Pak Kartono,
Saya pribadi amat menikmati artikel ini PAk. Saya tidak membaca komentar2
sebelumnya kecuali yang terakhir ini. Namun, saya terusik untuk memberikan
komentar seadanya. Buat saya, tulisan ini mengandung daya refleksi moral yang
amat tajam yang membuka ruang horison kita dengan realitas sehari2, tidak
terkecuali dengan keadaan centang perenang potret kehidupan berbangsa kita.
Dalam bahasa yang amat sederhana, tulisan Pak Kartono telah mencoba menggelitik
bawah sadar moralitas berbangsa secara metaforis dengan mengangkat "jarak
keberadaan Sang Khalik" menjadi alat ukur atas potret moralitas berbangsa.
"Jarak" dalam pengertian metaforis menjadi semacam titik tolak moral. Dngan
pemahaman seperti ini, menjadi aneh bila ada yang mempersoalkan jarak
keberadaan Sang Khalik dalam pengertian yang sebenarnya. Ada dua poin yang saya
tangkap dari tulisan ini.
Pertama: Makna Tuhan di Dalam, Tuhan di Luar sesungguhnya lebih dimaksudkan
sebagai akibat/hasil, yakni akibat sikap dan tindakan manusia, dan bukan akibat
atau jarak/keberadaan yang Tuhan ambil. Bila pengertian ini yang dicerna, maka
terang saja bisa menimba tujuan esensial yang dimaksud Pak Kartono. Secara
sederhana, Tuhan di Dalam dan Tuhan di Luar adalah akibat dari wajah
kemanusiaan dan moralitas yang dikerjakan manusia. Bila baik, tentu Tuhan
menjadi dekat dan ada di dalamnya (karena manusia mendekatkan diriNya), dan
bila jahat tentu Tuhan berada di luarnya (ia menjauhkan dirinya dariNya).
begitu pengerteian sederhana yang saya maknai. Bukan begitu maksudnya Pak?
Kedua: Frase di Dalam (dari Tuhan di Dalam) dalam nalar awam saya amat mirip
pengertiannya dengan kata dekat, menjadi bagian, atau berada di samping. Maka
pengertian dekat/menjadi bagian/berada di samping menjadikan si subjek atau
seseorang untuk dapat meniru, meneladani, mendengar, dan mengikuti seruan dan
ajakanNya. Ini pengertian terdalam yang mau disampaikan dari frase ini. Dengan
demikian, pengertian spasial/ruang dalam arti sesungguhnya bergeser menjadi
suatu pengertian aktif, pgnertian moral/kemanusiaan. Demikian pun dengan frase
di Luar. Yang saya paham, frase ini amat lekat dengan pengertian jauh,
terasing, tidak kenal, acuh, tak dihiraukan sehingga menjadikan seseorang untuk
tidak taat, cuek, tidak perduli, mau enaknya sendiri, antisosial, korup, dll.
Pengertian di Luar dimaknai sebagai bentuk pengingkaran, pendustaan, tidak
ingin solider, dan menjauh demi kesenangan sendiri. Ini pengertian yang saya
tangkap. Dengan demikian, frase di Dalam dan di Luar dalam
tulisan in sesungguhnya memiliki subtansi nilai terdalam, tidak terutama
menyatakan soal spasial/jarak.
Dalam fakta sosial sehari-hari, seperti dipesankan dari tulisan Pak Kartono,
terdapat banyak aneka perilaku semu yang menjungkirbalikan pengertian sejati
dari "Tuhan di Dalam". Kerap dijumpai, praktik "Tuhan di dalam" berawajah semu,
abstrak, pura-pura, yang teramat jauh dari pengertian sejati dan aslinya.
Secara kasat mata, seolah-olah kita telah disuguhkan cerminan tindakan "Tuhan
di Dalam" seperti terlihat dalam kegiatan2 religius yang dilakukan oleh elit
bangsa. Padahal, sejatinya yang ditampakannya adalah "Tuhan di Luar". Keduanya
sering dipertukarkan untuk tujuan2 kemegahan diri. Jadi, jelas tulisan Pak
Kartono sesungguhnya ingin mengajak seluruh elemen bangsa termasuk kita untuk
menerjemahkan pengertian "Tuhan di Dalam" dalam arti sejatinya -untuk
kemanusian dan moralitas itu sendiri, bukan terutama untuk kepentingan
diri/kelompok yang pada akhirnya membalikannya menjadi "Tuhan di Luar". Hemat
saya, dengan pengertian seperti ini, kita dapat memaknai pesan terdalam
dalam tulisan tersebut. Terima kasih Pak Kartono atas buah-buah refleksi dari
tulisannya.
Salam
Robby
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.
[Non-text portions of this message have been removed]