FPK wan Menarik memang bahwa Pemerintah RRT begitu memusuhi Falun Gong, bahkan juga ketika mereka telah membuka cabang di luar-negeri. Menurut banyak analis, Partai Komunis Cina ini melihat dalam diri Falun Gong cerminan dirinya sendiri dulu. Partai Komunis Cina dulu berdiri sebagai organisasi terlarang, yang lalu muncul ke pemrukaan dan menjadi organisasi yang hebat, yang berhasil mengalahkan partai yang berkuasa waktu itu (Kuomintang). Mereka dulu beroperasi di gunung-gunung, desa-desa, merekrut petani-petani untuk ikut melawan Kuomintang. Nah, Partai Komunis Cina sekarang menjadi partai yang berkuasa. Tak heran kalau mereka menjadi sangat waspada dan sensitif terhadap setiap gerakan di dalam negeri yang mirip-mirip dengan mereka dulu. Falun Gong sebenarnya sebuah organisasi legal yang didirikan pada tahun 1992, yang bergerak di bidang spiritual. Akarnya adalah Budhisme, tetapi dia juga memasukkan unsur-unsur dari Taoisme. Jadi, sama sekali tidak bertujuan politik. Persoalannya muncul pada awal tahun 1999. Ada sebuah artikel di sebuah koran di kota Tianjin yang mengritik gerakan Falun Gong, bahkan mendeskreditkan. Hal ini membuat para penganut Falun Gong (yang terdiri dari orang kaya maupun miskin, orang desa dan orang kota, cendekiawan muapun tidak, ada juga tentara, bahkan anggota Partai Komunis Cina) bereaksi. Pada bulan April mereka berhasil mengepung Zhongnanhai, sebuah wilayah yang menjadi tempat tinggal para petinggi Partai. Kata "mengepung" ini dalam arti mereka duduk-duduk mengelilingi wilayah yang dipagari tembok, tidak ada teriakan, atau poster, atau baris-berbaris. Tapi ini sudah cukup untuk membuat para petinggi partai terkejut, marah, dan ketakutan. Maka bulan Juli diambil tindakan drastis, mengumumkan Falun Gong sebagai "evil sect" yang harus diberantas dari bumi Cina. Kebetulan saya pasa di Beijing. Kampanye ini berlangsung selama lebih dari tiga hari, TV dan radio tidak henti-hentinya menjelek-jelekkan Falun Gong. Sementara itu buku-buku dan kaset tentang Falun Gong disita dari toko-toko buku, bahkan orang yang mempunyainya harus menyerahkan kepada penguasa. Tiga hari tidak cukup, diteruskan sampai hari, minggu, bulan, tahun, hingga hari ini. Falun Gong ditetapkan sebagai "ancaman keamanan" negara. Menariknya, para pengikut Falun Gong (konon jumlahnya melebihi jumlah Partai Komunis Cina, yaitu 100 juta) ini tidak menyerah, bahkan nampak semakin bersatu. Ketua mereka, Li Hongzhi, melarikan diri ke Amerika Serikat, tetapi pengikutnya tetap mendengarkan dia. Pemerintah Cina pernah meminta agar Pemerintah Amerika menyerahkan Li Hongzhi, dan tentu saja ditolak. Yang lebih menarik lagi, gerakan Falun Gong ini menyebar ke luar dari Cina, dan menimbulkan banyak organisasi serupa di banyak negara di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Termasuk Indonesia! Semua ini membuat Partai Komunis Cina pusing tujuh keliling. Di beberapa negara Pemerintah Cina berhasil meminta pemerintah negara itu untuk melarang Falun Gong (misalnya, Singapura). Di Indonesia nampaknya Kedubes Cina juga melakukan yang sama, dan sependengaran saya pihak Indonesia memenuhi permintaan mereka. Misalnya, penganut Falun Gong pernah dilarang untuk berdemonstrasi atas permintaan Kedubes RRC. Nah, kasus radio "Suara Harapan" ini juga sama. Pendek kata, pihak Cina akan berusaha mati-matian melawan Falun Gong. Pemerintah Indonesia tentu saja tidak perlu mendengarkan permintaan Pemerintah Cina, juga demi alasan persahabatan. Kalau Pemerintah Indonesia setuju, runtuhlah pilar demokrasi yang sedang kita bangun. Sejauh Falun Gong tidak menimbulkan ancaman keamanan, organisasi itu tetap sah, seperti organisasi-organisasi lainnya. Saya bukan pengikut Falun Gong, tetapi mereka patut dibela karena hak-hak demokratis mereka. Ini suatu hal yang tidak dipahami oleh Pemerintah Cina maupun Partai Komunis Cina yang anti-demokrasi. Yang dikhawatirkan adalah bahwa Pemerintah Indonesia bersikap lembek dan lunak (seperti biasanya!), apalagi menghadapi RRC yang kini memberi aneka macam "bantuan" (baca: duit). Falun Gong akan dikurbankan demi persahabatan dan demi "bantuan."
Salam iww [Non-text portions of this message have been removed]
