Data awal yang dikelola Yanti adalah data kekerasan Pol. PP terhadap orang miskin di Jakarta. Data ini diambil karena sudah semakin sewenang-wenang perilaku Pol. PP di lapangan, bahkan Pol. PP relah membunuh anak 14 tahun yang sedang bekerja menjadi Joki 3 in 1, Irfan Maulana namanya, pada tanggal 8 Januari 2007 di Kebayoran Baru.
Data ini menunjukkan bahwa Pol. PP adalah eksekutor terdepan yang berhadapan dengan orang miskin dari sebuah kebijakan kota dan pemerintahan yang anti orang miskin. Orang-orang miskin melulu dipaksa menerima stigma yang dapat memperkeruh keindahan kota metropolitan. Bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat kota yang merasa dirinya mapan dan menjadi bagian dari "keindahan kota". Tahun ini saja Pemrov DKI Jakarta sudah menganggarkan dalam APBD sebesar lebih dari 46 miliar rupiah untuk menangkapi orang-orang miskin. Target kelompok yang menjadi objek tangkapan Sutiyoso adalah pengamen, PKL, PSK, gepeng, pemulung, dll, ditambah penggusuran. Gila! satu PSK saja diangkakan sebesar 3 juta rupiah. Selain itu orang-orang miskin ini diminta untuk menebus uang bebas bagi dirinya sendiri, setelah itu ditangkapi kembali, mendapat uang kembali dari APBD dan disuruh tebus kembali. Inilah pundi-pundi pemrov DKI Jakarta, cermin pemerintahan korup. Pandangan ini juga terjadi di daerah-daerah lainnya. Saatnya kota menjadi milik semua. Saatnya kota memanusiakan warganya. ----- Original Message ---- From: luka_igna <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, May 10, 2007 4:07:14 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kekerasan terhadap Orang Miskin di Jakarta Begitulah kiranya jika aparat menilai hanya dari luarnya saja, tanpa melihat lebih jauh kedalam. Lalu apakah orang kaya lebih baik dari orang-orang yang miskin, dengan segala keterbatsannya mereka hanya mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup. Lalu apakah pantas sebagai pengayom masyarakat kok malah menganiaya masyarakat miskin. salam igna
