Oleh ST SULARTO
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/11/Sosok/3525086.htm
=========================

Jumat (4/5) pekan lalu Dawam Rahardjo (65) banyak tersenyum. Aula
Universitas Paramadina di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, penuh. Seiring
dengan 65 tahun usianya, diluncurkan buku Demi Toleransi Demi
Pluralisme, kumpulan 31 esai yang dieditori Ihsan Ali-Fauzi, Syafiq
Hasyim, dan JH Lamardy.

Saya gembira, teman saya masih banyak," katanya saat menerima ucapan
selamat. Hadir di antaranya Menteri Meutia Hatta, Nono Anwar Makarim,
Syafi'i Anwar, Bambang Ismawan, Siti Musdah Mulia, juga rekan-rekan
baru Dawam dari Komunitas Eden dan Ahmadiyah. Dengan bersemangat, ia
membubuhkan tanda tangan di halaman awal buku setebal 464 itu.

Dawam mengatakan, "Teman saya masih banyak walau saya merasa
akhir-akhir ini ditinggalkan oleh teman-teman lama." Abdul Rachman,
pimpinan Komunitas Eden, menggolongkan Dawam sebagai orang yang mau
dialog dan bertanya tentang kepercayaan mereka.

Menurut Abdul Rachman, dalam interaksi Dawam dan Komunitas Eden ada
kepentingan lebih besar, yakni kebangsaan dan pluralitas Indonesia.
Dawam mengatakan, "Saya tak peduli kata orang. Dibilang Komunitas
Eden, enggak apa-apa. Ahmadiyah tidak apa-apa, asal jangan bilang saya
Muhammadiyah."

Di mata Dawam, toleransi bukan tanda kelemahan. Dengan memahami
kepercayaan, agama, dan komunitas lain, dia merasa memahami akidah
Islam dengan lebih baik.

Esai-esai dalam Demi Toleransi Demi Pluralisme menegaskan sosoknya
yang toleran sekaligus pluralis. Sikap hidup itu berkembang lewat
pergulatan. Berlatar belakang disiplin ilmu ekonomi, ranah
pemikirannya meluas pada persoalan-persoalan kemasyarakatan.

Dawam tak hanya memberi sumbangan besar bagi pengembangan ilmu-ilmu
sosial di Indonesia, tetapi juga pengembangan semangat pluralitas dan
toleransi membangun Indonesia yang majemuk-plural. Ke-31 tulisan
sebagai "hadiah buku" untuk Dawam menjadi simbol pengakuan atas
kepeloporannya sebagai ekonom, penggerak aktivis LSM, pluralis dan
toleran.

Prof Ahmad Syafi'i Maarif menggolongkannya sebagai "sang intelektual"
yang beranah dalam dunia penuh tantangan, siap diejek, dicemooh, dan
dipojokkan. Dalam belantara pemikiran keagamaan, Dawam adalah salah
seorang tokoh neo-modernisme Islam.

Greg Barton, ahli NU dari Australia, menempatkan Cak Nur, Mas Djohan,
Bung Wahib, Gus Dur sebagai empat pelopor neo-modernisme Islam
Indonesia. Dawam dikecualikan. Padahal, pada era 1960-an, sebagai
mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, dia intensif
berdiskusi dengan tokoh Ahmad Wahib.

Hadimulyo, rekan dan "murid"-nya di Lembaga Penelitian, Pendidikan,
dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES), mengelompokkan Dawam sebagai
intelektual aktivis. Majalah >f 9002f 9001< jurnal yang diterbitkan
LP3ES tahun 1980-an, menjadi >f 9002f 9001< menyangkut pemikiran
ekonomi-sosial-politik bahkan agama.

Dawam juga melakukan penelitian, menganalisis, dan menelurkan
pemikiran-pemikiran yang menerobos yang menguatkan posisi masyarakat
warga. "Mas Dawam adalah generasi pertama kaum strukturalis dan
neomarxis yang melahirkan aktivis muda Islam yang progresif, terutama
lewat LP3ES dan Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M),"
ungkap Bonnie Setyawan, aktivis dan bekas "murid"-nya.

Daniel Dhakidae yang bekerja sama dengan Dawam di LP3ES, menulis, "Dia
pribadi yang kompleks. Seorang ekonom tangguh tetapi berteologi Islam
yang sama fasihnya dengan profesional di bidang itu. Dia bisa bekerja
dengan statistik rumit, namun pada saat sama bisa berkarya sastra yang
subtil, menulis cerpen yang mengasyikkan."

Mengenai sikap toleransi, di mata Frans Magnis-Suseno, agama tak
pernah diartikan Dawam sebagai teori atau ideologi saja. Agama adalah
kewajiban untuk membuat kehidupan bagi mereka yang lemah, tersingkir,
tereksploitasi, tertindas, untuk hidup menjadi lebih ringan. Sebagai
ahli ekonomi, dia memberi perhatian kepada ekonomi kerakyatan.

Keberadaan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang tahun 1980-an
menjamur, tak lepas dari sosok Dawam. Bonnie Setiawan menggolongkannya
sebagai tokoh pembaru LSM.

Pengakuan publik

"Hadiah buku" itu hanya potret sepintas tentang sumbangan Dawam. Lewat
buku itu dia memperoleh pengakuan publik. Karier intelektualnya
membentang luas. Dawam merambah beragam tema pemikiran dan kegiatan,
termasuk aktivitas dan kedudukan yang amat berwarna.

Beberapa tahun terakhir, Dawam tampil sebagai pelopor gerakan pembela
kebebasan. Ia aktif melakukan advokasi pembelaan jemaah Ahmadiyah,
Komunitas Eden, Jaringan Islam Liberal, Kelompok Syi'ah, dan kaum
minoritas lain. Ketika isu RUU Antipornografi dan Pornoaksi marak, dia
turun ke jalan memimpin massa pembela kebebasan.

Ketika kesehatannya menurun dan terbaring di rumah sakit, dia
berkomunikasi dengan dunia luar lewat tulisan. Tetapi, justru di rumah
sakit itu ia mengalami masa paling produktif, sejumlah buku dihasilkan.

Jiwa seninya sesekali hadir lewat cerpen-cerpen. Kisahnya subtil dan
berangkat dari realitas yang sedang hangat. Salah satu cerpennya,
Wirid, terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Kompas tahun 1995.
Cerpen yang melankolis itu dia tulis 10 hari setelah istrinya, Zainun
Hawariah, meninggal dalam usia 49 tahun.

"Waktu muda saya ingin jadi musikus, tetapi bapak tidak suka dan gitar
saya dibanting," katanya mengenang. 

Kirim email ke