Bung Gedehc keliru karena saya tidak mengupas itu dari sudut agama, apapun. Yang saya sampaikan hanyalah adanya pendapat berbagai pakar filsafat abad ke- 18 (dan masih dikenal hingga sekarang), lalu mencoba menerapkannya pada manusia Indonesia. Terlepas dari agama apaun yang dia anut. Kalau dikupas dari sudut agama, apalagi hanua dari satu agama, justru akan membuka front dengan mereka yang merasa lebih pakar dibidang agama daripada saya. Awak ini apalah. Saya katakan di dunia ini ada orang yang tidak percaya Tuhan itu ada. Dan itu adalah hak mereka. Ada yang percaya Tuhan itu ada tetapi sudah istirahat setelah selesai mencipta dunia dan mahluk. Ada yang mengatakan Tuhan ada tetapi sudah mati. Immanuel Kant mengajukan pendapat lain. Tuhan ada tapi tidak berada di luar kita. Ia ada di dalam kita dan itulah yang membimbing kita dalam berbuat. Artinya kita harus berbuat baik karena ada Tuhan di dalam kita. Tentu saja ada yang setuju dan yang tidak setuju dengan pendapat-pendapat itu. Itu terserah masing-masing. Kritik saya dalam tulisan itu adalah: banyak orang yang rajin beribadah, dan menyumbang pembangunan rumah ibadah, (yang Islam bahkan berkali-kali pergi haji), tapi juga melakukan korupsi, zina, memeras, menipu, bahkan memanfaatkan (menjual) Tuhan untuk memperkaya diri. Ada juga yang merasa berhak mewakili Tuhan dan menafsirkan firman-firmanNya menurut pandangan pribadi dia, lalu memaksakan agar orang lain mengikuti dia Seolah-olah tafsir dia itulah yang paling benar. Dan itu bisa terjadi pada agama apapun. Jadi tulisan saya sama sekali tidak menggunakan agama apapun, tapi memang mengkritik orang-orang yang mengklaim dirinya paling suci meski perbuatannya penuh dengan kotoran. KM
-------Original Message------- From: Bambang Riyanto Date: 11-05-2007 19:20:52 To: [email protected] Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Tuhan di Luar, Tuhan di Dalam, Pak KM Tapi jangan salah lho, dilihat satu sudut agama saja bukan berarti bebas masalah. Bukannya dalam satu agama terdapat pluralitas pemahaman juga, yang kadang-kadang bisa bertentangan satu dengan yang lain, bahkan bisa terjadi konflik pula. Beberapa kali hal ini terjadi, sekalipun tidak selalu terbuka dalam media. riyanto gedehc <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Saya baca, inti masalahnya terletak pada kupasannya yang dilihat dari beberapa sudut pandang agama atau pluralitas agama. Andaikata dilihat dari satu agama saja, agama apapun itu, orang tidak akan berpikir yang bukan-bukan atas opini dan atas keyakinan agama Pak KM. Gede H. Cahyana http://gedehace.blogspot.com
