Mas Ignas, Bahagia rasanya membaca berita yg anda posting hari ini .. Guna memberikan masukan bagaimana negara kita sangat amat membutuhkan peneliti2 , orang2 pintar yg ilmuwan scientist dll untuk masa depan bangsa kita, saya jadi teringat akan masukan Mr Bill Gates baru2 ini , Amerika sangat membutuhkan tenaga2 ilmuwan , scientist, tenaga2 lulusan2 eksakta, matematika dll kalau mau mempertahankan negara AS menjadi unggulan di dunia. Mr Bill Gates khusus menyoroti soal policy pemerintah dan UU AS soal lulusan AS yg berasal dr luar AS yg memang banyak yg sangat pintar namun harus keluar dr AS karena soal status dan ijin tinggalnya. 3 hari lalu ada berita dr USA today , dari Top 20 lulusan college AS, 15 diantaranya berasal dr Asia [ sayang belum ada dr Indonesia ...] Kemudian kalau diperbesar ke Top 100 juga sangat dominan lulusan asal Asia . Dalam graduation day di Purdue University indiana, bahkan dari ribuan wisudawan, yg mewakili berpidato adalah imigran Taiwan ....
Jadi kalau dibilang negara kita sangat banyak yg pintar2 macam dalam posting Mas Ignas, saya sangat setuju, namun diperlukan regulasi dari pemerintah dan mereka yg mempunyai kekuasaan dalam lebih merangsang generasi muda kita untuk lebih tertarik belajar ilmu2 terutama eksakta, matematika, fisika, biologi, kimia dll hingga kelak bangsa kita memang bisa lebih bersaing dgn bangsa2 lain. Singapore dalam beberapa tahun belakangan ini juga melakukan hunting buat dapat calon WN dari Indonesia [ terutama ] yg pintar2 hingga bisa menjamin memajukan singapora kelak. Salam , martin - indiana ----- Original Message ---- From: Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, May 16, 2007 10:32:35 AM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Peneliti Indonesia Raih Paten Internasional Kita kagum atas prestasinya. Ayu, Dian dll telah mengungkapkan kekaguman itu. Namun ada hal lain yang lebih penting dari itu. Yaitu, bagaimana orang orang cerdas seperti ini dapat optimal menyumbangkan tenaga, pikiran dan kompetensinya bagi kemajuan bangsa dan masyarakat (bukan negara). Dalam beberapa kesempatan, saya bertemu, membaca atau mengetahui betapa banyaknya orang orang cerdas, putra nusantara, yang bekerja sebagai peneliti handal di negara orang. Semua hasil penelitiannya menjadi milik negara lain dan dimanfaatkan oleh negara lain. Di Silicon Valley, Bell Laboratories, Philip Laboratory dll. Mereka tidak kembali karena merasa yakin mereka tidak akan optimal mengembangkan ilmunya jika berada di negara ini. Penelitian Arief adalah dalam rangka disertasi program doktor dan dia berhak atas hak paten dari hasil penelitiannya. Ini merupakan suatu bentuk fairness dari institusi penelitian, tempatnya meneliti. Saya tidak tahu ada berapa banyak disertasi yang dikerjakan oleh peneliti kita dalam kerangka disertasi yang kemudian dipatenkan tetapi menjadi milik dari institusi, atau group riset atau bahkan Prof. Pembimbingnya. Mahasiswa kita mendapat beasiswa (bahkan ada yang bukan hibah tapi pinjaman lunak), meneliti di lembaga penelitian negara lain, dana beasiswanya dihabiskan di negara tersebut (dana pinjaman tetap dipakai dinegaranya) , hasil penelitiannya menjadi milik mereka. Mahasiswa kita kembali dengan ijasah PhD, Dr.rer.nat, Dr.