Jangankan isu jender yang abu-abu ini, isu bohong pun bertebaran 
selama kampanye. Tanda bahaya baru dibunyikan kalau isu ini ternyata 
benar mempengaruhi hasil pemilu. Tandanya ada yang sakit di 
masyarakat kita dan di sistem politik kita.

Tapi di tahun 1999 itu tidak ada sistem politik yang menghalangi 
perempuan jadi presiden. Tahun 1999 para pemilih tidak memasalahkan 
keperempuananan Mega. Mega menyadari itu, dia maju terus dan menang. 
Artinya isu tadi tidak laku; tidak memakan korban siapa-siapa, tidak 
juga Mega. Tapi Anda tetap ngotot merasa jadi korban, ya terserah 
sajalah. Logika saya minggat kemana? Sedang namu ke logika Anda. 
Cuma saya ketuk-ketuk pintu, di dalam tidak ada siapa-siapa.

Soal Gerwani: kata siapa imoralitas komunisme itu cuma disandarkan 
ke Gerwani? Mungkin Anda lupa pelajaran SD-SMP: "bahaya" yang paling 
besar berdasarkan standar Orde Baru adalah karena komunis sama 
dengan ateis dan ateis sama dengan imoral; tidak peduli dia Gerwani, 
PR, BTI, atau SOBSI. Mitos penyiksaan di Lubang Buaya (yang juga 
lambang rusaknya moral kaum komunis) seingat saya dibebankan ke dua 
organisasi: Gerwani dan Pemuda Rakyat.  

Soal Orba dan sastrawan Anda salah menangkap maksud saya: SAAT ITU 
(antara 1965 sampai 1970), TNI-AD (dan cikal bakal Orba) tidak 
khusus menindas Gerwani karena mereka perempuan atau menindas 
Pramudya karena dia sastrawan. Mereka ditindas karena PKI. Semuanya 
harus dilihat dalam kerangka penumpasan PKI. Jadi paralelnya, kenapa 
dalam tahun-tahun itu Pramudya dipenjara (dan difitnah)? Jawabannya 
karena Pramudya PKI; bukan karena Pramudya sastrawan. Mengapa 
Gerwani difitnah? Karena Gerwani PKI. Bukan karena Gerwani 
perempuan. 

Terus kenapa bukan Kolonel Untung yang difitnah? Saya balik nanya: 
apa gunanya memfitnah Untung? Untung itu dalam semalam membunuh 6 
jenderal, 1 ajudan, dan 1 anak kecil tidak berdosa. D.N. Aidit sudah 
dituduh ateis, dituduh pula merancang G30S termasuk penyiksaan di 
Lobang Buaya itu. Kurang imoral apa lagi? Kecuali kalau menurut Anda 
Untung mesti menari telanjang juga biar bisa dicap imoral; saya 
angkat tangan, deh. 

