Pak SBY yang budiman,
   
  Memang benar sekali "budaya fitnah" harus dihentikan dan disikat bersih
  dari mental rakyat Indonesia.
   
  Fitnah lebih kejam dari pembunuhan!
  Dengan kata lain, seorang tukang fitnah = pembunuh (bukan dengan peluru
  tapi kata-kata beracun yang didesas desuskannya).
   
  Tapi kita perlu berhati-hati Pak SBY!
  Janganlah "krtitik membangun, pendapat berbeda, komunikasi dengan kata
  atau bahasa yang tegas, jelas, langsung dan blak-blakan" yang kadang-kadang
  tidak enak atau mengganggu tidurmu, lantas secara langsung atau tak sadar
  dicap "fitnah"....
   
  Ini perlu diingat Pak SBY!
  Tempo doeloe, siapa saja yang menyuarakan ratapan dan rintihan rakyat kecil
  yang sama sekali melawan pendapat pemerintah Orba bisa dicap "sisa-sisa PKI"
  dan seribu satu tuduhan lainnya yang keji...
   
  Jaga diri Pak SBY, jangan sampai pemerintah (penguasa) yang jadi tukang 
fitnah!
  Kejujuran?
  Rakyat akan jujur kalau apa yang namanya pemimpin, juga jujur pada mereka!
  All the best, we love you!
   
  Salam
  Las.
  

Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/22/Politikhukum/3543029.htm
=====================

Kejujuran Rakyat Dirindukan

Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta kepada
pemimpin, tokoh masyarakat, dan siapa saja untuk menghentikan budaya
fitnah.

Kepada pemimpin dan tokoh masyarakat, Presiden Yudhoyono juga minta
agar hati-hati dalam berbicara karena kekeliruan dalam berbicara akan
membawa dampak yang sangat merusak. "Jangan mengembangkan budaya
fitnah. Hati-hati. Jangankan pemimpin atau tokoh, siapa pun harus
hati-hati dalam bertutur kata. Bayangkan kalau negara kita dalam
lautan fitnah, menuduh orang sembarangan. Dosanya luar biasa," ujar
Presiden dalam acara silaturahmi dengan pengasuh pondok pesantren
se-Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/5).

Lebih lanjut Presiden mengatakan, "Orang yang dituduh punya keluarga.
Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Belum lagi yang difitnah
karena dicemarkan nama baiknya, menuntut ke pengadilan. Negara kita
yang harusnya tenteram dan damai, jadi saling tuntut-menuntut.
Kontrolnya ada dalam diri kita. Mari kita hati-hati dalam berbicara."

Hadir dalam silaturahmi itu, sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama dan
pengurus pusat serta wilayah Rabithah Ma'ahid Islamiyah (asosiasi
pondok pesantren se-Indonesia). Presiden didampingi Menteri Agama
Maftuh Basyuni dan Sekretaris Negara Sudi Silalahi.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Rozy Munir yang hadir menafsirkan
permintaan Presiden agar dihentikan budaya fitnah sebagai permintaan
Presiden kepada tokoh masyarakat yang gemar melakukan fitnah untuk
kepentingan politik. "Jika fitnah terus diumbar, solusi hukum akan
berakhir pada hebat-hebatan pengacara. Akan habis waktu kita untuk
meladeni hal yang belum tentu kebenaran kabarnya," ujar Rozy, mantan
anggota Panitia Pengawas Pemilu 2004.

Presiden tidak secara spesifik menyebut fitnah apa yang dilakukan
tokoh masyarakat agar dihentikan. Namun, Rozy menangkap pesan itu
disampaikan terkait dengan maraknya isu soal aliran dana Departemen
Kelautan dan Perikanan untuk kampanye calon presiden dan wapres dalam
Pemilu 2004.

Permintaan jangan memfitnah disampaikan Presiden bersamaan dengan dua
permintaan lain yang diminta untuk dikampanyekan dan disosialisasikan.
Dua permintaan lain itu adalah jangan menggunakan kebebasan tanpa
batas dan jangan melulu menuruti kesenangan duniawi (hedonis).

Permintaan jangan memfitnah pernah disampaikan Presiden saat Perayaan
Tahun Baru Imlek Nasional 2558 di Jakarta, 24 Februari 2007. Saat itu
sedang ramai diberitakan dugaan korupsi pengadaan sistem pemindai
sidik jari di Departemen Hukum dan HAM yang menyeret nama Yusril Ihza
Mahendra yang justru balik melaporkan Ketua Komisi Pemberantasan
Korupsi Taufiequrachman Ruki.

Rindu kejujuran

Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyampaikan kerinduannya akan
kejujuran dan ketulusan rakyat dalam menyampaikan penilaian dan kritik
kepada pemerintah. Di mata rakyat, tidak ada kepentingan politik dan
ambisi muluk-muluk saat memberi penilaian dan menyampaikan kritik.
"Kita rindu kejujuran di negeri ini. Yang benar katakan benar, yang
salah sebutlah salah. Yang baik katakan baik, yang jelek sebutlah
jelek," ujarnya.

Dari pengalamannya melakukan kunjungan mendadak ke Babakan Madang,
Bogor, Jawa Barat, Presiden mengemukakan, keinginan rakyat kebanyakan
sederhana, yaitu pemenuhan kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Karenanya, upaya memenuhi kebutuhan hidup mendasar rakyat akan
diperhatikan pemerintah. "Rakyat tidak muluk-muluk. Tidak bicara
politik tinggi-tinggi," ujar Presiden. (INU) 



         

       
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke