Prof. Manneke:
Kalau riset-riset sosial selalu di-persepsikan untuk mencapai tataran 
universalitas, maka persepsi ini bisa dipertanyakan. Suatu sistem sosial 
selalu akan memiliki frame-frame tersendiri, dan ini sangat bergantung pada 
sistem nilainya tersendiri. Sebagaimana diketahui, kajian-kajian sistem 
sosial (misal kalau mengacu ke Talcott Parson), akan berawal pada kontrak 
sosial yang memuat sistem nilai, organisasi dan alokasi sumber-sumber daya, 
lalu masuk ke are engineering untuk membentuk interaksi yang mengarah ke 
keseimbangan. Repotnya, kajian-kajian sosial saat ini sangat dikuasai oleh 
aliran pemikiran empirik yang selalu membatasi ruang lingkupnya ke arah yang 
sempit-sempit. Inilah yang kira-kira dikeluhkan oleh Bu Meutia. Dan ini pula 
yang pada akhirnya membawa pertanyaan bagi seorang C. Geertz tentang makna 
ke-Indonesia-an.
Dari titik pandang ini, universalitas teori-teori sosial bisa dipertanyakan 
atau sekurangnya saya menganggap sebagai persepsi yang terlalu jauh.

Salam/WK

----- Original Message ----- 
From: manneke budiman
To: [email protected]
Sent: Wednesday, May 16, 2007 10:40 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Teori Pembangunan Sudah Mati?


Di milis ini, Ulil, kata "teori" nyaris sudah menjadi kata yang diharamkan. 
Begitu orang mulai ngomong teori, maka biasanya segera disambut dengan 
berbagai ejekan. Ujung-ujungnya, yang ditembak adalah akademisinya, atau 
bahkan ilmunya. Banyak orang ngak mau meluangkan waktu buat memahami. 
Pengennya langsung menangani, meksi kadang lupa bahwa apa yang hendak 
ditanganinya itu belum secara komprehensif dia pahami.

Riset-riset yang bersifat mikroskopik dan lokal sebetulnya mencoba 
memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang suatu kasus dalam sebuah 
konteks yang lokal. Tentu saja, dalam jangka panjang, diharapkan bahwa 
pelbagai riset pada tataran lokal ini dapat secara bersama-sama 
memperlihatkan suatu pola yang rada umum. Dari situ, riset teoretis yang 
sifatnya lebih universalistik bisa mulai diluncurkan.

manneke

Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam,
Tulisan Prof. Meuthia yang dikirimkan oleh Mas Agus di
bawah ini sudah semestinya menjadi diskusi internal
yang menarik di lingkungan ilmuwan sosial di
Indonesia.

Di tengah-tengah kondisi sosial yang kacau di
Indonesia saat ini, memang dapat dimaklumi jika semua
pihak menghendaki perubahan yang bukan saja nyata,
tetapi juga cepat.

Tetapi, artikel Prof. Metuhia sangat baik karena
memberikan peringatan bahwa sebelum soal perubahan
diangkat kedalam percakapan, soal lain juga penting:
bagaimana kita memahami kondisi dan konteks dengan
baik.

Saya senang sekali Prof. Meuthia membuka masalah yang
sudah mulai banyak dilupakan orang ini.

Ulil

Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University

Kirim email ke