menarik sekali ulasan tentang cerita betawie dari "bang" mulyawan karim ini,
dan terus terang tulisan ini bisa menambah masukan untuk tesis kecil yang sedang coba saya buat tentang proses ketersingkiran masyarakat Betawie, meskipun dengan sudut pandang yang berbeda. namun ada beberapa hal yang menurut saya menarik, dan bisa jadi bacaan ini juga terlalu dini, tapi paling tidak saya memandangnya dari sudut pandang saya sebagai anak betawi, yang menggunakan modeling krisis untuk membaca kondisi kolapsnya sebuah komunitas yang bernama masyarakat Betawie. bagaimana ketersingkiran masyarakat betawi dari ruang hidupnya disebabkan karena ketiadaan ikatan tenurial akibat penguasaan tanah yang diletakkan pada dua pendekatan yakni pendekatan religi dan pendekatan kekuatan fisik. saya mencoba melihat dari beberapa hal. pertama, jika gubernur jakarta dari bang ali hingga (bang) yos, dari unsur militer, bisa jadi ini memang sengaja didesign oleh penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya. ini dilakukan sejak jaman kolonial dan hingga hari ini. model penguasaan yang ada dalam masyarakat betawie (mohon dikoreksi jika salah), terletak pada dua kekuatan pendekatan yakni agama (religiusitas) dan kekuatan fisik (jawara), kedua pendekatan ini terus dipakai oleh penguasa. kemungkinan besar tentaralah yang dianggap paling bisa menaklukan kekuatan penguasaan tersebut, paling tidak bisa menaklukkan penguasaan yang menggunakan pendekatan kekuatan fisik. kedua, ali sadikin memang sosok gubernur yang membawa maju jakarta, tapi jangan lupa kalau ali sadikin juga peletak dasar dari model pertumbuhan kota dengan mengabaikan banyak kepentingan keberlanjutan kehidupan, dan ini terus diikuti jejaknya oleh penerusnya, dan bahkan dengan pendekatan yang lebih parah. proses penggusuran masyarakat betawi paling tidak dimulai dari sini, yakni sejak dibangunnya pembangunan geloran senayan. saat itu masyarakat betawi direlokasi, dan masyarakat betawi "menerima" karena ini demi untuk kepentingan bangsa (monumen-monumen bangsa memang digenjot untuk terus dibangun, karena Jakarta ditetapkan sebagai ibukota). tapi apa lacur, toh lebih banyak pusat bisnis dan perkantorannya yang dibangun, daripada fasilitas publik seperti yang dapat kita lihat sekarang. tragisnya, model pembangunan yang menyingkirkan masyarakat betawi ini, justru menjadi baraometer bagi pembangunan di daerah lain di Indonesia. ketiga, jika untuk menghadapi pilkada yang akan berlangsung pada bulan Agustus kedepan, saya pikir tidak terlalu penting juga untuk membicarakan soal calon gubernur dari putra daerah, karena ada hal yang lebih penting dari itu, yakni bagaimana pemerintah kedepan mampu melindungi masyarakat betawi dari proses ketersingkirannya (sebagai pemangku kepentingan yang harusnya lebih diperhatikan) dengan membaca krisis jakarta (khususnya masyarakat betawi dengan kacamata krisis yang benar. menyelamatkan ruang hidup masyarakat betawi bukan hanya sekedar melestarikan kebudayaan lewat tarian, makanan dan sebagainya, tetapi harus lebih dari itu bagaimana agar pemerintah dapat merubah model pembangunannya yang terus menyingkirkan masyarakat betawi, yang antara lain dilakukan dengan melalui rekayasa gaya hidup yang semakin merubah tata konsumsi masyarakat betawi, dan menjadikan masyarakat betawi terus menjadi korban dari pembangunan