Betul mbak. Persoalan patriarkhi tidak tergantung pada jender. Indira Gandhi
memerintah India cukup lama tetapi tidak berupaya menghapus praktik
penyiksaan perempuan karena masalah "dowry". Megawati juga perempuan tetapi
ragu-ragu ketika disodorkan RUU KDRT.  Konon dia bilang mosok masalah
pertengkaran rumah tangga harus dibawa ke undang-undang. Ada perempuan dari
Afrika yang berbicara dalam salah satu talkshow tv perancis beberapa tahun
yang lalu tentang praktik genital mutilation di negerinya. Dia malah
mengatakan sudah seharusnya hal itu dilakukan untuk mengendalikan syahwat
perempuan.
Banyak perempuan yang terjebak dalam budaya patriarki ini akibat hal itu
ditanamkan sejak ia masih kecil dan dianggap benar. Ada yang berpendidikan
tetapi juga terbawa ke sana karena justru ia ingin menunjukkan bahwa ia juga
mampu bersikap seperti laki-laki. Yang begini ini terjebak pada anggapan
yang melihat perempuan sebagai kelompok warga yang lebih rendah statusnya
dibanding laki-laki.

KM
 
-------Original Message-------
 
From: Mariana Amiruddin
Date: 17-05-2007 21:26:45
To: [email protected]
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re:Abortion
 
Saya malah bukan lagi orang yang melihat persoalan patriarkhi
berdasarkan jenis kelamin, maskulin dan feminin. Misalnya, banyak pula
patriarkhi yang tertancap di kepala perempuan. Misalnya kasus mertua
perempuan dengan
mantu perempuan di India, yang banyak membuat mantu perempuan
dijadikan manusia domestik dan pabrik anak dan sering mengalami
kekerasan oleh mertua perempuannya. Itu berarti biar jenis
kelamin perempuan tetapi bisa juga menjadi agen patriarkhi.

Soal Kekerasan dalam rumah tangga yang dibawa ke publik, saya pernah
ke Ambon dan mengikuti bagaimana kerja Polwan menangani pasangan
suami-istri. Istri yang disirami air panas di wajahnya mengadu
suaminya kalap mengejar-ngejar dia. Si istri merasa mengadukan ke
polisi sebagai pencarian perlindungan terhadap dirinya. Dia masih
ingin menjalankan kehidupan bahagia bersama suaminya.

Yang terpenting, saya suka sekali dengan Polwan yang menangani ini di
RUang Pelayanan Khusus Perempuan di AMbon, yang penuh empati dan
banyak memberikan informasi pada si korban. Selain itu pihak suami
juga dipanggil dan dinasihati bahwa keluarga itu tidak saling
menyakiti dan lihatlah istrimu wajahnya penuh luka, katanya. Apakah
seperti itu dalam berkeluarga? Polwan ini sangat komunikatif seperti
seorang konsultan keluarga.

Esoknya, suaminya ternyata kumat lagi, istrinya dipukuli lagi,
akhirnya polwan tersebut harus bertindak menangkap sang suami karena
telah menganiaya, dan memberi perlindungan pada istri.

Intinya, yang penting adalah pihak aparat, bagaimana menangani kasus
kekerasan dalam rumah tangga, yang tujuannya justru untuk
keharmonisan, bukan ditakuti sebagai intervensi yang menambah runyam.

Karena tanpa keterlibatan hukum, saya yakin istri itu sudah mati dari
kemarin.
Dan tak ada pula orang yang akan mengenangnya.

Mariana

Kirim email ke