Nampaknya banyak uang saja tidaklah menjamin kita ini bakal
  punya hidup yang bahagia.
   
  Juga kalau kita ini tak punya banyak uang (serba kurang) tidak
  ada kesempatan buat menciptakan hidup bahagia.
   
  Jadi kira-kiranya, punya uang secukupnyalah!
  Tahu menggunakannya dan menemukan hidup yang diidamkan!
   
  Ingatlah rekan-rekan sekalian, uang yang banyak harus digunakan,
  dinikmati dan dihabiskan.
  Hingga nanti kalau kita pergi dari dunia fana ini, tak ada penyesalan.
  Apalah gunanya punya sekian juta di Swiss bank account, kalau kita
  sudah tak ada....
   
  Salam
  Las.
  

Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Oleh Ninok Leksono
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/16/utama/3535646.htm
=========================

"Sebagian arti hidup adalah untuk mengalami senang dan susah. Hidup
yang terus-menerus bahagia bukanlah hidup yang baik." (George
Loewenstein, Ekonom di Carnegie Mellon University)

Satu hari, seorang rekan berseloroh, "Uang bukan segala-galanya,
tetapi tanpa uang susah segala-galanya." Dalam ucapan yang mengundang
senyum itu sesungguhnya terkandung falsafah atau kearifan hidup yang
tidak saja mendalam, tetapi terasa aktual dan relevan. Terasa demikian
barangkali justru karena kita menyaksikan perikehidupan masyarakat
pada umumnya tak kunjung sejahtera, bahkan mungkin lebih buruk,
sementara di pihak lain tidak sedikit pula pola hidup materialistis
yang tampil menonjol, membuat uang seolah menjadi obsesi utama kehidupan.

Lalu, ketika uang yang amat diburu itu bisa diraih, benarkah bahagia
datang mengiringi? Jawaban serta-merta tentu tidak kalau uang tersebut
diperoleh dari praktik ilegal, dan badan pemburu seperti KPK lalu
memperkarakannya. Namun, bagaimana kalau uang yang diraih tersebut halal?

Pertanyaan kuncinya: "apakah dengan itu kebahagiaan akan serta-merta
datang?"

Pertanyaan ini secara tradisional masuk dalam wilayah psikologi dan
dari waktu ke waktu terus menjadi topik riset. Namun, setidaknya sejak
tahun 2004 telah muncul jawaban kuat bahwa "uang tak bisa membeli
kebahagiaan" (Matthew Herper, Forbes, 21/9/2004).

Ketika seseorang yang membutuhkan tiba-tiba mendapat uang, memang
saraf sukacita di otak akan bereaksi senang. Namun, kesenangan
seketika tadi bagi sebagian besar orang tidak lalu menjadi kesenangan
jangka panjang. Survei-survei yang pernah dilakukan mendapati bahwa
tingkat kebahagiaan orang-orang superkaya yang masuk dalam daftar
peringkat Forbes 400 lebih kurang sama dengan suku penggembala Maasai
di Afrika Timur. Pemenang lotre pun akan kembali ke tingkat
kebahagiaan semula setelah lima tahun.

"Hubungan antara uang dan kebahagiaan ternyata kecil saja," ujar Peter
Ubel, seorang guru besar kedokteran di Universitas Michigan, seperti
dikutip Forbes.

Tentu itu tidak bermaksud mengatakan bahwa penambahan penghasilan
tidak ada artinya sama sekali. Namun, ada survei yang hanya mencatat
korelasi 1 persen saja antara kekayaan dan kebahagiaan.

Para psikolog pun terus menyelidiki mengapa kekayaan tidak membawa
perasaan senang yang terus-menerus. Satu kali diamati, pemenang lotre
yang lalu berhenti bekerja dan membeli rumah bak istana, tetapi di
tempat sepi tanpa tetangga, justru kesepian dan rasa tertekan yang ia
peroleh, bukan kebahagiaan.

Di sisi lain muncul pertanyaan, jangan-jangan manusia terlalu
berlebihan memersepsikan kebahagiaan? Apalagi kalau dikaitkan dengan
apa yang dikemukakan Loewenstein yang diangkat sebagai kutipan di awal
artikel ini?

Di luar pertanyaan kritis di atas, ada satu poin penting menyangkut
hubungan antara uang dan kebahagiaan. Menurut Ed Diener, peneliti di
Universitas Illinois yang melakukan survei atas Forbes 400 dan suku
Maasai, orang yang bahagia nantinya cenderung punya penghasilan lebih
tinggi dalam hidup. Jadi, meskipun uang mungkin tidak membantu manusia
jadi bahagia, orang bisa lebih mudah mendapatkan uang kalau bahagia.

