Saya pikir perbedaan kita sangat mendasar dalam cara pandang melihat
sesuatu.

*Aborsi*

Bagi saya, itu kekejaman dimana terjadi pembunuhan terhadap bayi oleh ibunya
sendiri. Tidak bisa ditolerir oleh alasan apapun, kecuali keselamatan jiwa
sang ibu, yang kalau proses kelahiran dilanjutkan, malah sang ibu yang
kehilangan jiwanya.

Bagi Bu Nana, aborsi boleh saja:
- kasihan perempuan hamil di luar nikah bakal dinista, legalisasikan aborsi,
binasakan saja bayinya.
- kasihan perempuan hamil bisa dikeluarkan dari pekerjaan, legalisasikan
aborsi, binasakan saja bayinya.
- kasihan perempuan bekerja punya anak, bisa dianggap tidak becus,
legalisasikan aborsi, binasakan saja bayinya.
- kasihan siswi perempuan hamil, bisa dikeluarkan dari sekolah,
legalisasikan aborsi, binasakan bayinya.
- sang bayi bisa membahayakan kehidupan sosial sang calon ibu, legalisasikan
aborsi, binasakan bayinya.

Saya coba baca-baca lagi kasus-kasus di atas, sepertinya *SANGAT BANYAK* hal
lain yang bisa dilakukan dan tidak perlu mengarah ke aborsi. Kenapa ya
kepala kita terarah untuk menyalahkan kehadiran sang bayi?

Aborsi adalah usaha menyelesaikan masalah secara gampang (dan SANGAT EGOIS).
Binasakan saja bayinya, kelompok yang belum bisa membela dirinya sendiri
itu.

Oleh karena itu, saya mengatakan di email saya sebelumnya: *Hal lebih
mendasar* yang diperlukan manusia sebenarnya perjuangan membentuk
kelompok-kelompok yang memiliki hati seperti Bunda Theresa, bagaimana
membuka hati dan pikiran manusia sehingga kita hidup penuh kebaikan.

Dengan cara demikian, manusia bisa mengatur dirinya sendiri (bahkan sangat
banyak menolong orang lain) sehingga tidak membangun dilema bagi hidupnya
sendiri, yang ketika dilema itu sudah terjadi, mengambil jalan gampang,
salah satunya: *binasakan saja bayinya*.
Masalah di dunia ini *banyak* disebabkan oleh manusia sendiri.

Apakah janin di bawah 3 bulan belum jadi manusia?
Ini masalah kepercayaan, susah berdebatnya, seperti masalah poligami. Kalo
poligami bukan masalah kepercayaan, saya sangat ragu ada kelompok yang
bangkit untuk membelanya.

Binasakan saja bayinya.

Terima kasih, Bu Nana, saya pikir diskusi kita sudah cukup untuk saling
mengerti.
Cara pandang kita secara mendasar sangat berbeda.
Seperti Bu Nana sulit mendidik pikiran orang untuk tidak patriarkal, saya
juga akan sulit membagikan pikiran saya kepada Bu Nana tentang aborsi. Perlu
perubahan pola pikir yang sangat mendasar.
Tapi saya sangat mendukung gerakan membela hak-hak wanita. Pola pikir dunia
ini belum mengakomodasi wanita. *Selamat berjuang*, *tapi hati2 tergelincir*
.

Salam,
Jhoni Tuerah

"It is a poverty to decide that a child must die so that you may live as you
wish."



"What is taking place in America," she said, "is a war against the child.
And if we accept that the mother can kill her own child, how can we tell
other people not to kill one another."





The so-called right to abortion has pitted mothers against their children
and women against men ............. It has portrayed the greatest of gifts
-- a child -- as a competitor, an intrusion, and an inconvenience. It has
nominally accorded mothers unfettered dominion over the independent lives of
their physically dependent sons and daughters."





The right to life does not depend, and must not be declared to be
contingent, on the pleasure of anyone else, not even a parent or a
sovereign.





How do we persuade a woman not to have an abortion?

As always, we must persuade her with love, and we remind ourselves that love
means to be willing to give until it hurts. Jesus gave even his life to love
us.

So the mother who is thinking of abortion, should be helped to love - that
is, to give until it hurts her plans, or her free time, to respect the life
of her child.





By abortion, the mother does not learn to love, but kills even her own child
to solve her problems.







