Bagiku pernyataan pemerintah, terlebih Jusuf Kalla, mencerminkan sikap politik 
yang oportunis hipokrit, mencari peluang untuk mendapatkan keuntungan dari 
banyak pihak tidak peduli idealisme negara yang lebih mengacu pada nilai-nilai 
kemanusiaan universal sesuai dengan semangat pembukaan UUD bahwa  "penjajahan 
diatas dunia harus dihapuskan , karena tidak sesuai dengan  perikemanusiaan  
dan perikeadilan ..." (pembukaan UUD alinea 1). 

Keberpihakan terhadap AS dengan membiarkan penetrasi unilateral dan 
neoliberalnya di Indonesia dan bersikap "netral" terhadap nasib negara lain, 
seperti Irak, Afganistan, Palestina, dan negara-negara boneka AS menunjukkan 
sikap yang tidak sejalan dengan semangat UUD tersebut.  

Seperti yang kita ketahui  neoliberalisme dan kapitalisme yang dimotori AS 
semakin meningkatkan upaya-upaya pemiskinan rakyat. Mereka yang tidak bermodal 
dan tidak berpendidikan tinggi akan semakin miskin dan akhirnya mati 
perlahan-lahan. Rakyat miskin akan semakin miskin. Pengusaha-pengusaha besar 
atau konglemerat akan semakin kaya. Kesenjangan kelas sosial ekonomi akan 
semakin melebar. Negara tergadaikan karena aset-aset negara yang seharusnya 
menjadi aset yang dapat mensejahterakan rakyat Indonesia terjual dan dipegang 
kendali oleh negara-negara asing neoliberalistik.  Pasti akan banyak yang 
busung lapar, pasti akan banyak anak jalanan, pasti akan banyak perempuan  yang 
diperdagangkan. Juga, semakin banyak pengusaha yang menjadi penguasa. 

Indonesia harus mandiri, berdikari, dan memiliki sikap politik yang tegas, 
yakni anti penjajahan, dan bentuk penjajahan di jaman ini adalah 
neoliberalisasi.

Salam pembebasan. 

----- Original Message ----
From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, May 22, 2007 10:01:59 AM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Indonesia Tidak Meniru Bolivia dan Pakistan









  


    
            http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0705/ 22/Politikhukum/ 
3543104.htm

============ ========



Jakarta, Kompas - Politik luar negeri Indonesia tidak akan meniru pola

yang diterapkan Presiden Pakistan Jenderal Pervez Musharraf maupun

Presiden Bolivia Evo Morales dan Presiden Venezuela Hugo Chavez.



Presiden Musharraf dinilai cenderung banyak memberi kepada kepentingan

Amerika Serikat (AS) pasca-tragedi "Black September" pada 11 September

beberapa tahun lalu.



Adapun pola Presiden Bolivia dan Presiden Venezuela dinilai cenderung

menolak apa pun yang berbau AS dan globalisasi, seperti menerapkan

kebijakan nasionalisasi pada perusahaan minyak asing yang beroperasi

di negerinya.



Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar yang juga

Wakil Presiden Jusuf Kalla, Minggu (20/5) malam, saat membuka Rapat

Koordinasi Nasional Hubungan Luar Negeri dan Pertahanan DPP Partai

Golkar di Jakarta, Indonesia justru ingin berada di tengah- tengah,

menjaga harmonisasi dengan negara-negara lainnya di dunia.



"Pola Musharraf, Chavez, dan Morales tidak akan kita gunakan. Yang

satu menerima dan yang satunya selalu menolak. Kita tidak mengikuti

pola seperti itu. Politik luar negeri kita bebas aktif dan selalu

berada dalam harmonisasi. Jadi, jangan harapkan kita menjadi Musharraf

ataupun Chavez dan Morales," ujar Wapres.



Wapres menyatakan, segala kemampuan dalam negeri, seperti sumber daya

alam dan energi, seharusnya bisa menjadi alat kemampuan bangsa

Indonesia sehingga bisa dijadikan pengaruh untuk menjaga harkat dan

martabat bangsa.



"Itulah (kemampuan alam) yang seharusnya bisa memberikan pengaruh

dalam hubungan kita dengan negara-negara lainnya. Tanpa kekuatan dan

kemampuan ekonomi yang optimal dengan pengelolaan sumber daya alam dan

energi itu, kita tidak akan menjadi bangsa yang diperhitungkan dan

mempunyai pengaruh di dunia," ungkap Kalla.



Diplomasi lemah



Sementara itu, dalam acara yang sama kemarin, Wakil Ketua Komisi I

Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia Sidarto Danusubroto menilai,

kemampuan diplomasi Indonesia sekarang amat lemah dan tidak bebas. Hal

ini diakibatkan oleh kondisi ekonomi dan militer dalam negeri.



"Kekuatan diplomasi suatu negara amat ditentukan oleh kemampuan

ekonomi dan militernya. Padahal, ekonomi Indonesia masih belum

sepenuhnya bebas dari krisis. Secara militer, kita hanya terkuat nomor

lima atau empat di Asia Tenggara," kata Sidarto.



Dalam keadaan seperti ini, politik luar negeri Indonesia menjadi amat

aktif, namun tidak bebas. "Indonesia menjadi bayang- bayang negara

adikuasa. Kita tidak perlu ditekan karena sudah dengan sendirinya

mengikuti arus besar yang ada," kata Sidarto.



"Contoh paling nyata dalam kasus ini adalah soal dukungan Indonesia

terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1747 tentang masalah nuklir

Iran. Secara akal sehat, dukungan itu sulit dicerna dan menyakitkan

rakyat Indonesia serta Iran," kata Sidarto. (NWO/HAR


Kirim email ke