kota yang didesign sebagai pusat pemerintahan dan pusat pertumbuhan ekonomi INdonesia. sekali lagi terima kasih atas tulisannya. salam hangat, khalisah khalid On 5/19/07, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/19/Fokus/3532366.htm > ======================= > > Ternyata sampai hari ini hampir semua gubernur Jakarta adalah tentara. > Ternyata pula belum ada seorang anak Betawi asli yang berhasil jadi > penguasa di kotanya sendiri. > > Waktu melantik Mayor Jenderal Korps Komando Operasi (KKOsekarang > Marinir) Ali Sadikin menjadi Gubernur Jakarta tahun 1966, Presiden > Soekarno (Bung Karno) menyatakan, Jakarta harus dipimpin oleh seorang > militer yang tegas agar bisa menertibkan dan mengatasi begitu banyak > masalah yang timbul di ibu kota negara itu. > > Entah karena termakan kata-kata Bung Karno atau karena pengaruh rezim > militer Orde Baru yang mulai berkuasa, sejak itu Jakarta nyatanya > memang selalu dipimpin para jenderal Angkatan Darat berbintang dua > atau tiga. > > Tjokropranolo, pengganti Ali Sadikin, juga seorang tentara berpangkat > letnan jenderal. Di zaman revolusi fisik (1945-1949) ia adalah seorang > kapten yang menjadi pengawal pribadi Panglima Besar Sudirman. Dalam > karier militer selanjutnya ia pernah menjabat Asintel Siaga dan > Sekretaris Militer Presiden. Setelah setahun menjadi asisten Gubernur > Ali Sadikin, Tjokropranolo dilantik menjadi Gubernur Jakarta pada Juli > 1977. > > Empat gubernur berikutnya, Soeprapto, Wiyogo Atmodarminto, Surjadi > Soedirdja, dan Sutiyoso yang masih menjabat hingga saat ini, juga para > perwira tinggi militer. > > Soeprapto (1982-1987) adalah letnan jenderal mantan Panglima Kodam XVI > Udayana, Wiyogo (1987-1992) yang berpangkat mayor jenderal pernah > menjadi Panglima Kowilhan II dan Panglima Kostrad. Sementara Surjadi > Soedirdja (1992-1997), juga berpangkat mayjen, dan Letjen Sutiyoso > (1998-2003 dan 2003-2008) sama-sama mantan Panglima Kodam Jaya. > > Sebelum Ali Sadikin, Jakarta dipimpin dua gubernur pendahulu. Salah > seorang di antaranya adalah Soemarno Sosroatmodjo yang juga seorang > mayor jenderal. Ia adalah pemimpin Jakarta pertama dengan jabatan yang > disebut gubernur (1960-1964). > > Soemarno yang juga seorang dokter pernah sekali lagi menjabat gubernur > Jakarta, 1965- 1966, sebelum ia ditahan pengemban Surat Perintah > Sebelas Maret (Supersemar) Mayjen Soeharto, yang kemudian menjadi > presiden kedua Indonesia. > > Henk Ngantung adalah satu-satunya Gubernur Jakarta yang bukan militer. > Henk adalah pelukis dan budayawan dari Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat) > yang berafiliasi ke Partai Komunis Indonesia. Patung di Tugu Selamat > Datang di Bundaran Hotel Indonesia, yang menggambarkan sepasang > pemuda-pemudi yang sedang melambaikan tangan, dibuat berdasarkan > sketsa Henk, yang menjabat gubernur antara tahun 1964 dan 1965. > > Sebelumnya, antara tahun 1945 dan 1960, Jakarta sebetulnya sudah punya > tiga pemimpin: Suwirjo, Sjamsuridjal, dan Sudiro. Mereka memang bukan > tentara, tetapi jabatan mereka waktu itu juga cuma wali kota. Ketika > itu Jakarta masih berstatus kotapraja. Belum menjadi DKI yang > statusnya setara provinsi dan harus dipimpin seorang gubernur. > > Persoalan putra Betawi > > Jika calon gubernur Fauzi Bowo memenangi pilkada DKI Jakarta pada 8 > Agustus