EK = Ratna, Pak John. Hehehe ... maaf jika ratna hanya menyebutkan satu saja, 
karena itu yang senior dan banyak cabangnya dan ratna pernah beberapa kali 
menggunakan jasanya. Jika ratna mencantumkan "nama" dalam milist ini, sungguh 
tidak ada maksud apapun. ratna hanya ingin berbagi mengenai hal-hal baik dan 
positif. Seperti juga ratna pernah posting mengenai PKBI yang sudah banyak 
membantu ratna dalam memberikan pembinaan kepada anak-anak asuh ratna.
   
  Home Schooling sangat bagus. Bisa lebih mencakup internasional. Namun jika 
yang benar-benar hanya home schooling saja, dan melulu, hanya dengan internet 
tok, maka sisi sosialisasi anak akan menjadi kurang terasah. Jadi kembali 
dituntut kepekaan orangtua untuk aware dan paham mengenai kemampuan anak-anak 
mereka masing-masing, sehingga orangtua dapat memberikan yang terbaik untuk 
anak-anak ini.
   
  Wah ... kalau anggota FPK bersedia dan berminat jadi relawan pengajar, 
alangkah indahnya. Anak-anak asuh ratna pasti bisa jadi lebih terbuka cakrawala 
pengetahuannya. Pak John janji ya, jika nanti ratna minta jadi pengajar, Pak 
John akan bersedia? Terima kasih sebelumnya. Eh ngomong-ngomong Bapak 
tinggalnya dimana, apakah memungkinkan untuk mengajar di tempat ratna?
  Anak asuh ratna ada juga yang berangkat sekolah setiap hari jam 5 pagi dari 
rumah loh Pak.
   
  Salam,
  Ratna
  

john simon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Mas (atau Mbak?) EK, hahaha...wah nanti jangan-jangan ada yang 
protes, kok cuma Johnny Andrean yang dipromosikan di FPK? Lalu disusul ada 
anggota FPK yang mempromosikan May-May, Cay-Cay dll...repot :P

Setuju sekali, selain memperhatikan capability anak, kualitas sekolah juga 
perlu diperhatikan, dan ujung-ujungnya duit (sesuai dengan kemampuan).
Yang membuat saya prihatin, trend yang marak disini adalah orang mengelola 
sekolah sebagai bisnis semata.

Seperti uraian anda, masih untung kalau harga (biaya sekolah) mahal namun 
kualitasnya sepadan. Repotnya kalau mutunya cuma pas-pasan tapi biayanya mahal, 
ibaratnya kita makan di restoran franchise yang mahal, namun rasanya kalah jauh 
dengan warung soto kaki lima.

Mungkin sudah saatnya pendidikan alternatif seperti home schooling (pernah 
dikupas tuntas di Kompas) mulai mendapat perhatian dari Pemerintah, masyarakat, 
dan (kalau berminat) anggota FPK sebagai relawan pengajarnya.
"Take action, miracle happens." (mengutip motivator Tung D.W).

Salam.

Kirim email ke