Andi



--- In [email protected], manneke budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Wehehe, Si Andi ini lugu banget. Bung, terserah motivasi para 
parpol lawan politik Mega itu persisnya apa, yang jelas mereka 
mengeksploitasi isu gender untuk menjegal Mega. Anda kaya penasihat 
mereka saja, sampai tahu bahwa alasan kepemimpinan perempuan 
cuma "masakan politikus"? Yang pake isu gender ini mulai dari 
politisi sekaliber Amien Rais sampe yang kelas jalanan kaya Habib 
Riziq lho. Saya tak pusing mereka beneran gak suka pemimpin 
perempuan atau enggak, yang jelas dan penting dan gamblang di depan 
mata adalah isu gender DIEKSPLOITASI buat kepentingan politik. Kalo 
nggak ada masalah gender, mestinya kan isu begini gak akan bisa 
dipake buat amunisi? Ke mana sih minggatnya logika Anda kali ini?
>    
>   Ngomongin harga mati, harga matinya SIAPA dulu? Kalo sampe upaya 
jahat para politisi maskulinis itu tak ada yang melawan dan 
mendiamkan aja, seperti model orang kaya Anda gini, ya pasti akan 
jadi harga mati. Berhubung ada yang berani ngelawan, khususnya para 
aktivis perempuan, makanya mereka tak selalu berhasil. Anda kira 
ngapain aktivis seperti Husna dan para perempuan Banten lainnya 
beberapa bulan lalu hampir tiap hari jerit-jerit di pelbagai milis 
untuk melawan perda-perda yang meminggirkan perempuan? Mereka Anda 
kira ngelindur tanpa sebab apa? Dan Anda kira Rustriningsih tak ada 
yang mempersoalkan status gendernya? Kentara lagi bahwa Anda gak 
pernah baca koran.
>    
>   Soal Gerwani: Betul, Gerwani dijadikan simbol imoralitas 
komunisme. Pertanyaannya: kenapa Gerwani yang secara khusus 
dijadikan simbol imoralitas komunisme? Kok bukan Kol. Untung atau 
D.N. Aidit? Kok organisasi perempuannya? Makin semrawut aja nih 
rabun gender Anda. Tahukah apa yang terjadi pada organisasi 
perempuan pada masa Orba setelah Gerwani digerus abis? Mati. Yang 
boleh ada cuma yang bentukan pemerintah, yaitu Kowani dan Dharma 
Wanita. Bagaimana dengan pelbagai LSM perempuan yang bermunculan 
menjelang Reformasi? tanya saja kepada para aktivisnya apa mereka 
nggak hampir tiap hari diteror pake telpon gelap, dimata-matai, 
diancam, diintimidasi. Sekali lagi, baca koran. Dan jangan tanya 
koran kapan. Kalo serius, baca koran mulai dari masa awal Orba 
sampai Kompas setiap hari yang Anda tuduh secara implisit bahwa  
mereka mengada-ngada dan membesar-besarkan isu perempuan.
>    
>   Orba tak menindas sastrawan? Cuma Pram dan Sitor yang jadi 
korban? Lagi-lagi Anda ternyata yang jago ngelindur. Lalu, ke mana 
gerangan Wiji Tukul? Nasib apa yang dialami Rendra, Ratna Sarumpaet, 
dan banyak sastrawan lainnya di Jogja, Makassar, Surabaya, Bandung, 
Semarang itu tiap kali mau pentas atau baca puisi? Apa mereka itu 
komunis semua? Tanya ke para penulis non-Pram dan non-Sitor yang 
bukunya kena bredel semasa Orba. Jangan cuma bisa ngimpi doang di 
kamar tidur sendiri.
>    
>   Gak usah kuatir soal eyel-eyelan. Saya gak bakal jantungan kok. 
Warung kopi juga enak buat eyel-eyelan. Tanya aja ama Emha atau 
Butet kalo gak percaya.
>    
>   manneke
> 
> si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Pak Manneke dan Pak Rahadian,
> 
> Saya sengaja tidak menanggapi soal Megawati dan Gerwani agar tidak 
> menyimpang dari topik utama. Tapi berhubung ke'diam'an saya malah 
> membuat Pak Manneke menambahi cap saya dengan rabun gender 
(mungkin 
> ditaruh di sebelah cap macho kemaren) izinkan saya membahas agak 
> menyimpang sedikit:
> 
> Bayangkanlah kalau idola massa sekaliber Megawati ternyata anggota 
> Dewan Syuro PKB atau PPP atau PBB. Akan ada jugakah penolakan yang 
> Anda kutip itu? Megawati ditentang karena dia adalah lawan, Pak. 
> Bukan karena keperempuanannya. Alasan kepemimpinan perempuan itu 
> cuma masakan politikus yang kebetulan sedap benar untuk dikunyah 
> massa tapi sebenarnya sedikit saja yang menelan. Buktinya PDI-P 
> menang saja kan ketika itu? Soal Megawati kalah di MPR itu kan 
lain 
> cerita. 
> 
> Bukti lagi? Pernahkah kemudian para penentang itu meributkan 
bupati-
> bupati atau camat-camat perempuan yang makin banyak itu dengan 
> alasan jender? Kalau agama alasannya, mestinya harga mati, toh? 
> Kenapa Megawati dilawan tapi Rustriningsih atau Haeny Relawati 
> dibiarkan? Jangan-jangan Anda percaya juga kalau Marissa Haque 
kalah 
> di pilgub Banten karena dia perempuan? 
> 
> Soal Gerwani, maafkan kalau saya salah menanggapi lagi karena 
belum 
> baca bukunya. Tapi yang saya tahu yang mau ditembak dari mitos 
> Gerwani adalah imoralitas paham komunisme, bukan masalah karena 
> Gerwani itu perempuan. Mitos imoralitas ini juga dikobarkan dengan 
> adegan penyiksaan di film G30S yang amat-sangat-graphics itu (dan 
> pelakunya tidak cuma Gerwani). Sama juga halnya dengan penghujatan 
> atas Pramudya atau Sitor Situmorang (yang ternyata tidak ada 
komunis-
> komunisnya itu) tidak lantas diterjemahkan sebagai orde baru 
> berpaham menindas sastrawan.
> 
> Terima kasih atas gosokannya, Pak :-) Ilmu saya cuma cukup untuk 
> eyel-eyelan warung kopi saja; jangan terlalu diseriusi.
> 
> Andi
>


Kirim email ke