mendatang, ia akan menjadi gubernur Jakarta pertama yang bisa > menyebut diri sebagai putra Betawi. Meski ayahnya berasal dari Jawa > Timur, Foke, panggilan Fauzi, juga punya darah Betawi dari garis ibu. > > Kecuali Henk Ngantung yang putra Kawanua kelahiran Manado, Sulawesi > Utara, semua gubernur Jakarta adalah warga pendatang atau keturunan > pendatang dari berbagai daerah di Jawa. > > Tak ditemukan informasi tentang tempat kelahiran Gubernur Soemarno. > Namun, menilik namanya, ia bisa dipastikan berasal dari Jawa Tengah, > Yogyakarta, atau Jawa Timur. Wiyogo yang pasti orang Jawa lahir di > Yogyakarta, 22 November 1922. > > Tjokropranolo, Soeprapto, dan Sutiyoso juga jelas wong Jawa. > Tjokropranolokini sudah almarhumdilahirkan di Temanggung, Jawa > Tengah, 20 Mei 1924; Soeprapto lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 12 > Agustus 1924; dan Sutiyoso adalah putra Semarang, Jawa Tengah, > kelahiran 6 Desember 1944. > > Semua orang tahu, Ali Sadikin juga bukan anak Betawi. Ia adalah urang > Sunda tulen kelahiran Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1927. Adapun > Surjadi Soedirdja, meski dilahirkan di Jakarta pada 11 Oktober 1938, > adalah keturunan menak Banten. > > Penggunaan kata sebutan khas Betawi "bang" bagi gubernur Jakarta baru > jadi tradisi sejak Gubernur Ali Sadikin dan almarhumah istrinya, Ny > Ani Ali Sadikinbiasa disapa dengan sebutan Bang Ali dan Mpok Ani. > Terlepas dari soal pantas tak pantas, beberapa gubernur Jakarta > berikutnya pun kerap disapa dengan predikat "bang". Tjokropranolo > dipanggil Bang Nolly, Wiyogo dipanggil Bang Wi, dan Sutiyoso dipanggil > Bang Yos. > > Bang Ali dan Bang Yos > > Sudah jadi kesepakatan nasional, Jakarta yang ibu kota negara memang > tak harus dipimpin seorang putra daerah. Lagi pula, meski bukan > keturunan penduduk asli, semua gubernur yang pernah memimpin Jakarta > terbukti telah berusaha berbuat maksimal dan sekuat tenaga dalam usaha > menggapai cita-cita segenap anak bangsa menjadikan Jakarta sebagai > kota metropolitan sejati, modern, dan bertaraf internasional. > > Nyaris tak terbantahkan, sampai saat ini Ali Sadikin-lah gubernur > paling sukses dan paling besar jasanya dalam menjadikan Jakarta > sebagai ibu kota negara yang modern. Meski kebijakannya kadang > mengundang kontroversi, di tangan Bang Ali Jakarta mengalami banyak > perubahan berkat berbagai proyek pembangunan yang digagasnya. > > Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek > Senen, Taman Impian Jaya Ancol, dan Kota Satelit Pluit merupakan > sebagian dari hasil karya Bang Ali. > > Pembangunan berbagai prasarana dan sarana lain juga dilakukan Bang > Ali. Ia antara lain berhasil memperbaiki fasilitas transportasi umum > dengan mengadakan banyak bus kota, menata trayek angkutan umum, dan > membangun ribuan haltenya. > > Di bidang kebudayaan dan pariwisata, Bang Ali menggagas tradisi > penyelenggaraan pesta rakyat tahunan dalam rangka menyambut hari jadi > kota Jakarta setiap 22 Juni. > > Ia pun merevitalisasi Pasar Gambir, pasar malam tahunan yang pernah > jadi tradisi di zaman kolonial, yang sebutannya diganti jadi Jakarta > Fair. Jangan dilupakan, pemilihan Abang dan None Jakarta juga > merupakan tradisi yang untuk pertama kali dimulai pada zamannya Bang Ali. > > Khusus untuk mengembangkan kebudayaan Betawi, dengan