Mbak Wulan, membaca tulisan Mbak Wulan saya jadi ingat
anak-anak di daerah saya. Ketika saya SMP dan SMA
dulu, saya harus berjalan kaki sekitar 20 km untuk
bersekolah dengan uang saku seadanya, namun kami tetap
semangat, dan tidak kalah prestasinya dengan
teman-teman yang tinggal dekat sekolah. Waktu itu kami
belajar dengan lampu teplok karena belum ada listrik
di kampung kami. Belum lagi sepulang sekolah mereka
tetap membantu orang tuanya mengerjakan pekerjakan
pekerjaan di rumah/ladang.

Alhamdulillah, walaupun dengan keadaan seperti itu, 
orang tua juga tetap semangat menyekolahkan anaknya
sampai ke bangku SMA. jadi anak dan orang tua
sama-sama hidup prihatin untuk mencapai cita-cita si
anak. Sebenarnya kendala untuk mencapai pendidikan
yang lebih tinggi pada anak-anak bukan hanya faktor
biaya (walaupun biaya merupakan faktor utama), tapi
semangat anak-anak itu sendiri dan orang tuanya. Kalau
ada kemauan pasti ada jalan. 

Beberapa hari yang lalu saya melihat beberapa
anak-anak SMP sedang berkumpul di warung dan merokok.
kata si pemilik warung mereka membolos....Duh saya
prihatin sekali, mereka yang pagi-pagi disiapin
sarapan pagi, diberi uang saku yang cukup, malam
dibimbing belajarnya tidak punya kesadaran untuk
sekolah. sementara nun jauh disana, banyak anak-anak
yang kekurangan dan harus jalan kaki yang jauh, tetap
semangat untuk bersekolah................

Terima kasih.


> dyatmika wulan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Jadi ingat novelnya Andrea Hirata, Laskar
> Pelangi dan Sang Pemimpi. di novel itu diceritakan
> tentang anak-anak dari Bangka, Belitung, yang punya
> keinginan kuat untuk bersekolah, meski dengan
> fasilitas yang serba terbatas. Di situ juga
> diceritakan salah satu anggota LAskar Pelangi yang
> setiap hari menempuh jarak 80 km dengan sepeda hanya
> untuk sekolah. Tapi jangan bayangkan jalannya
> beraspal lurus, dia bahkan harus melewati rawa yang
> banyak dihuni buaya. namun Ia tak pernah telat dan
> tak pernah bolos seharipun! bahkan Ia menjadi murid
> paling pandai di sekolah itu, bahkan di Ia sanggup
> beradu kepintaran dengan seorang guru lulusan S2.
> namun sayang, kerena kematian ayahnya, terpaksa Ia
> harus berhenti sekolah dan menggantikan ayahnya
> untuk menjadi tulang punggung ekonomi keluarganya.
> sungguh cerita yang sangat miris.....
> 
> Saya yakin, masih banyak Lintang-Lintang yang lain
> di negeri kita ini. cuma sayang kebanyakan dari
> mereka mungkin terhambat untuk menggapai prestasi
> karena (paling besar) masalah ekonomi. 
> 
> belum lama ini saya dan dua orang teman ditugaskan
> di daerah Tasikmalaya, di mana anak2 disana harus
> menyeberang sungai dengan arus deras untuk
> bersekolah (mungkin topik ini pernah diliput semua
> media cetak atau elektronik di sini). di sana saya
> bertemu dengan Badru, seorang anak kelas IV SD, usia
> 12 tahun (dia pernah tampil juga di sebuah program
> anak beberapa TV Nasional). Si Badru ini sangat
> ketika ditanya cita-citanya berkata bahwa Ia ingin
> menjadi karyawan TV. dugaan saya karena Ia banyak
> melihat teman-teman dari media elektronik yang
> meliput, dan Ia merasa excited kamera video yang
> bisa merekamkan banyak hal. Melihat ketertarikan
> Badru salah seorang teman meminjamkan kamera
> fotonya, dan hasil bidikannya sungguh di luar
> bayangan kami. sangat Natural dan bisa menceritakan
> sekolah dari sudut pandangnya... kami bersepakat
> bahwa Badru mempunyai kecerdasan, daya pikir dan
> imajinasi yang hebat. hal ini kami simpulkan bukan
> hanya melihat dari foto-foto hasil karyanya, namun
> juga cara dia berkomunikasi dengan kami dan
> bercerita tentang gagasan2 dia. tak hanya Badru,
> saya juga bertemu dengan Resti yang sangat cerdas
> mengerjakan hitungan-hitungan matematika. 
> 
> Sebetulnya sangat disayangkan anak-anak itu hidup di
> tempat yang fasilitas pendidikannya sangat minim. di
> tempat tersebut belum ada listrik, angka putus
> sekolahnya masih sangat tinggi. hal ini sebagian
> dikarenakan faktor ekonomi, juga jauhnya sekoalh
> dari desa mereka. Ketika saya sudah kembali ke
> Jakarta, saya masih suka sedih jika teringat
> mereka... tapi saya juga bangga melihat semangat
> mereka. Mereka adalah anak-anak yang dibesarkan oleh
> kesulitan, namun talk memandang semua itu sebagai
> kesulitan ...
> 
> Mungkin diperlukan lebih banyak lagi orang-orang
> yang mau peduli terhadap pendidikan anak di
> Indonesia. Pemerintah juga semestinya memberikan
> lebih banyak lagi untuk pendidikan anak-anak
> Indonesia, terutama mereka yang berada di daerah
> pelosok.. .Saya yakin jika anak-anak kita dibekali
> moral serta pendidikan yang memadai, bangsa kita
> akan menjadi bangsa yang kuat kelak. Namun saya
> melihat, inilah yang tersulit untuk dilakukan di
> (terutama Pemerintah) Indonesia. Mungkin inilah
> saatnya bagi kita, yang berlebih untuk memberi
> sedikit bagi mereka yang kekurangan.
> 
> Salam

Kirim email ke