Horas Ibu Lasma.
Saya rasa, bangsa manapun di dunia akan menghargai dan respek kalau kita
berkomunikasi dengan memakai bahasa dan intonasi yang santun, halus namun
berisi.
Sebagai ilustrasi ringan :
Bayangkan jika anda datang ke sebuah concert musik klasik di JCC Senayan,
kemudian anda berteriak-teriak (walaupun dengan bahasa yang santun). Saya yakin
anda akan di "persona non grata" kan oleh petugas keamanan di sana.
Demikian pula kalau anda sedang diundang rapat kerja di kantor, kemudian anda
dengan intonasi yang lembut namun mengucapkan - maaf - makian, bisa anda
bayangkan, mungkin anda akan mendapat sanksi keras, atau PHK dari atasan anda.
Intinya Ibu Lasma, bangsa Indonesia masih menghargai orang yang berbicara dan
memakai intonasi yang santun.
Mungkin anda bertanya, bagaimana kalau sedang berada di pelabuhan Tanjung
Priok yang - maaf - lingkungannya senang memakai bahasa yang "kasar", atau
mobil anda tiba-tiba ditabrak dari belakang, apakah anda masih bisa memakai
bahasa dan intonasi yang santun?
Jawabannya kembali kepada hati nurani masing-masing.
Salam.
Lasma siregar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Apakah 100% benar bahwa kita ini bangsa yang santun dalam
tradisi berbahasa saat ini (2007)?
Basa basi, santun dan pantun serta tradisi memang bagus dan
indah, tapi kadang-kadang dalam menghadapi kenyataan juga
perlu sekali menggunakan bahasa yang "tegas, jelas dan singkat
(tanpa bertele-tele)" plus mudah dimengerti!
Para intelektual, tokoh masyarakat plus para ulama semua agama,
perlu menyampaikan apa yang dimaksud (intinya apa?) tanpa perlu
berkaok-kaok sampai 3 jam atau lebih...
Kawan kami sering pakai kaca mata hitam, katanya, agar orang tak
bisa tahu "apakah masih melek atau sudah ketiduran" dirinya...
I can understand that, amigo!
Bagaimana pendapat kalian rekan-rekan yang santun dalam tradisi
berbahasanya?
Apakah kalian masih suka berpantun atau lebih suka pakai bahasa
jalanan (pergaulan)?
Salam
Las.