berbagai cara > Bang Ali selalu berusaha melestarikan berbagai tradisi suku penduduk > asli Jakarta itu, seperti penganan kerak telor serta kesenian > ondel-ondel, lenong, dan topeng betawi. Cagar budaya Betawi di Condet, > Jakarta Timur, juga merupakan warisan Bang Ali. > > Salah satu langkah kontroversial dari Gubernur Ali Sadikin adalah > kebijakan pengembangan dunia hiburan malam. Kebijakan ini > diimplementasikan lewat dikeluarkannya izin pendirian berbagai kelab > malam dan pembangunan kompleks lokalisasi perempuan pekerja seks > komersial di Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Bang Ali pun mengizinkan > kegiatan perjudian di Jakarta, yang, menurut dia, hasil pajaknya bisa > ikut dimanfaatkan untuk membangun kota. > > Dibandingkan dengan gubernur lainnya, Sutiyoso, gubernur Jakarta > sekarang, sebetulnya juga tak kalah hebat dalam menelurkan > gagasan-gagasan besar seperti yang pernah dilakukan Ali Sadikin. Salah > satunya adalah gagasan pembangunan sistem angkutan umum bus rapid transit. > > Meski banyak ditentang warga, termasuk para pengguna kendaraan pribadi > karena mengakibatkan pengurangan lajur jalan, sistem transportasi umum > yang lebih dikenal dengan istilah busway itu tetap dibangun Bang Yos > pada awal 2004, manfaatnya mulai dirasakan banyak warga Ibu Kota. > > Kebijakan lain dari Bang Yos yang layak dicatat, antara lain, adalah > kebijakan yang melahirkan peraturan tentang jumlah penumpang kendaraan > pribadi. Peraturan yang dikenal sebagai peraturan three in one ini > mengharuskan setiap mobil pribadi mengangkut paling tidak tiga > penumpang jika melalui jalan-jalan protokol tertentu pada jam-jam > sibuk, pagi dan sore hari. > > Berbeda dengan para gubernur lainnya, gaya kepemimpinan Bang Yos bisa > dikatakan mirip dengan gaya kepemimpinan Bang Ali. Keduanya sama-sama > selalu menunjukkan ketegasan dalam bertindak. Mereka juga sama-sama > kerap mengabaikan kontroversi publik yang dipicu oleh berbagai > kebijakan dan keputusan yang diambil. Kebetulan, seperti Bang Ali, > Bang Yos pun jadi gubernur Jakarta selama dua kali masa bakti. > > Besar kemungkinan, Ali Sadikin memang punya pengaruh besar pada > Sutiyoso, yang memang sangat menghormati dan menghargai pendahulunya > itu. Penghargaan tinggi ini, misalnya, ditunjukkan Bang Yos dengan > mengangkat Bang Ali sebagai penasihatnya, termasuk dalam soal > pembangunan busway. > > Dalam soal ini Bang Ali kabarnya pernah bilang, "Keberanian dan > ketegasan mengambil keputusan tentang pembangunan busway yang semula > kontroversial merupakan ciri yang memang harus ditunjukkan oleh > seorang gubernur Jakarta." > > Namun, perlu dikaji secara mendalam, apakah kepemimpinan gaya Bang Ali > dan Bang Yos masih sesuai dan masih perlu ditiru oleh gubernur baru > Jakarta hasil pilkada mendatang. > > Ini mengingat, meski terbukti berguna untuk menghasilkan hal-hal yang > positif, kepemimpinan gaya tentara tak lagi menjadi tren di era > reformasi, demokrasi, dan globalisasi sekarang ini. (Mulyawan karim) > > > [Non-text portions of this message have been removed] ===================================================== Pojok Milis Komunitas FPK: 1.Milis komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM) 3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] 5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
