http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/11/Politikhukum/3525343.htm
======================

Jakarta, Kompas - Umat beragama Indonesia merupakan pangsa pasar
potensial provokasi atas nama agama. Keragaman keyakinan, kemiskinan
yang masih melingkupi, serta gencarnya infiltrasi faham keagamaan
transnasional membuat potensi gesekan antar-umat beragama sangat
tinggi. Jika umat tak siap menghadapi, integritas nasional dapat terancam.

Presiden World Conference of Religions for Peace sekaligus Ketua Umum
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi dalam Pertemuan Tokoh
Lintas Agama di Jakarta, Rabu (9/5), mengatakan, umat beragama saat
ini belum memiliki impunitas atas berbagai provokasi yang ada.
Kepercayaan umat terhadap tokoh agama juga mulai memudar.

"Provokasi akan terhenti jika umat masih percaya dengan tokoh
agamanya," kata Hasyim.

Setiap agama di Indonesia memiliki banyak sekte keagamaan. Kondisi
tersebut semakin menyulitkan upaya untuk mewujudkan persatuan dalam
keberagaman.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt Andreas A
Yewangoe mengatakan, pluralitas agama tidak perlu dikhawatirkan akan
mengarah kepada sinkretisme.

Uskup Agung Jakarta Kardinal Julius Darmaatmadja SJ mengatakan, agama
harus mampu menyejahterakan umat manusia tanpa memandang latar
belakang keyakinannya. Karena itu, gereja harus mampu menebar kasih
yang jujur tanpa pamrih kepada siapa pun.

Namun, upaya gereja ini sering kali diinterpretasikan sebagai
penyebaran agama. Padahal, penyebaran kasih tersebut merupakan upaya
untuk merefleksikan pengabdian manusia kepada Tuhan.

(MZW) 

Kirim email ke