Betul memang Megawati ditentang lantaran dia adalah lawan. Tetapi kalau anda jeli melihat perdebatannya, salah satu alasan penolakannya adalah 'ke-perempuan-annya'. Perempuan tidak pantas menjadi pemimpin begitu kata mereka. Argumen yang digunakan oleh lawan politik Mega ini adalah salah satu contoh bagaimana gender digunakan dalam politik. Anda sudah mengemas konsepsi ini dalam kalimat anda: bahwa masalah keperempuanan itu sendiri adalah masakan politik. Betul, ini memang masakan politik dan lazimnya disebut politik gender. Pada taraf ini, tidak perlu lagi untuk menggiring diskusi ke kasus-kasus lain. Sebab kasus ini sudah menyangkal premis awal anda bahwa politik (juga kekerasan) tidak ada sangkut pautnya dengan gender (Message #57143). Saya kutip lagi pernyataan anda. "Ya benar Anda, Bu Yuli. Politik tidak mengenal jender. Kekerasan juga tidak mengenal jender." Dipilihnya bupati perempuan seperti yang ada sebutkan mengandaikan bahwa politik gender bisa berubah-ubah. Dalam kasus bupati-bupati perempuan tersebut memang mungkin tidak digunakan.
Kalau anda sempat membaca sejarah modern Eropa di abad 19, anda bisa lihat bahwa gerakan perempuan menuntut untuk diberikan hak pilih. Pada waktu itu perempuan di Inggris dan negara-negara lainnya tidak mendapatkan hak pilih. Apa sebabnya? Lantaran adanya persepsi yang mengatakan bahwa publik adalah milik laki-laki dan politik adalah wilayah publik sehingga perempuan tidak layak untuk turut campur. Sekarang soal Gerwani. Lantas apa alasan dibalik propaganda pesta seks di Lubang Buaya yang di sebarkan oleh Orba? Imoralitas komunis? Imoralitas perempuan komunis tepatnya. Kalau dilihat lagi, setelah Orba berdiri tidak ada lagi organisasi perempuan seperti pada masa Orla, semua diseragamkan. Kalaupun ada bentukya seperti Dharma Wanita dan PKK. Orba mengkonstruksikan figur ibu/perempuan menurut seleranya dan semua kegiatan perempuan diharapkan selaras dengan model perempuan yang digambarkan oleh Orba. Saya sarankan anda untuk membaca buku Saskia. Maaf ya bung Andi, saya menangkap kesan bahwa anda belum begitu paham tentang apa itu yang disebut gender. Ini yang membuat diskusinya seperti tidak mengalir. Dalam ilmu-ilmu sosial sekarang ini, analisis gender sudah popular dipakai, dan mungkin sudah menyamai kepopularan analisis kelas ala Marxisme. Untuk itu saya kopikan link tentang gender agar diskusinya bisa mengalir. http://www.iastate.edu/~iwise/iwise/lectures/08Nov2001.htm <http://www.iastate.edu/~iwise/iwise/lectures/08Nov2001.htm> . salam rahadian --- In [email protected], "si_andi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Manneke dan Pak Rahadian, > > Saya sengaja tidak menanggapi soal Megawati dan Gerwani agar tidak > menyimpang dari topik utama. Tapi berhubung ke'diam'an saya malah > membuat Pak Manneke menambahi cap saya dengan rabun gender (mungkin > ditaruh di sebelah cap macho kemaren) izinkan saya membahas agak > menyimpang sedikit: > > Bayangkanlah kalau idola massa sekaliber Megawati ternyata anggota > Dewan Syuro PKB atau PPP atau PBB. Akan ada jugakah penolakan yang > Anda kutip itu? Megawati ditentang karena dia adalah lawan, Pak. > Bukan karena keperempuanannya. Alasan kepemimpinan perempuan itu > cuma masakan politikus yang kebetulan sedap benar untuk dikunyah > massa tapi sebenarnya sedikit saja yang menelan. Buktinya PDI-P > menang saja kan ketika itu? Soal Megawati kalah di MPR itu kan lain > cerita. > > Bukti lagi? Pernahkah kemudian para penentang itu meributkan bupati- > bupati atau camat-camat perempuan yang makin banyak itu dengan > alasan jender? Kalau agama alasannya, mestinya harga mati, toh? > Kenapa Megawati dilawan tapi Rustriningsih atau Haeny Relawati > dibiarkan? Jangan-jangan Anda percaya juga kalau Marissa Haque kalah > di pilgub Banten karena dia perempuan? > > Soal Gerwani, maafkan kalau saya salah menanggapi lagi karena belum > baca bukunya. Tapi yang saya tahu yang mau ditembak dari mitos > Gerwani adalah imoralitas paham komunisme, bukan masalah karena > Gerwani itu perempuan. Mitos imoralitas ini juga dikobarkan dengan > adegan penyiksaan di film G30S yang amat-sangat-graphics itu (dan > pelakunya tidak cuma Gerwani). Sama juga halnya dengan penghujatan > atas Pramudya atau Sitor Situmorang (yang ternyata tidak ada komunis- > komunisnya itu) tidak lantas diterjemahkan sebagai orde baru > berpaham menindas sastrawan. > > Terima kasih atas gosokannya, Pak :-) Ilmu saya cuma cukup untuk > eyel-eyelan warung kopi saja; jangan terlalu diseriusi. > > Andi
