Pak Satria,
   
  Kalo memang bener demikian, ini orang memang asli brengsek. Sebaiknya jangan 
didiamkan. Telusuri saja dan usut terus sampai orang ini bisa dituntut 
pertanggungjawabannya. Kalo kebiasaan seperti ini dibiarkan saja, makin ancur 
mental orang di negeri amburadul ini.
   
  Tapi, kok di paling bawah tulisannya ada sumbernya yang dirujuk dan berbahasa 
Inggris, ya?
   
  manneke

satriadharma2002 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Andri Aji Saputro ini nyontek tulisan saya bulat-bulat sampai ke 
titik dan komanya. Tulisan ini saya buat pada tahun 2005 lalu dan 
sudah dimuat di harian Tribun Kaltim. Saya tidak keberatan kalau 
tulisan saya dikutip tapi kalau hanya mengganti nama saya dengan 
namanya maka ini sudah jelas keterlaluan. Punya rasa malu sedikit 
dong.
Salam
Satria 

--- In [email protected], Satrio Arismunandar 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> KUALITAS PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA
> Oleh: Andri Aji Saputro
> 
> Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki
> peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa
> karena memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk
> kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara 
dengan
> ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM
> dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri 
semua 
> guru di seluruh dunia.
> 
> Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei
> internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization 
for
> Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal 
dengan
> nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan 
juga
> Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis 
tapi
> juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.
> Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. 
Lantas apa
> kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah 
anggaran
> pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi
> dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan
> beberapa negara lainnya.
> 
> Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam 
belajar,
> memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau
> memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di 
Finlandia
> mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan
> negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka 
justru
> lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan 
Korea,
> ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam 
> perminggu
> 
> Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada
> kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru 
dengan
> kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru 
sendiri
> adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka
> tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru
> mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 
1 dari
> 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya
> ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas 
hukum dan
> kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok 
oleh
> siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi 
dengan
> kualitas seadanya pula.
> 
> Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan 
guru yang
> berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi 
guru-guru
> dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut 
mereka bebas
> untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan 
kurikulum
> yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang
> mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian 
dan
> evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi 
kualitas 
> pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah 
yang
> menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat 
kita
> cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di
> Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa 
diukur
> dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk
> mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga
> lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
> 
> Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-
TK! 
> Inimembantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka
> sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, 
Finlandia. Dan
> kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih
> bebas.Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.
> 
> Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha 
mencari
> sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak 
jika
> mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak 
belajar
> apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. 
Disini
> guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, 
salah
> seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan
> fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa 
tertekan
> dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.
> 
> Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang
> membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-
sekolah di
> Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik 
dan
> yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.
> 
> Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai
> kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani 
> masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi
> setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai,
> umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu;
> berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak 
perlu
> untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
> 
> Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka.
> Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka 
hal 
> tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan
> menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan 
melakukan
> kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan
> nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada
> sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga 
terhadap
> dirinya masing-masing.
> 
> Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada 
segelintir
> siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem 
> pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang
> tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada
> keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam
> mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada 
yang 
> tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang
> sangat bertanggungjawab.
> 
> Diambil dari Top of the Class - Fergus Bordewich
> Original message: 1001Buku.org
> 
> 
> Satrio Arismunandar 
> Producer - News Division, Trans TV, Floor 3
> Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
> Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026, Fax: 79184558, 79184627
> 
> http://satrioarismunandar6.blogspot.com 
> 
> "If you know how to die, you know how to live..." 


         

       
---------------------------------
Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the boot 
with the All-new Yahoo! Mail  
       
---------------------------------
Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the boot 
with the All-new Yahoo! Mail  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke