Mas Bambang, kalau tidak salah pada zaman pemerintahan Pak Harto doeloe, 
diadakan lomba kebersihan antar kota, pemenangnya mendapat hadiah "Adipura" 
sebagai kota terbersih.
   
  Dan memang, kota yang mendapat penghargaan "Adipura" benar-benar bersih, 
pedestriannya rapi jali, dll. Orang Yogya bangga dengan Malioboro, orang 
Semarang bangga dengan Simpang Lima (ini contoh kota yang mendapat Adipura pada 
masa itu). Tidak ada PKL yang berjualan di pedestrian, orang tertib membuang 
sampah basah dan kering di tempatnya, dll.
   
  Entah apakah lomba kebersihan seperti itu masih ada pada saat ini? 
   
  Salam. 

bambang adhiono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Masalah pedestrian atau kaki lima di kota kota besar terutama, di 
Indonesia adalah bagian ke 1000 bagi para pengambil keputusan di pemerintahan, 
bagi para perencana kota apalagi bagi developer yang pada umumnya hanya 
memperhatikan kawasannya saja.....sebodo amat dengan yang ada diluar pagarnya.
Tentu tidak seimbang bila hanya memperhatikan atau mengurusi pedestrian di 
jalan Thamrin Sudirman di Jakarta, itu adalah kawasan etalase atau showspacenya 
Jakarta atau bahkan Indonesia......coba saja berbelok sedikit dari jalan 
Thamrin Sudirman...ouwww ...amburadul, penuh kontradiksi.
Bila memperhatikan undang undang jalan raya, hampir semua jalan raya seharusnya 
memiliki pedestrian........atau kakilima, kalau membuat kaki lima tentu ada 
aturannya.....tidak usah senyaman di Orchad Road nya Singapura, cukup lebarnya 
sesuai aturan...ya...5 feets (lima kaki) saja.....diberi peneduh pohon yang 
rindang....diberi pengaman dari terjangan kendaraan.......atau deretan pohon 
perindang sekaligus sebagai barrier dari roads. Apalagi kalau penyelesaian 
akhirnya ....atau lapisan permukaan pedestrian dibuat bener, ...kalau berundak 
ya...yang nyaman...mungkin cukup 20 cm, jangan 40 cm seperti saat ini....ada 
kemudahan untuk diffable person....Janganlah pedestrian itu naik turun tidak 
keruan, lebih baik jalan masuk kegedung untuk kendaraan yang dikalahkan, 
daripada pedestriannya. Payah.
Bila Jakarta saja yang dipakai contoh......., lihatlah pedestrian yang beratap 
didekat patung pak Dirman, ...tangganya lumayan menyusahkan....atau ramnya 
menurun yang kalau hujan licin.....dipikirkan oleh para perencana 
kota..??...Tidak, karena mereka tidak pernah berjalan kaki di pedestrian.
Bagian yang lebih jauh dari showspacenya Jakarta, tapi masih di jalan 
protokol.....Jalan Gatot Soebroto misalnya, dibuatlah pedestrian itu aman dan 
jaman maunya....tapi lihatlah, pohon tumbuh di tengah pedestrian, permukaan 
pedestrian 50 cm dari muka jalan....hingga orang kesusuhan kalau melangkap dari 
zebra cross ke pedestrian...permukaannya licin sehabis hujan.....banyak bekas 
lobang galian kabel telepon
Itu adalah bagian jalan protokol ibu kota negara.....bagian yang lain tentu 
lebih parah....yang ini baru penyediaannya pedestrian untuk pejalan 
kaki.....bagaimana penggunaanya? Kita tahu bahwa pengguna sepeda motor adalah 
warga negara pengguna jalan raya yang paling biadab.......tidak ada kemacetan, 
tidak ada kesusahan dijalan raya.....hanya perlu bersabar 2 menit....naiklah ke 
pedestrian......banyak sisi pedestrian juga dipakai berdagang, jadi warung 
makan, jadi tempat parkir, jadi bengkel, jadi kantor pengemis pencopet dan 
pemalak.....nah....tidak lupa pula jadi pangkalan taxi, mobil Polisi 
Pamongparaja, mobil polisi lalu lintas.....lengkaplah penyalah gunaan 
pedestrian.
Bagaimana penyediaan pedestrian di kota kota besar lain di Indonesia, diluar 
kesalahan penggunaan ....di Jogjakarta misalnya, berjalan kaki dari alun alun 
utara menuju jalan Malioboro, jalan P Mangkubumi, jalan Sudirman....terus 
sampai jalan Adisucipto...cukup memadai, beberapa bagian dengan peneduh dan 
pelindung seperti di depan RS Bethesda.
Di Manado....sepanjang boulevard....tersedia pedestrian, tapi masih seperti 
bagian pedestrian lain....selalu penuh lobang, naik turun.....dan saat ni sudah 
dibebaskan dari PKL.....sayang masih terlalu gelap unuk nyaman.
Berjalan kaki di sepanjang jalan Pemuda...atau mulai dari stasiun Gubeng, jalan 
Pemuda, jalan Tunjungan, jalan Gemblongan sampai tugu Pahlawan.....ada 
pedestrian, nyaman di sepanjang jalan Tunjungan....tetapi dibagian lain panas 
menyengat disiang hari....kecuali di jalan Pemuda yang penuh pohon perindang.
Di kota kota kecil seperti Purwokerto, Pati, Tomohon, Lamongan, 
Sragen,Prabumulih, Mataram berusaha untuk memberi kenyamanan pengguna 
pedestrian dengan segala kekurang tahuan aparat pemerintah kota dan perencana 
kota, bahwa pedestrian bukan hanya sekedar ada...akibat dari pelebaran jalan 
raya.
Dan itu baru sekedar di ruang pamer kota......untuk menunjukkan bahwa 
"kami"sudah bekerja untuk rakyat...pengguna pedestrian.
Jadi jangan bermimpi pengguna pedestrian akan "dimanjakan" dengan pedestrian 
yang nyaman........kalau diingat kalimat "keadaan lalu lintas (jalan raya) 
menunjukkan tingkat keberadaban bangsa" maka cermin jalan raya itulah kondisi 
bangsa ini dan pengguna pedestrian dapat diibaratkan unsur ter kecil terendah 
dari anak bangsa.....paling kanan jalur cepat untuk yang paling berkuasa, 
paling kaya....terus kekiri dan pedestrian cermin yang paling tak berdaya dan 
paling miskin.
Sallam, 

Kirim email ke