http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/22/Politikhukum/3543104.htm
====================

Jakarta, Kompas - Politik luar negeri Indonesia tidak akan meniru pola
yang diterapkan Presiden Pakistan Jenderal Pervez Musharraf maupun
Presiden Bolivia Evo Morales dan Presiden Venezuela Hugo Chavez.

Presiden Musharraf dinilai cenderung banyak memberi kepada kepentingan
Amerika Serikat (AS) pasca-tragedi "Black September" pada 11 September
beberapa tahun lalu.

Adapun pola Presiden Bolivia dan Presiden Venezuela dinilai cenderung
menolak apa pun yang berbau AS dan globalisasi, seperti menerapkan
kebijakan nasionalisasi pada perusahaan minyak asing yang beroperasi
di negerinya.

Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar yang juga
Wakil Presiden Jusuf Kalla, Minggu (20/5) malam, saat membuka Rapat
Koordinasi Nasional Hubungan Luar Negeri dan Pertahanan DPP Partai
Golkar di Jakarta, Indonesia justru ingin berada di tengah- tengah,
menjaga harmonisasi dengan negara-negara lainnya di dunia.

"Pola Musharraf, Chavez, dan Morales tidak akan kita gunakan. Yang
satu menerima dan yang satunya selalu menolak. Kita tidak mengikuti
pola seperti itu. Politik luar negeri kita bebas aktif dan selalu
berada dalam harmonisasi. Jadi, jangan harapkan kita menjadi Musharraf
ataupun Chavez dan Morales," ujar Wapres.

Wapres menyatakan, segala kemampuan dalam negeri, seperti sumber daya
alam dan energi, seharusnya bisa menjadi alat kemampuan bangsa
Indonesia sehingga bisa dijadikan pengaruh untuk menjaga harkat dan
martabat bangsa.

"Itulah (kemampuan alam) yang seharusnya bisa memberikan pengaruh
dalam hubungan kita dengan negara-negara lainnya. Tanpa kekuatan dan
kemampuan ekonomi yang optimal dengan pengelolaan sumber daya alam dan
energi itu, kita tidak akan menjadi bangsa yang diperhitungkan dan
mempunyai pengaruh di dunia," ungkap Kalla.

Diplomasi lemah

Sementara itu, dalam acara yang sama kemarin, Wakil Ketua Komisi I
Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia Sidarto Danusubroto menilai,
kemampuan diplomasi Indonesia sekarang amat lemah dan tidak bebas. Hal
ini diakibatkan oleh kondisi ekonomi dan militer dalam negeri.

"Kekuatan diplomasi suatu negara amat ditentukan oleh kemampuan
ekonomi dan militernya. Padahal, ekonomi Indonesia masih belum
sepenuhnya bebas dari krisis. Secara militer, kita hanya terkuat nomor
lima atau empat di Asia Tenggara," kata Sidarto.

Dalam keadaan seperti ini, politik luar negeri Indonesia menjadi amat
aktif, namun tidak bebas. "Indonesia menjadi bayang- bayang negara
adikuasa. Kita tidak perlu ditekan karena sudah dengan sendirinya
mengikuti arus besar yang ada," kata Sidarto.

"Contoh paling nyata dalam kasus ini adalah soal dukungan Indonesia
terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1747 tentang masalah nuklir
Iran. Secara akal sehat, dukungan itu sulit dicerna dan menyakitkan
rakyat Indonesia serta Iran," kata Sidarto. (NWO/HAR

Kirim email ke