dear all dan bung Ignas juga,
diskusi ini telah memberikan opini dan pandangan yang bisa mencerahkan
dalam usaha dan keinginan kita untuk mencapai perubahan. kalau bung
ignas sepertinya adalah seorang aktivis yang sudah fasih mengutak-atik
analisa gerakan dan politik di indonesia, mungkin cukup dikenal
profilnya, karena pola permikiran dan ulasannya begitu familiar.
anyway jadi kita menyetujui dan menyepakati adanya perubahan yang
perlu dilakukan secara lebih cepat atau istilah yg lebih menegaskan
"revolusioner!", yang diharapkan bisa menjadi bahasa yang sama untuk
menyatukan pihak2x yang masih terpisah ini. hanya saja memang
turunan-turunan konsekuensi seperti yg dijelaskan bung ignas spt akhir
pencapaian yg ingin dituju, methode, dan lain sebagainya masih bisa
diperdebatkan dan memang akan berbeda.
bicara gerakan "revolusi" bukanlah semata-mata bicara untuk mencapai
keberhasilan. tapi yang lebih penting dari itu adalah melakukan, walau
itu berhasil atau tidak! No big Deal if it will not succed, but it
deal with the effort to anarchy!

memang benar ada banyak faktor yang bisa menentukan berhasil tidaknya
gerakan perubahan fundamental, dan silahkan berteori dengan segala
aliran post-mo atau apapun yang ada. namun lagi-lagi menemukan irisan
kepentingan dan kesadaran adalah memang sebuah proses melelahkan tapi
bisa saja tercapai walaupun hanya sesaat seperti ejakulasi orgasme yg
hanya 14 detik. belum lagi yang namanya politik atau kekuasaan tidak
ada yang namanya kekekalan hubungan, karena yang ada hanya kekekalan
kepentingan. kemudian orang-orang melihatnya sebagai bentuk
pengkhianatan dan lain sebagainya yang menurut saya cukup dianggap
sebagai kisah sejarah kehidupan.

saya tidak peduli dengan ada atau tidak adanya irisan kekuatan bersama
atau kepentingan yang bisa menyatu saat ini, karena hal spt itu
menjadi isu yang tidak penting dan memberi kesan seolah2x harus ada
pemimpin gerakan yang harus muncul di permukaan dan memobilisir massa
akar rumput. non cent! mitos itu. semua gerakan-gerakan yang akan
terjadi pada dasarnya adalah peristiwa alami yang bereaksi atas
ketidak-setimbangan karena melawan prinsip hukum alam atau istilah
para aktivis mungkin : "ketidak-adilan" yang jika terus dibiarkan
hanya akan tinggal menunggu waktu kembali untuk meledak. tidak peduli
apakah penguasa yang kemudian menggantikan adalah diktator,otoritarian
atau berkarakter demokrat, aristokrat, meritokrat,
teokrat, teknokrat, atau terorkrat, dsb yang penting adalah situasi
anarkis harus terlebih dahulu diciptakan.
sabotase2x transportasi sudah cukup berhasil dilakukan. para teknisi
dan pegawai rendahan telah melakukan tugasnya dengan baik, manajemen
prshn yg telalu dipress biaya ekonomi dan pungutan tinggi dan para
birokrasi serta penguasa negeri dengan kelalaian rasa mapannya juga
sedang mempersiapkan peti mati dan sedang menggali lubang kuburnya
sendiri untuk menunggu saat ajal kekuasaannya akan berakhir.

