Kisah yang sangat mengesankan mas Ari .. saya jadi teringat akan 
seorang tua yang kondisi "kelainan" nya sama seperti itu, tapi 
begitu gigihnya menawarkan aqua botol dingin di pertigaan jalan Daan 
Mogot kearah Green garden (dulu, sebelum krismon `97). Ditambah lagi 
bapak itu jalan nya pun agak pincang. Karena saat itu saya setiap 
pulang kantor hampir selalu tertahan di traffic light tersebut, saya 
perhatikan dia mempunyai system saat menawarkan minumannya pada 
pengendara, yang disesuaikan dengan siklus lampu dan secara berkala 
botolnya ditukar dengan yang masih dingin .. semua dilakukan dengan 
tertatih-tatih dan dengan raut muka penuh konsentrasi. Satu saat 
saya beranikan diri, saya julurkan uang padanya tanpa ingin membeli. 
Reaksinya, seperti yang saya khawatirkan, pandangannya pada saya, 
seakan saya ingin merendahkannya .. langsung saya minta maaf, saya 
selipkan ketangannya dengan cepat, karena "beruntung" lampu keburu 
hijau, berarti kita tidak keburu diskusi. Entah kenapa saya merasa 
malu dengan tindakan saya itu, karena saya terbawa emosi "iba" dan 
melupakan, bahwa masih banyak orang diantara kita yang bisa merasa 
terhina dengan "rasa belas kasihan" yang tidak pada tempatnya. 
Kemudian harinya saya sering membeli aquanya dan saya simpan di 
kulkas hingga diperlukan, sebab saya sangat jarang minum dimobil. 
Kembali ke topik .. saya sangat yakin bila negeri ini dijalankan 
oleh orang-orang bermental dan berakhlak seperti yang kita lihat 
itu .. mungkin kita tidak perlu lagi diskusi topik seperti ini.
Salam,
Bodo


--- In Forum-Pembaca-
[EMAIL PROTECTED], "Student.Women_Motivation" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Terima kasih Pak Ari. Bila kita mau merenung sejenak untuk aware, 
baik pada diri sendiri maupun lingkungan, baik kita orang mampu atau 
kurang mampu, pastilah kekerasan fisik dan kekerasan bahasa, saling 
mencela dan menista tidak akan terjadi. Hormatilah setiap pendapat 
dan keputusan seseorang. Yang penting adalah bagaimana dengan diri 
kita sendiri.
>    
>   Masih banyak contoh lain, misalnya supir angkot - ada yang ramah 
pada penumpang dan sopan berlalu lintas - ada pula yang kemaruk, 
emosi tak mau disusul kawannya, tak peduli penumpang.
>    
>   Ada pedagang kaki lima yang melayani dengan ramah dan bahagia 
dan tetap memberi makan kepada yang lebih tidak mampu dari dia, ada 
juga yang cemberut dan selalu mengeluh.
>    
>   Ada tukang sapu jalan yang semangat dan berpakaian bersih (untuk 
ukuran mereka) ada juga yang acuh, kumel, tidak peduli sekitar, 
cemberut, mengeluh. Dengan kondisi kemampuan mereka seperti itu, 
apakah senyum akan mengurangi harta mereka? Seharusnya mereka atau 
siapapun tetap dapat murah senyum. Berusaha dan jangan malas, itu 
tetap harus dilakukan.
>    
>   Apapun dan dimanapun batas kemampuan kita, jadilah yang terbaik.
>    
>   Salam aware dan bahagia untuk semua,
>   Ratna
> 
> Arifin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Bagus sekali topik yang diangkat. Saya Ari di Bali. 
Setiap pagi waktu saya
> berangkat kerja dalam perjalanan saya selalu melihat seorang loper 
Koran
> yang rajin sekali. walau hujan sekalipun dia tidak pernah kenal 
lelah,
> akhir-akhir ini di Bali sering hujan di pagi hari tapi seorang 
loper Koran
> ini tak kenal hujan kayaknya.. dia tetap melakukan kegiatannya.. 
dia tidak
> peduli bahwa dia sendiri kehujanan yang dia pikirkan hanyalah 
Koran-koran
> yang dia jual dia menutupinya dengan selembar plastik dan badannya 
basah
> kuyub.
> 
> Betapa salutnya aku pada si loper koran itu. Walaupun keadaannya 
serba
> kekurangan dan maaf dia agak sedikit cacat dan bongkok.
> 
> Best regards,
> 
> Arifin
> 
> Events Coordinator & Decorator
> 
> +62 817 683 2001
> 
> The Beverly Hills Bali
> Jl. Goa Gong, Banjar Santhi Karya
> Ungasan, Kuta Selatan-Bali 80362
> Tel : +62 361 8481 800
> Temporary Fax:+62 361 8481 888
>


Kirim email ke