Oleh Ilham Khoiri http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/20/kehidupan/3540749.htm =====================
Seni rupa China tumbuh pesat dengan ditopang infrastruktur yang kuat. Pergeseran ideologi negara dari komunisme tertutup menjadi sosialisme yang akrab dengan pasar bebas melahirkan kondisi lebih terbuka. Seniman pun lebih leluasa berkreasi. Salah satu penanda kebangkitan seni rupa China adalah 798 Art District di Ta Sen Tse. Kawasan yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Beijing itu sekarang ditempati 120-an galeri. Setiap galeri memamerkan karya-karya seni rupa kontemporer yang selalu diganti-ganti secara berkala. Kawasan tersebut ramai dikunjungi para seniman, pelaku pasar, atau pemerhati seni. Gedung yang dijadikan galeri atau studio mencapai 200 meter persegi hingga 1.000 meter persegi. Karya-karya berukuran besar di ruang yang luas niscaya merefleksikan kegairahan kreatif seni rupa China. Direktur Eksekutif Dangdai International Art Festival, yang digelar di 798 Art Distric, Berenice Angremy, mengungkapkan, kawasan tersebut dulu merupakan pabrik instalasi telekomunikasi militer. Tahun 1950 hingga 1980-an, tempat itu dijadikan perusahaan elektronik besar. Setelah lama kosong, gedung-gedung di sana disewa beberapa seniman untuk berkarya. Tahun 2002, ada satu galeri yang dikelola seniman Huang Rui yang menyewa tempat itu dengan tarif sekitar 60 sen RMB per hari per meter persegi. Lama-lama, banyak seniman bergabung, dan harga sewa makin mahal. Gedung yang dibangun zaman perang itu cukup nyaman untuk dijadikan studio atau galeri. Ruangannya besar, los, dan punya banyak jendela yang menyerap cahaya. "Tempat ini sempat mau dikembalikan lagi jadi pabrik elektronik, tetapi kami bertahan. Akhirnya pemerintah mendukung seniman," kata Berenice, saat ditemui di galerinya, Kamis (3/5). Saat ini, para seniman China mengembangkan kawasan lain yang lebih ke pinggiran, yaitu Song Zhuang. Di situ, berkumpul banyak seniman dengan studio yang lebih besar-besar lagi. Sebuah gedung Beijing East Region Art Center yang megah sedang dibangun. Tak jauh dari situ, berdiri museum seluas sekitar 5.000 meter persegi yang dikurasi kritikus ternama, Li Xian Ting. Belasan kilometer dari situ, ada kampung seni lain bernama Wang Jing. Puluhan seniman punya studio yang ditata berderet-deret seperti gudang atau pabrik. Kemakmuran terpampang dari mobil-mobil mewah yang nongkrong di pinggir jalan. "Kami butuh studio besar untuk berkarya dengan ukuran lebih besar dan lebih banyak lagi," kata Ma Ke, seniman yang tinggal di Wang Jing. Pendidikan Hampir semua seniman China berlatar belakang pendidikan akademis di jurusan seni atau desain, dan jarang sekali yang otodidak. Dengan begitu, perguruan tinggi berperan penting dalam melahirkan seniman dan memperkuat jaringan serta wacana seni rupa. Menurut kurator National Art Museum of China (NAMOC), Liu Xi Lin, setidaknya ada 100-an universitas dan akademi yang membuka jurusan seni dan desain di negeri itu. Jika setiap universitas meluluskan 20-50 sarjana per tahun, tentu sarjana seni mencapai 2.000-5.000 orang setiap tahun. "Sarjana seni itu bisa jadi macam-macam model seniman. Seniman yang akhirnya memperoleh pengakuan tentu punya dasar pemahaman dan keterampilan seni yang kuat karena muncul dari kompetisi yang ketat," katanya. Pemerintah sendiri cukup bersemangat memfasilitasi pertumbuhan seni rupa. Ada 33 provinsi dan lima provinsi khusus di negeri itu, dan setiap wilayah memiliki museum sendiri. Kabar-kabarnya, pemerintah masih berencana membangun ratusan museum lagi beberapa tahun mendatang. Kalangan perguruan tinggi menyambut niat itu dengan menggenjot pendidikan. Salah satu programnya, memberikan dasar teori dan teknis melukis yang kuat bagi setiap mahasiswa. Agar menyelami gaya realisme, misalnya, setiap mahasiswa harus mendalami pelajaran melukis anatomi tubuh, termasuk dengan panduan model langsung. "Kami memberi dasar kuat teknis melukis. Setelah itu, mereka bebas mengembangkan diri," kata Su Xinping, pelukis dan Kepala Department of Printmaking Central Academy of Fine Art (CAFA) di Beijing. Pasar bebas Pergeseran ideologi dan kebijakan Pemerintah China juga memberikan sumbangan besar bagi pertumbuhan seni rupa. Dulu, semasa kepemimpinan Mao Zedong, Pemerintah China menerapkan ideologi komunisme tertutup. Revolusi kebudayaan tahun 1966-1976 menjadi contoh, bagaimana rakyat dimobilisasi untuk kepentingan negara, sedangkan hak-hak sipilnya dibungkam. Saat Deng Xiaoping tampil, China berubah menjadi lebih luwes. Pemimpin reformis itu lebih condong untuk berpijak pada ideologi sosialisme yang membuka pintu bagi masuknya pasar bebas dunia. Akhir tahun 1980-an, dia mereformasi negeri itu dengan menerapkan kebijakan "open door policy". Keterbukaan sejak akhir tahun 1970-an itu membuahkan etos nasional untuk mengutamakan industri, pertanian, dan manufaktur. Ketika seni rupa dinilai memberikan keuntungan ekonomi, pemerintah pun mendorong dengan membangun infrastruktur seni rupa yang memadai. Pertumbuhan seni berjalan seiring dengan kemajuan ekonomi. Dalam situasi seperti itu, para seniman merasa lebih bebas berkarya. Kelompok seniman avant garde yang dulu berhadapan dengan pemerintah dan harus bergerilya untuk berekspresi seni, sekarang bisa bebas berkreasi. Mereka yang terpaksa hijrah ke luar negeri, kini bisa pulang ke kampung halaman. Wu Shaoxing, pematung angkatan awal China, mengakui, pada masa tertutup dulu, seniman susah sekali berkarya secara terbuka, apalagi mengkritik pemerintah. Dia sendiri bersama istrinya, Jiang Shuo, memutuskan hengkang ke Austria. Tahun 1980-an, semuanya berangsur berubah. "Sekarang, semuanya sudah terbuka. Banyak patung dan lukisan yang menggambarkan Mao dalam banyak bentuk atau tema, dan ternyata tidak dilarang. Seniman menemukan momen berharga untuk melahirkan karya-karya besar," katanya. Saat ini, seni rupa China berkembang seperti industri raksasa yang diproduksi massal oleh ribuan seniman, tetapi tetap dengan kualitas terjaga. Agar seni rupa di sini juga bisa maju, sepatutnya seniman dan Pemerintah Indonesia tak usah malu-malu untuk belajar ke negeri China.
