Horas Pak John,

Saya mencermati gerakan & perjuangan yg sedang dilakukan Mbak Nia
Dinata serta Masyarakat Perfilman Indonesia (MPI). Intinya, mereka
memperjuangkan agar film Indonesia bisa menjadi raja di negerinya
sendiri. Tapi, gerakan MPI terlalu vertikal! Mksd saya, mereka lebih
disibukkan dengan melawan ketidakadilan yg diciptakan sistem (baca:
aturan/perundang-undangan). Lihat saja kunjungan MPI baru-baru ini ke
gedung baru Mahkamah Konstitusi (MK).... [biaya pembuatan gedung MK
hampir mencapai Rp. 200 miliar (Kompas,16/04/07), maaf PAk John, Out
Of Topic...Tapi, APA KATA DUNIA??! Utk gedung saja,MK menghabiskan
duit rakyat hampir Rp. 200 miliar]...

Kembali ke MPI...
Sepertinya, MPI terinspirasi dgn perjuangan Aliansi Jurnalis
Independen (AJI)...Ini menurut saya loh Pak! Mungkin pengamatan saya
kurang cermat! 

Saya juga sepakat dgn Pak John, kenapa MPI tidak mau belajar ke
Bollywood? Jujur saja, saya bukan penikmat film Bollywood. Tapi, saya
mengakui kesuksesan industri film Bollywood yg mengangkat martabat
film India di negerinya sendiri! Tidak hanya itu, bbrp pihak asing
sudah mulai menggunakan industri film Bollywood sbg tempat
"outsourcing", spt. pembuatan Special FX, sound recording, dll...Bravo! 

Nah, belajar ke Bollywood? Kenapa  tidak?!
Maju terus MPI..

Salam film Indonesia :-)


Patrick Hutapea




--- In [email protected], john simon
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Horas bung Patrick.
>    
>   Apa Kata Dunia? barangkali yang bisa menjawab adalah sang Naga
Bonar, eh, bung Dedy Mizwar...
>   Memang promosi Spiderman 3 sangat gila-gilaan, sampai-sampai waktu
saya nonton di sebuah gerai studio 21 di Jakarta, tempat pop corn dan
gelas kertas soft-drink pun bergambar Spiderman-3 ! Konon promosi ini
luar biasa dahsyatnya untuk mengimbangi biaya produksi Spiderman 3,
yang kabarnya terbesar dalam sejarah Hollywood sampai saat ini (USD
250 juta, CMIIW).
>    
>   Kembali ke film Indonesia. Kita pasti belum lupa dengan kasus
meledaknya film AADC? (Dian Satro cs) dan Eiffel, I'm In Love beberapa
tahun yang lalu.
>   Tahun 80an sampai 90an, film-film Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro)
juga selalu menjadi box office.
>    
>   Menurut saya, apresiasi masyarakat akan film produksi dalam negri
cukup tinggi, dengan catatan :
>   - Temanya ngepop, berkisar kehidupan remaja/mahasiswa
>   - didukung promosi yang efektif, misalnya road show ke 7 kota
besar (Jakarta,
>     Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Yogya, Surabaya) yang
potensi gila
>     nonton film nasionalnya cukup tinggi.
>   - Timing peluncuran filmnya, misalnya berbarengan dengan liburan
sekolah 
>     atau hari raya (Lebaran, Natal atau Tahun Baru).
>    
>   Jadi Mbak Nia Dinata (kalau kebetulan juga anggota FPK), tidak
perlu kecil hati, target market film dalam negri masih sangat luas kok
Mbak. Akan lebih sukses lagi kalau MPI (Masyarakat Perfilman
Indonesia) bisa belajar, studi banding dan sejenisnya ke Bollywood.
Tidak perlu malu belajar kepada orang yang lebih sukses.
>    
>   Salam.


Kirim email ke