Semestinya kaitan antara kekerasan yang dilakukan institusi militer dan 
masyarakat sipil di Indonesia sudah cukup gamblang karena berkali-kali sudah 
diulas oleh banyak orang. Rupa-rupanya cuma Bung Andi aja yang nggak pernah 
denger.
   
  Pernah tau FPI? Lasykar Jihad? Komando Bela Mega? PPM? PP? Pemuda Ka'bah? 
Banser? DLLAJR? Tramtib? Satgas PDIP? AMPI? Pernah denger cerita orang 
senggolan di jalan lalu mengacung-acungkan pistol, atau ngaku-ngaku aparat? 
Pernah baca soal menjamurnya permainan perang-perangan pakai M-16 dan AK-47 
bo'ong-bo'ongan? Pernah ketemu orang sipil tapi ke mana-mana pake jaket loreng 
atau kaos bertuliskan Marine, Commando, Ranger? Pernah simak berita orang yang 
nagku-ngaku ABRI dan pake seragam supaya bisa nipu orang lain?
   
  Terlalu banyak kelompok masyarakat dan organisasi sipil yang ketularan gaya 
militer untuk bisa dibilang bahwa ini cuma segelintir kecil orang saja. Budaya 
kekerasan itu menular dengan sangat cepat dari militer ke masyarakat sipil 
khususnya di masa Orba. mengapa? Sebab militer dijadikan institusi yang paling 
istimewa dan berkuasa. Siapa yang gak kepengen punya kuasa segede seperti para 
tentara itu? Bebas gebukin orang lain, main culik dan bunuh, petentengan ke 
mana-mana, naik angkutan umum gak bayar, jadi backing judi, berani nabokin 
polisi. 
   
  Maka, yang sipil pun ikut-ikutan gaya-gayaan jadi kaya tentara. Bikin 
macem-macem organisasi dengan memakai macem-macem atribut militer, dan 
tingkahnya pun jadi srudhak-srudhuk. Bahwa pada masa pascaReformasi itu gejala 
ini kian merebak, itu bukti bahwa militerisme ini contagious alias menular. 
Orang ngerasa gagah, berani, kuat, macho, berkuasa, hebat kalo tampil ala 
militer. Inilah sebagian karakteristik maskulin yang melekat pada militerisme 
itu, dan lalu menjadi sumbu bagi banyak tindak kekerasan, baik oleh yang 
militer maupun yang sipil tapi sok militer.
   
  Jika merajalelanya gejala militerisasi sipil ini bisa rada direm, ini karena 
kerja tak pernah lelah dan tak kenal henti dari para aktivis demokrasi, 
termasuk juga para aktivis perempuan, yang cukup punya nyali untuk menyuarakan 
penentangan mereka dan membantu orang menjadi lebih kritis untuk menyikapi 
gejala ini. Bahwa akibatnya tak sampai membuat 100% orang Indonesia ketularan, 
maka kita mesti berterima kasih kepada para aktivis itu, pada akal sehat, dan 
pada hati nurani kita. Untuk melihat kaitan antara militerisme dan maskulinitas 
dengan kekerasan terhadap perempuan, cuma diperlukan membuka satu pintu 
kesadaran lagi pada diri Anda: mulailah belajar memandang pelbagai persoalan 
dengan perspektif perempuan.
   
  Tanya kepada diri sendiri: kenapa ada jugun ianfu waktu pendudukan Jepang; 
kenapa ada character assassination terhadap Gerwani oleh AD pada masa 
pasca-1965; kenapa banyak perempuan Aceh diperkosa semasa DOM; kenapa banyak 
perempuan Timtim diperkosa dalam operasi militer pembasmian Fretilin; kenapa 
ada perkosaan Mei 1998 yang diinisiasi oleh orang-orang misterius berbadan 
tegap dan berambut cepak; kenapa ada PSK diperkosa petugas Tramtib sewaktu 
operasi penertiban; kenapa ada tahanan perempuan di sel Polsek diperkosa 
petugas jaga. Yang rajin baca koran pasti masih bisa mengingat sebagian besar 
kasus yang saya sebutkan itu. 
   