------------------------------

*From:* Nana P [mailto:[EMAIL PROTECTED]
*Sent:* Monday, May 21, 2007 8:30 PM
*To:* Tuerah, Jhoni
*Cc:* FPK Kompas; Mediacare; Rumahkitabersama; Perempuan
*Subject:* Re: Abortion



Pak Jhoni,

Dalam artikel pendek saya mengenai aborsi, saya menulis "there must be a
strict regulation though; that is to do the abortion before the pregnancy
reaches three months old". Sepengetahuan saya Tuhan meniupkan roh kepada
calon jabang bayi, untuk memberinya kehidupan, pada saat calon jabang bayi
memasuki usia kehamilan 3 bulan. (Seperti juga peraturan yang ada di
Tunisia, satu artikel yang saya baca di blog http://dedepermana.blogspot.com).
Setelah lebih dari usia kehamilan 3 bulan, yang dilakukan baru bisa
dikategorikan sebagai pembunuhan. Sebelum itu, karena belum ada ruh yang
hidup dalam segumpal darah tersebut, berarti belum bisa dikategorikan
sebagai pembunuhan.

Aborsi tentu saja merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan kehidupan
sang calon ibu, entah karena kehamilan itu membahayakan jiwa sang calon ibu,
mungkin juga kelahiran sang jabang bayi tersebut akan membahayakan kehidupan
sosial sang calon ibu, dan bisa jadi juga membahayakan kehidupan sang jabang
bayi tersebut seandainya dia dilahirkan. (Berapa banyak jabang bayi yang
baru saja lahir di'binasakan' oleh sang ibu karena dia merasa bakal
dinistakan? Hal ini tentu saja jauh lebih kejam daripada menghentikan
kehamilan tatkala kehamilan tersebut belum mencapai usia 3 bulan.)

Saya percaya bahwa seorang perempuan yang dewasa akan lebih memilih
melakukan hubungan seks yang aman daripada dia harus berurusan dengan meja
dokter untuk aborsi berulang kali. Meskipun saya menulis artikel yang
intinya untuk melegalkan aborsi di Indonesia, (seperti di Tunisia), saya
pribadi lebih memilih jalan aman untuk menghindari aborsi, yakni ya itu
tadi, melakukan hubungan seks yang aman, maupun no sexual intercourse at
all. J

Saya masih menunggu masyarakat yang akan menerima secara wajar seorang
perempuan yang hamil di luar pernikahan yang biasanya terjadi karena
ketidaktahuannya tentang seks, sehingga dia tidak perlu merasa dihakimi oleh
masyarakat, yang biasanya akan mendorongnya untuk melakukan aborsi.

Saya masih menunggu masyarakat (atau perusahaan-perusahaan) yang membolehkan
pegawai perempuannya untuk hamil, sehingga dia tidak perlu melakukan aborsi
karena dia takut dikeluarkan oleh perusahaan.

Saya masih menunggu masyarakat (atau perusahaan-perusahaan) yang akan
mempekerjakan seorang perempuan yang memiliki anak. Berapa banyak perusahaan
yang akan lebih memilih mempekerjakan seorang perempuan yang single dan
tidak memiliki anak, karena seorang perempuan yang memiliki anak dianggap
tidak akan becus melakukan pekerjaannya atau ditakutkan akan bekerja secara
tidak professional karena harus membagi perhatiannya antara pekerjaan dan
anak? Pada saat yang bersamaan, saya juga menghimbau kepada kaumku,
perempuan, untuk bekerja lebih professional, dan tidak menggunakan alasan
anak untuk mangkir dari tempat kerja. Hal ini bisa diatasi dengan
bersedianya kaum laki-laki ikut membantu mengurusi anak, dan tidak lagi
berpikir bahwa urusan anak hanya milik perempuan saja.

Saya masih menunggu sekolah-sekolah yang membiarkan siswinya untuk terus
bersekolah, meskipun dia hamil. (untuk anak-anak di usia SMP maupun SMA,
biasanya mereka hamil karena ketidaktahuan mereka, karena kurangnya sexual
education, juga karena kurang terbukanya antara anak-anak dan orang tua.)
Kebanyakan sekolah masih sangat bias gender, dengan mengeluarkan siswi yang
hamil, sedangkan siswa (laki-laki) yang menghamilinya tidak dikenai sanksi
apa-apa.

By the way, memang sangatlah diperlukan orang-orang seperti Mother Teresa
yang bersedia untuk menampung bayi yang tidak diharapkan oleh orang tuanya.
Mungkin sudah waktunya bagi kita orang Indonesia untuk membentuk wadah
seperti ini? Sehingga tak ada lagi calon jabang bayi dibunuh hanya karena
orang tuanya merasa miskin, tidak akan mampu membesarkan anaknya, maupun
alasan-alasan lain.



Salam,

Nana

Kirim email ke