Lha yang bilang bahwa tahun 1999 sistem politiknya menghalangi perempuan jadi
presiden juga sapa? Kok Anda ini demen amat melebar-lebar ke sana-kemari. Tak
peduli sistem politiknya pegimana, yang jelas isu gender dieksploitasi dengan
tujuan untuk meminggirkan perempuan. Mau motivasinya A kek, B kek, terserah.
Tapi yang jelas, perempuan dijadikan sasaran tembak dalam kancah politik
tersebut. Ini point saya. Clear?
Makan korban dalam pengertian Anda itu gimana maksudnya? Mesti ada yang mati
dulu? Lha Mei 1998 itu menurut Anda semua korbannya pada duduk-duduk di kursi
goyang di pantai sambil menikmati air kelapa muda? Lha bu guru yang ditangkap
dan didakwa sebagai pelacur di Tangerang itu apa bukan korban? Tapi, Bung Andi,
tak perlu tunggu orang mati dulu baru bisa bilang ada korban. Saya lebih suka
pake istilah 'cost' atau biaya/harga yang harus dibayar akibat politisasi
gender dengan cara yang sangat merugikan perempuan itu. Kalo Mega menang dalam
Pemilu dulu, itu tak berarti pendukung kesetaraan gender menang. Menang Pemilu
tapi tersingkir dari bursa kepresidenan akibat intrik politik berbasis gender,
itu sama aja dengan kemenangan pasukan anti-perempuan yang banyak nongkrong di
parlemen maupun di jalanan itu. Makanya, jangan muter-muter ah. Logika Anda
yang ngetuk pintu saya itu nggak saya bukain pintu. Rugi. Ngabis ngabisin gula
dan teh buat suguhan.
Kalo saja Gerwani adalah kasus tunggal tentang pemojokan perempuan di negeri
ini, maka saya akan dengan mudah menerima logika Anda bahwa gerwani ditindas
karena terutama PKI (dan bukan perempuan). Tapi, menyaksikan bagaimana
pola-pola serupa secara konsisten dilakukan dari waktu ke waktu, maka saya tak
bisa menelan mentah-mentah argumen Anda itu. Ada pola, Bung, bukan insidental.
Makanya kalo rabun jangan dipelihara.
Masih nggak mudheng juga ya soal Pram? Masih ngotot bahwa Pram dimusuhi
karena dia PKI? Lha Rendra itu PKI toh? Ratna Sarumpaet itu PKI? Seno Gumira
Ajidarma itu PKI? Ngomong kok pake udel. Saya tak salah tangkap maksud Anda.
Andalah yang memang maksudnya nggak beres.
Soal Gerwani dan tari telanjang: Jadi, Anda mengasumsikan bahwa memang
Gerwani menari-nari telanjang sambil membunuhi para perwira AD itu? sama dong
dengan Orba. Wah, jadi ngerti sekarang saya lagi diskusi sama siapa. Makanya
mbulet!
manneke
si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Jangankan isu jender yang abu-abu ini, isu bohong pun bertebaran
selama kampanye. Tanda bahaya baru dibunyikan kalau isu ini ternyata
benar mempengaruhi hasil pemilu. Tandanya ada yang sakit di
masyarakat kita dan di sistem politik kita.
Tapi di tahun 1999 itu tidak ada sistem politik yang menghalangi
perempuan jadi presiden. Tahun 1999 para pemilih tidak memasalahkan
keperempuananan Mega. Mega menyadari itu, dia maju terus dan menang.
Artinya isu tadi tidak laku; tidak memakan korban siapa-siapa, tidak
juga Mega. Tapi Anda tetap ngotot merasa jadi korban, ya terserah
sajalah. Logika saya minggat kemana? Sedang namu ke logika Anda.
Cuma saya ketuk-ketuk pintu, di dalam tidak ada siapa-siapa.
Soal Gerwani: kata siapa imoralitas komunisme itu cuma disandarkan
ke Gerwani? Mungkin Anda lupa pelajaran SD-SMP: "bahaya" yang paling
besar berdasarkan standar Orde Baru adalah karena komunis sama
dengan ateis dan ateis sama dengan imoral; tidak peduli dia Gerwani,
PR, BTI, atau SOBSI. Mitos penyiksaan di Lubang Buaya (yang juga
lambang rusaknya moral kaum komunis) seingat saya dibebankan ke dua
organisasi: Gerwani dan Pemuda Rakyat.
Soal Orba dan sastrawan Anda salah menangkap maksud saya: SAAT ITU
(antara 1965 sampai 1970), TNI-AD (dan cikal bakal Orba) tidak
khusus menindas Gerwani karena mereka perempuan atau menindas
Pramudya karena dia sastrawan. Mereka ditindas karena PKI. Semuanya
harus dilihat dalam kerangka penumpasan PKI. Jadi paralelnya, kenapa
dalam tahun-tahun itu Pramudya dipenjara (dan difitnah)? Jawabannya
karena Pramudya PKI; bukan karena Pramudya sastrawan. Mengapa
Gerwani difitnah? Karena Gerwani PKI. Bukan karena Gerwani
perempuan.
Terus kenapa bukan Kolonel Untung yang difitnah? Saya balik nanya:
apa gunanya memfitnah Untung? Untung itu dalam semalam membunuh 6
jenderal, 1 ajudan, dan 1 anak kecil tidak berdosa. D.N. Aidit sudah
dituduh ateis, dituduh pula merancang G30S termasuk penyiksaan di
Lobang Buaya itu. Kurang imoral apa lagi? Kecuali kalau menurut Anda
Untung mesti menari telanjang juga biar bisa dicap imoral; saya
angkat tangan, deh.
Andi