Horas bung Patrick.
   
  Apa Kata Dunia? barangkali yang bisa menjawab adalah sang Naga Bonar, eh, 
bung Dedy Mizwar...
  Memang promosi Spiderman 3 sangat gila-gilaan, sampai-sampai waktu saya 
nonton di sebuah gerai studio 21 di Jakarta, tempat pop corn dan gelas kertas 
soft-drink pun bergambar Spiderman-3 ! Konon promosi ini luar biasa dahsyatnya 
untuk mengimbangi biaya produksi Spiderman 3, yang kabarnya terbesar dalam 
sejarah Hollywood sampai saat ini (USD 250 juta, CMIIW).
   
  Kembali ke film Indonesia. Kita pasti belum lupa dengan kasus meledaknya film 
AADC? (Dian Satro cs) dan Eiffel, I'm In Love beberapa tahun yang lalu.
  Tahun 80an sampai 90an, film-film Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) juga 
selalu menjadi box office.
   
  Menurut saya, apresiasi masyarakat akan film produksi dalam negri cukup 
tinggi, dengan catatan :
  - Temanya ngepop, berkisar kehidupan remaja/mahasiswa
  - didukung promosi yang efektif, misalnya road show ke 7 kota besar (Jakarta,
    Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Yogya, Surabaya) yang potensi gila
    nonton film nasionalnya cukup tinggi.
  - Timing peluncuran filmnya, misalnya berbarengan dengan liburan sekolah 
    atau hari raya (Lebaran, Natal atau Tahun Baru).
   
  Jadi Mbak Nia Dinata (kalau kebetulan juga anggota FPK), tidak perlu kecil 
hati, target market film dalam negri masih sangat luas kok Mbak. Akan lebih 
sukses lagi kalau MPI (Masyarakat Perfilman Indonesia) bisa belajar, studi 
banding dan sejenisnya ke Bollywood. Tidak perlu malu belajar kepada orang yang 
lebih sukses.
   
  Salam.

Patrick <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Pak John,

Sinetron sebagai komoditas ekspor non-migas? Haha..Boleh juga tuh
Pak. Ke negara tetangga juga boleh tuh..Malaysia juga bisa dibilang
"haus" akan hiburan spt sinetron Indonesia, spy Indonesia jgn hanya
mengekspor TKI :P 
Mengenai film Indonesia, saya juga sangat mengapresiasi film-film
non-klenik/mistis. Tapi Pak John, durasi penayangan film Indonesia yg
bergenre non-klenik/mistis di bisoskop ternyata sangat pendek.
Misalnya, film Kala yg disutradarai Joko Anwar baru-baru ini! Jujur
saja, saya bersemangat ingin menonton film itu, karena melibatkan
pemerintahan di negeri antah-berantah yg mirip dgn negeri kita
ini...Saya hendak menonton film itu ketika 2 minggu setelah film
tersebut ditayangkan, karena saya sibuk ngerjain skripsi :P
Ehh, ternyata, film tersebut sudah tidak lagi ditayangkan di
bioskop-bioskop yg ada di Bandung!! Bayangkan Pak, hanya 2 minggu!
Ternyata, memang bioskop lebih memilih utk menayangkan film Spiderman
3 yg promosinya gila-gilaan...Nahh, pemerintah kita memang sangat cuek
bebek terhadap perlakuan tidak adil terhadap film Indonesia Pak. Coba
Bpk baca di tulisan yg dibuat Nia Dinata berikut ini!! Kalau film
Indonesia diperlakukan sebagai film kelas dua di negerinya
sendiri...APA KATA DUNIA?? Berikut URL dari tulisan Nia Dinata tsb 
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/kolom/kolom-nia-dinata-umur-film-indonesia-di-bioskop-3.html

Salam prihatin,

Patrick Hutapea

Kirim email ke