada Komnas HAM juga dilakukan sejumlah guru di Jawa Barat, 30 April. Mereka mengeluhkan intimidasi dalam pemeriksaan yang dilakukan Inspektorat Jenderal Depdiknas. Langkah para guru Medan itu didukung Education Forum dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sumatera Utara. Habib Chirzin, anggota Komnas HAM Komisioner untuk Hak atas Pendidikan dan Iptek mengatakan, akan segera menindaklanjuti laporan para guru ke Komnas HAM. Setiap guru yang mendapat intimidasi diminta untuk menulis surat pernyataan mengenai ancaman yang diterimanya. (ELN) [Non-text portions of this message have been removed]