-Ing, Dr.Eng dll. (Arief lebih dari itu, dia kembali dengan ijasah dan sebuah paten..hak milik intelektual yang diakui secara internasional. ) Tenaga tenaga cerdas tersebut, dengan kompetensi yang langka serta mumpuni kembali dengan semangat menggebu-gebu, kembali ke tanah airnya tercinta. Berbagai usulan dibuat dan diajukan ke atasannya. Tanggapannya umumnya sangat lambat. Bahkan ada yang tidak digubris, malah dipandang sebagai saingan baru yang bisa mengancam posisi atasannya. Jika atasannya cukup suportif, atasannya akan mencoba memperjuangkan gagasan gagasannya namun kemudian akan menghadapi rangkaian kendala birokratis dan kemudian dana. Yang tinggal adalah frustasi dari tenaga tenaga, putra putra terbaik bangsa yang frustasi. Jika ternyata dia dan atasannya berhasil meyakinkan the big bos, akhirnya ada dana yang turun untuk merealisasikan gagasannya, yang umumnya adalah meneruskan penelitiannya. Namun itu terjadi dua atau paling cepat satu tahun dari kepulangannya. Dalam iklim riset yang sangat pesat seperti sekarang ini, dimana 24 hours research activity dapat dilakukan dengan kerjasama lembaga lembaga riset dunia, waktu dua tahun sudah membuat putra terbaik ini ditinggalkan oleh kemajuan riset di bidangnya. Hal tersebut, tidak akan terjadi..jika kita konsisten pada penentuam prioritas bidang riset yang akan menjadi frontier technology atau third milenium technology dan memberi perhatian yang khusus pada tenaga tenaga langkah ini. Dalam contoh kita ini, alangkah baiknya jika Arief Indrasumunar langsung disediakan seluruh peralatan yang dibutuhkan untuk melanjutkan riset dalam bidang kloning tiga gen dan mengembangkannya dengan obyek lain dengan metoda yang sama atau mengembangkan metoda metoda baru yang dapat diinsipirasi oleh mekanisme kerja dari metoda yang digunakan ini. Pengembangan metoda hanya mungkin oleh mereka yang sangat mahir menggunakanmetoda metoda sebelumnya. Manfaat yang didapat dengan penyediaan sesegera mungkin peralatan bagi Arief misalnya, adalah: 1. Arief dapat segera melanjutkan risetnya sehingga bersama seluruh tim riset dunia di bidangnya, dia akan bergerak maju dari titik yang sama. 2. Dia dapat membangun piramida riset grup dengan membimbing calon calon doktor, master bahkan s1 dalam riset grup yang segera dibangun untuknya. Jika dia terlalu muda untuk memimpin sebuah lembaga sendiri dan biayanya juga terlalu mahal, integrasikan saja peralatan itu ke lembaga riset suatu universitas (dalam contoh Arief pasti fakultas biologi) atau lembaga riset nasional (dalam contoh Arief mungkin Lembaga Eichman yang memfokuskan penelitian di bidang biomolekuler) . Biotek dengan basis biologi molekuler adalah salah satu frontier technology terpenting. Dengan peralatan yang disediakan, Arief akan menjadi faktor multiplikator bagi peneliti peneliti lainnya di tanah air. 3. Jangan sedikit pun memasukan unsur diskriminasi dalam mendorong siapapun yang berprestasi. ..baik diskriminasi SARA maupun PN atau Swasta. Siapapun putra nusantara terbaik harus didorong agar optimal mengeksplor seluruh kemampuannya untuk kemajuan bangsa dan masyarakat. 4. Jaman dulu dengan program yang diberi nama Staid, Habibie mengirim ribuan orang ke luar negri dan kembali mengantongi gelar gelar keren. Kita tetap saja ketinggalan, walaupun Habibie sudah yakin akan tinggal landas ehhh malah ketinggalan di landasan. konsep konsep seperti RUT (riset unggulan terpadu), hibah bersaing dll sudah dicanangkan. Tidak tahu sudah berapa dana yang dikucurkan dan gimana hasilnya bagi kemajuan industri kita. Yang pasti Menristek kita pak KK, yang anggota forum ini juga, seminggu yang lalu masih meributkan soal link antara riset dan industri kita. Jadi sejak berdirinya kementerian ini oleh pak Mitro sampai kini masalah ini tidak terselesaikan. Pak Kusmayanto mungkin sebaiknya mencerahkan kami semua mengenai masalah ini. Salam, Irry
