Feminisme buat aktivis perempuan adalah pisau analisa, metodologi ilmu pengetahuan dalam menjawab persoalan-persoalan perempuan. (Kalau perempuan tak punya persoalan maka feminisme tidak pernah ada). Namun dalam prakteknya tidak "text book" seperti itu. Kehidupan itu beragam, banyak konteks, banyak faktor. Karena itu feminisme dalam 'laku' tidak bergantung pada satu paradigma atau satu aliram feminis saja. Prakteknya bisa dengan melakukan kombinasi.
Kalau melihat sebetulnya kebudayaan masyarakat kita dulu, terutama dikalangan petani, relasi perempuan dan laki-laki sudah egaliter. Kawan saya Wicaksono Adi kemarin baru cerita, dulu masyarakat tani di desa, dua-duanya mau tak mau harus bisa memasak dan bertani, juga mengasuh anak. Jadi aneh bila mendengar feminisme dan patriarkhi, karena tak ada persoalan lagi tentang itu. Ketika mulai ORba, muncul UU Perkawinan tentang peran gender, istri harus begini dan suami harus begitu. Ditambah lagi masa sekarang yang lebih parah, banyak kelompok yang menganggap perempuan harus di rumah karena menyerobot lapangan kerja laki-laki. (tambah tak masuk akal) Maka wajar feminisme mulai naik ke permukaan dan publik mulai banyak mendengar, tentu ia takkan ada kalau tak ada persoalan yang fundamental. Komitmen bersama tentang kepemilikan tubuh, jadi aneh saja. Karena seperti yang saya bilang sebelumnya, takkan ada pertarungan kalau keduanya sudah tau apa yang harus dilakukan. Suami saya misalnya (maaf saya mencontoh kehidupan saya terus, karena ini yang paling dekat) menghargai saya untuk memilih tidak punya anak dulu. Karena saya yang punya rahim. Dia bilang "keputusan ada di kamu, kamu yang punya rahim. Saya ikut kalau kamu sudah siap." Semuanya dilakukan dengan enteng. Maka tak usah khawatir terus soal feminisme, mau ultra, liberal, radikal, atau yang lain, mereka tidak bisa mengabaikan kebudayaan lokal. SEmua aliran feminisme ini membawa paradigma yang satu dengan lain saling melengkapi dan saling kritik. Sehingga tidak mungkin menjadi LATEN seperti kelompok teroris atau ekstrimis yang memaksa wanita-wanita di daerah-daerah memakai jilbab atau harus bisa baca qur'an kalau menikah. Mariana > Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Sepakat 100%. Maskulinitas ekstrim dengan kecenderungan > dominasi ditolak sebagaimana feminisme ekstrim dengan kecenderungan > dominasi juga ditolak. Perjuangan untuk merubah dari titik ekstrim > yang satu menuju ke situasi seimbang sering kebablasan sehingga > menuju ekstrim lainnya. Itu gejala yang bisa saja ada dan pasti ada > jika feminisme ultra liberal itu mempengaruhi feminis Indonesia. > Point saya adalah bahwa ketika memasuki lembaga perkawinan > dibutuhkan komitmen bersama. Komitmen itu dicapai jika masing-masing > rela memberikan atau malah mengorbankan sebagian hak hak privatnya. > Tubuh saya tidak lagi mutlak milik saya karena istri saya pun ikut > memiliki tubuh ini. Kira kira begitu dalam contoh yang agak ekstrim. > Begitu juga waktu luang saya. Ada sphere kecil yang jadi wilayah > privat 100 % namun itu hanya sebagian (kecil) dari seluruh sphere > yang saya miliki, KETIKA masuk dalam lembaga keluarga lewat > perkawinan. Masalah muncul kalau komitmen bersama itu diganti dengan > dominasi pada hak pribadi masing-masing. Jika itu yang terjadi.... > perkawinan tanpa komitmen bersama, yaa bubarlah. > Salam, > Irry
