Oleh Windoro Adi
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/20/metro/3540652.htm
====================

Dunia gemerlap, pesta rumahan kaum jetset, keterasingan dan kegalauan
dalam kelimpahan, atau sebaliknya tekanan ekonomi dan sosial akibat
kemiskinan, bisa menyeret orang pada penyalahgunaan narkoba selain
seks bebas dan alkohol. Siapa saja yang mendekati salah satu kutub
dunia ekstrem itu bakal terperosok.

Pepatah Jawa mengatakan, Aja cedhak kebo gupak. Terjemahan bebasnya
kira-kira, "Kalau tidak mau pakaian dan tubuhmu kotor, ya jangan
dekat-dekat kerbau yang sedang mandi di kubangan".

Sejumlah jurnalis yang merasa dirinya sudah mampu mengambil jarak
dengan setiap peristiwa terjerembab ketika harus meliput, menulis, dan
bergumul dengan persoalan narkoba. Demikian pula polisi. Dengan alasan
penyamaran dan tugas intelijen, ia dipaksa memasuki dunia itu.

Kian lama dan dalam seorang polisi terlibat dalam tugas, yang
membuatnya mau tak mau memasuki dunia itu, ia kian sulit membedakan
realitas sosial dengan perannya tersebut. Ini terjadi karena lingkup
dan intensitasnya memasuki dunia ekstrem itu semakin meluas dan kian
tinggi.

Mungkin itulah yang terjadi dengan sejumlah polisi yang sepekan
belakangan tertangkap mengonsumsi narkoba.

Pada Kamis (17/5) dini hari, operasi gabungan Polisi Militer Kodam
Jaya di Diskotek Miles dan Pujasera menangkap lima polisi yang
terbukti mengonsumsi ekstasi.

Sabtu (12/5) dini hari di Diskotek Sands, seorang polisi berpangkat
inspektur satu, anggota Kepolisian Resor Tangerang, air seninya
terbukti mengandung unsur narkoba.

Kedua kejadian itu bukan hal mengejutkan karena di samping bukan hal
baru, temuan barang buktinya pun minim. Berita tentang penangkapan
polisi yang mengonsumsi narkoba memang lebih sedikit dibandingkan
dengan kabar burung tentang polisi, terutama yang berpangkat rendah,
mengonsumsi atau menjadi bandar narkoba belakangan ini.

Kesenjangan kesejahteraan

Meluasnya kabar burung tersebut dikaitkan dengan kian melebarnya
kesenjangan kesejahteraan dan karier di kalangan internal polisi dari
jenjang pendidikan berbeda.

Beberapa kepala kepolisian sektor di Jakarta dan sekitarnya yang
dihubungi mengeluh kian sulit mengendalikan anak buahnya. Itu terjadi
karena rendahnya kesejahteraan dan biaya operasional mereka di tengah
melambungnya harga kebutuhan pokok.

Untuk menjaga keseimbangan internal, para kepala kepolisian sektor
terpaksa tutup mata menghadapi pilihan anak buah meredam ketegangan
beban kerja dan rendahnya pendapatan.

Di tengah suasana seperti itulah, "orang-orang lapangan" ini memasuki
salah satu kutub dunia ekstrem seperti yang sudah disebutkan tadi.

Solusinya, seperti disampaikan Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah
Metro Jaya Komisaris Besar Ketut Untung Yoga Ana, Kamis (3/5), adalah
dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan mengalokasikan dana
operasional secara proporsional berdasarkan prioritas.

Apa yang disampaikan Ketut menjadi kian mendesak ketika muncul berita,
di Jakarta lebih dari 75 persen peredaran narkoba dikendalikan dari
balik dinding penjara. 

Kirim email ke