Sekali anda posting tulisan kedalam sebuah milis maka buah fikran yang anda suguhkan itu nasibnya seumpama hidangan makanan. Kalau para penerima hidangan itu kebetulan sangat bergam dalam berbagai aspek (agama, budaya, pendidikan , latar belakang sosial-politik, profesi, hobi, jenjang usia, letak geografi, motivasi, dll) maka anda tidak pernah tahu sepenuhnya apa yaang terfikr dama benak mereka tentang hidangan hidangan itu. Mungkin ada yang tidak mau menyentuh hidangan anda dan membuangnya ke tong sampah, ada yang mengunyahnya tapi dimuntahkan dan dilempar ke muka anda, ada yang tersinggung karena dikirimi makanan berkolesterol, ada yang menelannya karena cocok rasa dan menikmatnya, ada yang akhirnya sharing resep makanan, dlsb...dlsb.
Nah, Karena kita tidak punya kontrol terhadap mereka, maka cara terbaik berkomunikasi adalah dengan memastikan bahwa anda bisa sepenuhnya mengontor diri. Tapi anda tidak akan bisa mengontorl diri selagi fikiran anda masih menganggap bahwa setiap kritikan atau bantahan terhadap buah fikiran anda itu merupakan serangan terhadap kadar intelektualitas dan harga diri anda. Kritikan mesti dianggap sebagai tantangan (challenge) untuk lebih maju dan bukan sebuah problem yang mengganjal. Ada pepatah klise mengatakan : "Challenge your limit, don't limit your challenge". Sebab dari proses belajar memenej bantahan dan kritikan sebenarnya kita sedang dalam proses menjadikan diri kita menjadi lebih kuat dan matang dalam ilmu, wawasan dan emosi. Satu hal yang perlu diingat, milis jangan dianggap seperti ruang pengadilan virtual yang memberi kesimpulan/ vonis tentang mana pendapat atau pendirian yang benar dan mana yang salah. Milis seperti ini hanyalah media dimana seseorang bisa secara mudah dan cepat sharing informasi dengan orang lain dan bertukar pandangaan. Kesimpulan dari setiap perdebatan atau diskusi pada akhirnya kembali kepada diri masing-masing. Orang boleh mempengaruhi anda dengan segala jalinan katanya seperti halnya anda pun langsung atau tidak telah mempengaruhi orang dengan tulisan anda. Tapi tentu anda sendirilah yang harus memilih dan menyimpulkan mana terbaik dan berguna untuk anda. SH On 5/11/07, Bambang Riyanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Tapi jangan salah lho, dilihat satu sudut agama saja bukan berarti bebas > masalah. Bukannya dalam satu agama terdapat pluralitas pemahaman juga, yang > kadang-kadang bisa bertentangan satu dengan yang lain, bahkan bisa terjadi > konflik pula. Beberapa kali hal ini terjadi, sekalipun tidak selalu terbuka > dalam media. > > riyanto