isu utama yang ingin disampaikan dari manifesto revolusi bukanlah
semata2x isue pemisahan daerah, tapi pengembalian kondisi dari
pengertian elementer sebuah "negara!" makanya disebut mencapai
kesejahteraan (pada akhirnya) dengan adanya atau tidak adanya
indonesia. target utama adalah wilayah jawa sebagai biang kerok
keboborokan dan kanker akut dari wilayah asia tenggara yang saat ini
dikuasai "indonesia" harus dioperasi amputasi. umpan balik dari
daerah, dengan gerakan pengacauan2x sektor daerah sedang terjadi dan
terus dilakukan, dan penting untuk mengalihkan perhatian pusat sebelum
menusuk tepat ke pusat jantung kekuasaan central yang saat ini
dipegang jakarta, sampai pusat lengah dan pertahanan kekusaaan bisa
diserang dari dalam dan luar. jangan kaget jika petugas kebun istana
atau security yg sudah puluhan tahun mengabdi dengan gaji hanya 500rb
perbulan bisa menempatkan bom tepat di ruang nusantara. tinggal tunggu
waktu saja pagar istana negara, markas militer, dan parlemen akan
dibakar habis massa.
aksi pemogokan akan menjadi salah satu kekuatan dan instrument
yang mungkin bisa diandalkan walaupun tanpa harus dikoordinir, dan
tidak hanya bisa dilakukan oleh para buruh tetapi juga para birokrat
yg telah "mogok" otaknya dari tugas melayani kepentingan masyarakat,
aparat militer serta polisi yg telah "mogok" moralnya krn beralih
tugas sebagai backing2x cukung dan justru perekayasa/pengacau keamanan
agar posisinya tetap diperlukan. biarkan penguasa indonesia dengan
pongahnya tetap merasa kuat sampai ditelan bumi, jadi bisa dilihat
disini tidak ada satu pihakpun yang tidak sedang melakukan anarki.
para elit penguasa pun sudah melakukan anarki hukum dengan keputusan2x
dan kewenangan hukum/yudikatif yg simpang siur antara DPR, pemerintah,
dan mahkamah pengadilan. semua usaha2x ini telah memberi pra-kondisi
untuk klimaks revolusi yg sebenarnya. dan kalaupun masyarakatnya tidak
juga mengalami kesadaran koletktif dan sinergis dalam revolusi, maka
cukuplah alam ini sendiri yang akan merevolusi indonesia

rgrds,




--- In [email protected], Ignas Iryanto
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear all, khususnya pak Haniwar, Irwank dan walah,
>
>   Saya kira kita sepakat, juga bersama yang lain bahwa harus ada
perubahan.
>
>   Tentu saja ini bukan baru dan kesepakatan ini benar benar pernah
mengkristal secara sangat keras pada 1998. Suharto mengambil langkah
strategis bagi keselamatan diri dan klannya dengan mengundurkan diri.
Pendukungnya melihat secara positif bahwa mundurnya Suharto untuk
menyelamatkan Indonesia dari kerusakan yang lebih parah. (Ini ada
pointnya). Jika langkah ini tidak diambil, bukan tidak mungkin
revolusi benar benar terjadi. Penumpasan kekuatan lama secara radikal
dan dimulainya suatu kekuatan politik baru dengan nilai nilai baru dan
bekerja secara sangat radikal akan terjadi. Ini biasanya dan idealnya
merupakan result dari revolusi (Perancis, Bolsyevik, Revolusi Amerika
dll - revolusi politik). Tapi ciri yang paling menimbulkan resiko
adalah perubahan yang terjadi dicapai dengan proses yang
inkonstitutional, dengam mobilisasi massa yang besar dan hampir tidak
mungkin menghindari ciri kekerasan dalam revolusi.
>   Suharto mundur, sering dicatat sebagai Suharto jatuh...namun toh
jatuh secara konstitutional. Yang strategis adalah bahwa mundurnya
Suharto telah secara effektif memecah kekuatan rakyat. Naiknya Habibie
membuat kekuatan langsung terpecah antara pendukung Habibie dan
pendukung perubahan total. Proses yang kemudian terjadi jelas adalah
kekalahan dari pendukung perubahan total. Lihat saja nama nama yang
sekarang masih beredar sebagai capres...wajah wajah lama yang malang
melintang dalam barisan Suharto, yaa pengawalnya...yaa penulis naskah
pidatonya dan lain lain. Kita bisa meneruskan refleksi ini namun akan
buang buang waktu dan makan space.
>
>   Ketika menanggapi I.Wibowo dalam tema Sakit untuk berubah (tulisan
asli dari Rhenald Kasali), saya memberi gambaran mengenai hukum
kelembaman / kemalasan Newton. Bahwa perubahan interaksi antara
sub-sub sistem tidak akan membawa perubahan sistem. Yang terjadi sejak
mundurnya Suharto hingga kini adalah perubahan interaksi antara
sub-subsistem dari kekuatan lama. Sistem hanya berubah bungkusnya
namun isinya tetap sama...tidak berubah. Newtonian mengajarkan bahwa
perubaha sistem hanya terjadi jika ada gaya ekxternal. Itu hanya
mungkin, jika figure yang benar benar tidak terkontaminasi dengan
kekuatan lama yang mendorong perubahan sistem.
>
>   Jadi jika pak Haniwar, atau pak Irwank atau Walah benar benar
adalah orang yang tidak terkontaminasi dengan kekuatan lama, mungkin
lebih effektif melakukan perubahan, ketimbang SBY yang jelas pasti
terkontaminasi dengan (gaya dan cara pikir) kekuatan lama.
>
>   Soalnya lalu, siapa yang mendukung ?
>   Disini lah kita bicara mengenai kesadaran kelas atau secara umum
kesadaran kelompok. Kesadaran akan adanya ketidakberesan kelihatan
cukup meluas. Namun apakah semuanya merasakan ketidakberesan itu
sebagai sesuatu yang menekan dan menyengsarakan ? Belum tentu. Jika
kesadaran akan adanya ketidakberesan sudah meluas, juga kesadaran
bahwa ketidakberesan itu juga menekan dan menyengsarakan..apakah
diikuti dengan kesadaran untuk berjuang merubahnya dengan pengorbanan
diri ? Ini menjadi makin sulit. Jika kesadaran untuk berjuang
merubahnya juga ada, apakah dapat dicapai kesamaan pendapat mengenai
bagaimana wujud Indonesia setelah berubah ? Terakhir, jika juga
terdapat kesamaan pendapat tentang wujud akhir Indonesia yang
dicita-citakan, apakah juga ada kesamaan pandangan mengenai METODA
yang harus digunakan untuk mencapai perubahan ? Pak Haniwar, pada
tahap kesadaran yang mana anda mendapat kesulitan untuk memobilisasi
perlawanan asosiasi anda thd hegemoni  kolusi Hypermarket dan
>  pemerintah ?
>
>   Jika semua kesadaran itu ada secara cukup luas, pemimpinnya akan
muncul dari kelompoknya (walaupun salah satu ciri postmo adalah tidak
ada lagi figure centre dalam gerakan sosial - lihat reformasi 1988,
siapa figure centre dari gerakan mahasiswa ? Tidak jelas) dan langkah
langkah perubahan dapat dilakukan secara konsisten dan terarah.
>
>   Revolusi tidak terjadi di tahun 1998. Diambil jalan reformasi
artinya perubahan yang diinginkan dilakukan secara konstitutional dan
juga secara gradual. Namun kita bisa mencatat bahwa semua langkah
selama 9 tahun ini, sering tidak konsisten. Mengapa ? Kembali lagi,
karena yang memimpin adalah orang orang lama. Jika Gus Dur tidak cacat
dan tidak keburu diimpeach, menurut saya dialah yang paling mendekati
figure eksternal dari kekuatan lama. Sayang faktor fisik mengurangi /
mempengaruhi kapabilitasnya dan kadang kadang over confident.
>
>   Walah mengirimkan manifesto revolusi. Saya melihat ada usaha untuk
menggunakan isue daerah / bahkan isu pemisahan daerah sebagai basis
gerakan. Maaf jika saya lebih dulu mengatakan..sulit untuk berhasil.
>
>   Mengapa tidak berjuang agar dalam perubahan UU Politik saat ini
calon independen bisa masuk bursa pimpinan. Jadi yang dilawan adalah
hegemoni parpol dalam rekruitmen elit.
>
>   Salam Nanosolidarity,
>
>   Irry
>
>
>   NB. Bagaimana kalau kita hindari saja penggunaan kata revolusi
namun sepakat bahwa yang kita bicarakan adalah perubahan yang mendasar
dari kondisi negara dan masyarakat kita dalam hal hal yang juga
mendasar dan bahwa perubahan itu harus diusahakan dalam waktu yang
tidak lama.

Kirim email ke