Oleh Trias Kuncahyono http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/21/ln/3540800.htm ==================
Perkembangan paling mutakhir di Timur Tengah semakin memudarkan harapan akan segera tercapainya perdamaian di kawasan itu. Dua kekuatan utama PalestinaFatah dan Hamasyang semestinya bahu-membahu, berjuang menghadapi Israel, justru saling berperang. Tidak aneh kalau kemudian Israel memanfaatkan situasi seperti ini untuk melemahkan kekuatan Palestina. Berita terakhir yang dilansir media massa adalah Israel dan AS memberikan bantuan kepada kekuatan Fatah untuk menghadapi Hamas. Bagi Israel dan AS, lemahnya Hamas adalah sangat penting. Hamas selama ini menolak untuk mengakui negara Israel. Hamas juga menolak untuk mengakui perjanjian perdamaian yang sudah pernah dilakukan antara Israel dan Palestina. Selain itu, Hamas juga tidak bersedia untuk menghentikan serangannya terhadap Israel. Berlanjutnya pertempuran antara Fatah dan Hamas sudah pasti melemahkan perjuangan Palestina untuk mewujudkan Negara Palestina Merdeka. Sikap tegas Hamas terhadap Israel merupakan persoalan besar bagi Israel yang tetap mau bercokol di wilayah pendudukan. Munculnya Hamas sebagai kekuatan politiksemula kekuatan militertelah sekaligus memperkuat dan melemahkan perjuangan Palestina di satu sisi, dan di sisi lain memperkuat dan sekaligus melemahkan kekuatan kolonial Israel. Sejak memenangkan pemilihan umum Dewan Legislatif Palestina awal 2006, Hamas tidak lagi menjadi pemain pinggiran dalam panggung politik Palestina (Matthew Levitt, Hamas, Politics, Charity, and Terrorism in the Service of Jihat). Rakyat Palestina jatuh hati kepada Hamas karena beberapa alasan. Pertama, mereka tidak terbawa arus korup di tengah lautan korupsi yang dilakukan oleh kalangan Otoritas Palestina. Kedua, Hamas dapat memberikan pelayanan publik-klinik, program-program sekolah dan ekstrakurikuler, dan membangun pusat-pusat distribusi makanan-yang tidak dapat dilakukan oleh Otoritas Palestina. Ketiga, Hamas telah menunjukkan dirinya sebagai kekuatan yang diperhitungkan oleh Israel. Ini karena Hamas mampu menghajar Israel. Ini penting karena telah menempatkan Palestina tidak hanya senantiasa menjadi korban keganasan Israel. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, dengan naiknya Hamas sebagai kekuatan politik dan juga militer di Palestina yang potensial, prospek perdamaian antara Israel dan Palestina menjadi semakin pudar. Sikap tegas Hamas telah membuat frustrasi Israel sehingga cenderung melakukan tindakan membabi buta. Perpecahan bahkan permusuhan antara Hamas dan Fatah hanyalah salah satu dari begitu banyak persoalan yang menggerogoti usaha penciptaan perdamaian di kawasan itu. Persoalan Hamas dan Fatah merupakan persoalan besar bagi Palestina. Pertanyaan sederhana: bagaimana bisa menghadapi Israel kalau di antara mereka sendiri saling bermusuhan dan saling menghancurkan? Persoalan di dalam tubuh Palestina itu pada gilirannya berdampak pula pada upaya pencarian perdamaian. Masalah Jerusalem Kalaupun pada akhirnya tercapai perdamaian dan kesepakatan antara Fatah dan Hamas dan kemudian mereka bersama-sama berjuang menghadapi Israel, masih ada persoalan lain yang akan menjadi hambatan besar bagi upaya penciptaan perdamaian Timur Tengah. Persoalan itu adalah menyangkut status Jerusalem! Jerusalem, selama bertahun-tahun, telah menjadi penyebab begitu banyak kematian, telah menghancurkan mimpi-mimpi dan para pemimpi. Sejak dahulu kala, lebih dari 3.000 tahun silam, kota yang disebut juga sebagai Kota Perdamaian itu telah menjadi penyebab meletusnya peperangan, menebarkan benih kebencian. Jerusalem memang sebuah paradoks: di dalam dirinya sekaligus mengalir cinta dan kebencian secara bersama-sama dan meluber ke mana-mana. Inilah kota yang sejak dahulu kala selalu diperebutkan. Sejarah telah mencatat betapa banyak perang telah pecah karena Jerusalem. Sejarah juga telah mencatat betapa banyak kematian terjadi karena Jerusalem. Raja-raja saling berperang untuk memperebutkan Jerusalem, kota yang sering disebut sebagai "Bunga Segala Kota" itu. Simbol tiga agama Alan Dershowitz dalam The Case for Peace, How The Arab-Israeli Conflict Can Be Resolved menulis, simbol memiliki kekuatan dahsyat. Simbol-simbol agama bahkan memiliki kekuatan lebih dahsyat. Adalah sangat sulit untuk mengompromikan simbol-simbol agama. Tidak ada simbol agama yang lebih dahsyat kekuatannya selain Jerusalem: "ibu kota abadi Yudaisme", "kota tersuci ketiga" Islam, dan tempat "terjadinya peristiwa-peristiwa sentral" Kristiani yakni penyaliban dan kebangkitan Yesus Kristus. Karena itulah, Jerusalem sangat penting bagi ketiga agama monoteistik itu. Akan tetapi, persoalannya kini, apakah status Jerusalem akan dibiarkan terus seperti sekarang ini: seluruhnya dihaki oleh Israel? Sebelum Perang 1967, Jerusalem Timur ada di bawah kekuasaan Jordania (1948-1967). Seluruh Jerusalem kini diduduki Israel. Semua pihak mengakui bahwa status Jerusalem merupakan salah satu isu yang terus diperdebatkan dalam perundingan perdamaian Israel-Palestina. Upaya untuk menyelesaikan status Jerusalem sudah dimulai sejak tahun 1947 oleh PBB. Pada November 1947, PBB melakukan voting untuk mengakhiri Mandat Inggris atas Palestina mulai 15 Mei 1948. Hasil pemungutan suara itu memutuskan untuk membagi Palestina menjadi dua: wilayah Arab dan Yahudi, dengan Jerusalem sebagai kota internasional. Keputusan PBB itu tidak menjadi kenyataan setelah Perang 1967, Israel merebut Tepi Barat, termasuk Jerusalem Timur, dari tangan Jordania. Sejak itu, Israel menguasai seluruh Jerusalem. Upaya penyelesaian dalam perundingan Oslo juga tidak memberikan hasil. Dalam butir-butir perjanjian Oslo hanya disebutkan terbuka untuk mendiskusikan masalah Jerusalem. Selama status Jerusalem tidak selesai, maka krisis Timur Tengah pun akan terus berlanjut. Dengan demikian, masalah status Jerusalem akan menjadi titik sentral penyelesaian krisis Timur Tengah. Kalaupun Fatah dan Hamas telah bersatu, namun masalah Jerusalem belum terselesaikan, maka api peperangan akan terus berkobar di wilayah tersebut. Mereka yang optimistis akan mengatakan, "Untuk segala sesuatu ada waktunya . Ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai."