  Kalo masih ora mudheng juga, silakan lontarkan gugatan atau pertanyaan lagi. 
Nanti saya jawab dengan telaten dan sabar dan penuh kemahfuman. Okay, pal?
   
  manneke
   
si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Pak Rahadian dan Pak Manneke,

Saya kembali lagi ke argumen awal. Yang dianalisis oleh Ariel adalah 
masyarakat pada umumnya; bukan komunitas tertentu. Itu sebabnya saya 
kontraskan dengan tentara, kumpulan preman, atau organisasi preman 
berbasis agama. Nilai-nilai yang mereka anut tidak otomatis sama 
dengan yang dianut masyarakat umum. Ketika dihadapkan dengan pilihan 
mati demi negara, agama, atau mata pencariannya umpamanya; 
masyarakat umum tidak akan semudah itu bilang. "Yak, saya pilih 
mati". Demikian juga orang biasa tidak akan mudah memperkosa dengan 
alasan apapun. Sebaliknya, orang-orang yang dirasuki ideologi atau 
tumbuh dengan nilai moral yang eksklusif bisa melakukan (ATAU 
MEMBIARKAN) hal-hal yang tidak akan dilakukan orang biasa.

Saya ambil contoh peristiwa Holocaust. Kondisi keterpurukan Jerman 
setelah PD I memungkinkan mereka mengobarkan PD II. Tapi peristiwa 
Holocaust hanya bisa terjadi pada masyarakat yang terasuki ideologi 
fasisme dan rasisme oleh demagog brilian seperti Hitler.

Demikian juga dengan kasus Mei 1998. Penjelasannya akan lebih 
sederhana kalau kekerasan itu dilakukan oleh orang-orang yang 
menempatkan ideologi atau konsep kepatuhan pada atasan atau uang di 
atas rasa kemanusiaannya. Komunitas semacam itu tidak sedikit 
jumlahnya, tapi juga bukan representasi masyarakat pada umumnya.

Apalagi kalau membaca penjelasan Pak Rahadian tentang pengaruh tidak 
adanya perang berkepanjangan pada tentara. Sepertinya penjelasan itu 
menyangkut psikologi tentara dan bukan psikologi masyarakat. Contoh-
contoh yang diberikan Pak Rahadian dan Pak Manneke juga adalah 
contoh perilaku kotor tentara. Bukan perilaku masyarakat. 

Analisis seperti itu juga bukannya tidak ada pembantahnya. Militer 
Singapura, contohnya, tidak pernah berperang. Kaum lelakinya, 
tentara atau bukan, harus menjalani pendidikan militer selama 2 
tahun. Tiap hari saya naik kereta dengan anak-anak muda berseragam 
loreng. Saya tahu persis di dalam pendidikan tersebut mereka diajari 
juga bagaimana menjadi manusia yang tega membunuh lawannya. Tapi itu 
ternyata tidak menjadikan masyarakat sana jadi senang kekerasan atau 
anti perempuan. 

Sebaliknya, dengan menganggap bahwa masyarakatlah yang sakit dalam 
peristiwa-peristiwa kekerasan di Indonesia seperti menafikan bahwa 
kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan bukanlah norma umum dalam 
hidup bermasyarakat. Contoh berita tentang pelecehan yang dilakukan 
polisi kemaren menunjukkan bahwa masyarakat kita tergugah 
kemanusiaannya melihat perempuan dilecehkan (bukan diperkosa) oleh 
orang yang lebih berkuasa. Dalam masyarakat yang benar sakit, 
peristiwa semacam itu pastilah akan dianggap lumrah. 

Itulah sebabnya saya meragukan; benarkah kita sebagai anggota 
masyarakat benar sanggup menonton perkosaan massal dengan bersorak 
sorai? Saya tidak sedang meragukan ada tidaknya perkosaan massal di 
Mei 1998. Saya sedang bertanya, benarkah kejadian nista itu 
dilakukan oleh masyarakat Indonesia, oleh orang-orang seperti kita 
dan tetangga-tetangga kita? Saya menangkap bahwa Ariel menjawab ya 
untuk pertanyaan itu dengan analisis murka maskulinnya. Mungkin 
pengertian saya terhadap Ariel salah, tapi saya tegas menjawab tidak.

Andi

Kirim email ke