Ke ekonom dan politisi

Apabila penelitian di atas lebih terkait dengan pekerjaan psikolog,
berikutnya para ekonom pun terpanggil untuk meneliti kaitan antara
uang dan kebahagiaan. Ekonom pun kini menyadari bahwa uang tidak bisa
membelikan kebahagiaan bagi seseorang. Dalam hal ini, ekonom, antara
lain Andrew Oswald dari Universitas Warwick di Inggris, membandingkan
data mengenai kekayaan, pendidikan, status perkawinan, dan hasil
survei kebahagiaan.

Hasil survei menyebutkan, jika satu negara bisa menjadi cukup
kaya—sekalipun masih jauh apabila dibandingkan dengan AS—maka
pertumbuhan ekonomi lebih jauh mungkin tidak akan membuat warganya
lebih bahagia lagi (Tim Harford, Forbes, 14/2/2006).

Itu sebabnya, Oswald dalam satu kuliahnya berani mengatakan, "Sekali
satu negara sudah bisa mengisi gudang pangannya, tidak ada poinnya
negara tersebut jadi lebih kaya."

Sekali lagi muncul penegasan, seperti diungkapkan Will Wilkinson dari
Cato Institute, Washington DC, bahwa "dalam setiap masyarakat, pada
waktu kapan pun, orang lebih kaya lebih bahagia". Namun, hal itu
sendiri tidak bercerita banyak tentang hubungan antara uang dan
kebahagiaan.

Terakhir, Newsweek (7/5/2007) menurunkan laporan utama "In Search of
Happiness". Di sana dikemukakan pertanyaan penting, "mengapa politisi
dan bahkan CEO mengkaji ulang pemikiran bahwa uang adalah ukuran
tertinggi (ultimate) sukses nasional".

Pertanyaan di atas, seperti tertulis dalam laporan yang ditulis Rana
Foroqhar, seolah menggugat hukum penting ekonomi yang mengatakan bahwa
"kesejahteraan (well-being) merupakan fungsi sederhana penghasilan".
Artinya, makin tinggi penghasilan, makin bahagia, demikian pula
sebaliknya.

Kini, kebahagiaan tidak lagi dipandang sederhana dengan melihat "apa
yang sudah kita punya, tetapi—misalnya saja—apakah kita punya lebih
banyak dibandingkan dengan tetangga".

Dengan berubahnya tafsir atas kebahagiaan, para pembuat kebijakan kini
banyak menyelidiki apa sesungguhnya yang membuat rakyat bahagia dan
bagaimana mereka bisa menghadirkan itu bagi rakyat.

Kini, negara seperti Bhutan, Australia, China, Thailand, dan Inggris,
telah memperkenalkan "Indeks Kebahagiaan" untuk digunakan bersama
dengan produk domestik bruto (PDB) guna mengukur kemajuan satu masyarakat.

Para peneliti kebahagiaan terkemuka dunia saat berkongres di Roma
belum lama ini memperdebatkan apakah sukacita itu bisa diukur,
momentum untuk melangkah ke "negara bahagia" (well-being state)
tampaknya sudah tak terbendung lagi. Musim panas ini, sejumlah tokoh
penting, mulai dari Perdana Menteri Turki, ekonom kepala di Bank
Dunia, dan pimpinan Google, akan bertemu untuk membahas cara guna
beralih dari PDB sebagai ukuran kemajuan manusia.

Di era 1980-an, misalnya, slogan yang acap kita dengar adalah
workaholic guna melukiskan bagaimana manusia demikian keranjingan
kerja. Kini pun tema kompetisi banyak diangkat untuk memacu karyawan
agar bekerja lebih keras lagi.

Pada sisi lain, yang juga telah banyak berkembang di negara maju,
kalangan pekerja dan eksekutif top justru mulai mengendurkan laju
kehidupan. Mereka mengatakan rela mendapat penghasilan lebih sedikit
asal bisa menikmati hidup lebih nyaman, bisa punya waktu lebih banyak
untuk berkumpul dengan keluarga, dan mengerjakan hal yang menyenangkan
hati.

Buku-buku bertema How to Simplify Your Life atau How to Live A Simple
Life karangan Elaine St James sempat menjadi bacaan yang menggugah.
Namun, sekali lagi, tarik-menarik pastilah terus berlangsung antara
hidup sederhana yang nyaman versus hidup dalam kelimpahan materi yang
memberi kebebasan luar biasa. (Ninok Leksono) 



         

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke