Maaf pak John, baru bisa ol lagi maklum.....komputernya ngadat, mungkin keliwat sering digunakan.....kurang istirahat :-)
Ya saya sangat paham akan ke galauan pak John, bila anak dididik "Kritis" bagaimana nanti bila masuk di "Real World"....tapi kan " Real World" yang pak John maksudkan itu, hanya ada di negri ini saja yang menggunakan sistem pola asuh yang Feodalistik.... "Because I said so" itu ????. Kaya nya kalo kita semua berniat untuk menjadikan negri ini menjadi negri yang terpandang dan yang di "respekt" oleh negri lain.....sepertinya..... sudah waktunya harus mem "produk" anak-anak seperti ini????? Sehingga kelak bisa terjadi interaksi yang sehat? Atau kita lebih memilih mempunyai masyarakat yang "Robotik", dan hanya mempunyai segelintir pemikir yang teramat sangat ber "Kuasa" seperti jaman Hitler dulu di Jerman atau era Orba yang lalu dan mungkin sudah sampai sekarang??????. Jadi mau menunggu sampai kapan lagi.....????Bukan kah itu berarti pembodohan Pak John????? Entahlah saya memberanikan diri untuk memulai hal seperti ini....karena saya sudah "Cape" melihat kesehatan Jiwa bangsa ini...yang semakin merosotsehingga mereka selalu memilih jalan pintas.Dan saya merasa saat ini adalah saat yang tepat untuk mengubah "Karakter Bangsa" ini.Mohon maaf saya tidak ber maksud melecehkan siapapun!!!! Mudah2an idea saya mendapatkan support dari masyarakat luas...terutama Rekan-rekan FPK yang saya perhatikan cukup kritis. Salam. Ratih --- john simon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Bu Ratih, > > Tulisan Ibu sangat bermanfaat bagi saya, > mudah-mudahan juga bisa mencerahkan rekan-rekan FPK > lainnya. > > Yang memprihatinkan saya, seperti tulisan Ibu, > anak-anak yang dididik untuk kritis, setelah > memasuki "the real world" akan berhadapan dengan > realita: > > - Harus menghormati senior (entah di sekolah atau > nantinya di kantor), terlepas > apakah senior tersebut berperilaku buruk, kalau > tidak, akan mendapat berba- > gai teror dari bullying sampai kasus ekstrim > penganiayaan fisik (sampai > tewas). > > - Anak yang kritis dianggap kurang ajar, tidak > hanya terjadi di sekolah biasa > karena kita masih memakai budaya Timur, namun > kelak juga berlanjut di > dunia kerja, karyawan yang kritis dan suka usul > ini-itu justru dianggap "car- > muk", ambisius dll. Ujung-ujungnya juga akan > mendapat bullying dari teman- > temannya. > > - Anak yang kritis kebanyakan justru sulit > bersosialisasi, karena cenderung > tidak pernah puas dengan satu jawaban, selalu > ingin berdebat untuk mencari > pencerahan. Kebanyakan malah mendapat label > sebagai "hiper-aktif". > > Salam.
