Rekan-rekan, Kewenangan untuk mengumpulkan dan menganalisa data terjadinya kecelakaan tentu ada pada kepolisian, yang tentu agak dipersulit dengan tidak adanya saksi. Tapi dari rangkaian Photo yang di attached oleh seorang rekan, ada beberapa "kesimpulan" yang dapat dipastikan: 1. Dinding pembatas sangat "getas" dan tanpa "reinforcement", terlihat dari kontur pecahannya hampir identis dengan lebar mobil. 2. Mobil tidak melintir, melainkan relative tegak lurus membentur tembok tanpa proses pengereman, kecepatan cukup tinggi (15 25kmh?), terlihat dari bekas roda saat membentur trotoar yang tingginya minimum 20cm. 3. Diudara mobil bersalto hampir 270 derajat, terlihat dari deformasi saat benturan awal dengan bumi adalah bagian belakang. Dari kesimpulan yang minim ini, saya pribadi masih kehilangan "jejak" dari reaksi yang umumnya sangat pasti dilakukan setiap pengendara (terutama pemula) saat terkejut dan panik, yaitu "banting setir". Terlebih, sebelum menumbur tembok, mobil tersebut harus melewati tanggul pemisah setinggi 20cm dengan sudut (tidak tegak lurus), yang berarti roda berikut setirnya harus secara manual di konter kearah kanan agar gerak mobil tetap lurus menuju tembok. Dengan kata lain, hal tersebut juga dapat terjadi saat kunci kontak dalam posisi off (siap dicabut) yang dengan sendirinya pengunci setir berfungsi (posisi setir biasanya mendekati posisi lurus/sedikit kekiri utk setir kanan). Atau, kunci setir berfungsi sendiri alias kesalahan teknis. Semua itu sebenarnya dapat dipastikan pada bangkai mobil dan jejak di TKP. Tapi mengingat benarnya pemikiran rekan ghozan mengenai "nyawa murah" .. saya juga pesimis ini akan diusut. Paling tidak, dari kesimpulan 1 diatas, park house tersebut harus diblokir, diwajibkan merekonstruksi tembok pembatasnya. Dan itu tugas pejabat IPB (ijin penggunaan bangunan) untuk memeriksa park house diseluruh negeri. Salam, Bodo
--- In [email protected], Bambang Soetedjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kemungkinan besar sipengemudi tujuannya injak rem tapi ternyata terinjak gas dan karena panik tidak bisa mengendalikan mobil. Ini hanya suggesti saja. > > Salam > BS > > john simon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mari kita melihat kasus mobil terjun ini dari dua sisi. > Di Kompas diungkapkan, pengemudi (Ny. Rusli) baru belajar mengemudikan mobil selama 1 (satu) bulan. > > Bayangkan, baru belajar menyetir mobil sudah dilepas di medan yang berat, dengan tikungan-tikungan yang tajam, di lantai 6 pula. > Kenapa bukan Pak Rusli, yang pasti lebih mahir menyetir, yang membawa mobil itu? > > Saya berpendapat, kecelakaan ini murni karena kelalaian manusia. > Jangan hanya faktor keamanan gedung ITC Permata Hijau saja yang di- ekspose. Masyarakat hendaknya lebih berhati hati, jika belum mahir menyetir, jangan memaksakan diri, karena nyawa taruhannya. > > Salam. >
