"Presiden Minta Budaya Fitnah Dihentikan" Haa...?! takut dicap koruptor kali karena terima dana DKP dari Rokhmin Dahuri ... . Lebih baik seperti Amien Rais yang berteriak maling teriak dirinya maling, lebih baik meskipun tetap saja jelek!
----- Original Message ---- From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, May 22, 2007 10:00:34 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Presiden Minta Budaya Fitnah Dihentikan http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0705/ 22/Politikhukum/ 3543029.htm ============ ========= Kejujuran Rakyat Dirindukan Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta kepada pemimpin, tokoh masyarakat, dan siapa saja untuk menghentikan budaya fitnah. Kepada pemimpin dan tokoh masyarakat, Presiden Yudhoyono juga minta agar hati-hati dalam berbicara karena kekeliruan dalam berbicara akan membawa dampak yang sangat merusak. "Jangan mengembangkan budaya fitnah. Hati-hati. Jangankan pemimpin atau tokoh, siapa pun harus hati-hati dalam bertutur kata. Bayangkan kalau negara kita dalam lautan fitnah, menuduh orang sembarangan. Dosanya luar biasa," ujar Presiden dalam acara silaturahmi dengan pengasuh pondok pesantren se-Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/5). Lebih lanjut Presiden mengatakan, "Orang yang dituduh punya keluarga. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Belum lagi yang difitnah karena dicemarkan nama baiknya, menuntut ke pengadilan. Negara kita yang harusnya tenteram dan damai, jadi saling tuntut-menuntut. Kontrolnya ada dalam diri kita. Mari kita hati-hati dalam berbicara." Hadir dalam silaturahmi itu, sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama dan pengurus pusat serta wilayah Rabithah Ma'ahid Islamiyah (asosiasi pondok pesantren se-Indonesia) . Presiden didampingi Menteri Agama Maftuh Basyuni dan Sekretaris Negara Sudi Silalahi. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Rozy Munir yang hadir menafsirkan permintaan Presiden agar dihentikan budaya fitnah sebagai permintaan Presiden kepada tokoh masyarakat yang gemar melakukan fitnah untuk kepentingan politik. "Jika fitnah terus diumbar, solusi hukum akan berakhir pada hebat-hebatan pengacara. Akan habis waktu kita untuk meladeni hal yang belum tentu kebenaran kabarnya," ujar Rozy, mantan anggota Panitia Pengawas Pemilu 2004. Presiden tidak secara spesifik menyebut fitnah apa yang dilakukan tokoh masyarakat agar dihentikan. Namun, Rozy menangkap pesan itu disampaikan terkait dengan maraknya isu soal aliran dana Departemen Kelautan dan Perikanan untuk kampanye calon presiden dan wapres dalam Pemilu 2004. Permintaan jangan memfitnah disampaikan Presiden bersamaan dengan dua permintaan lain yang diminta untuk dikampanyekan dan disosialisasikan. Dua permintaan lain itu adalah jangan menggunakan kebebasan tanpa batas dan jangan melulu menuruti kesenangan duniawi (hedonis). Permintaan jangan memfitnah pernah disampaikan Presiden saat Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2558 di Jakarta, 24 Februari 2007. Saat itu sedang ramai diberitakan dugaan korupsi pengadaan sistem pemindai sidik jari di Departemen Hukum dan HAM yang menyeret nama Yusril Ihza Mahendra yang justru balik melaporkan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Taufiequrachman Ruki. Rindu kejujuran Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyampaikan kerinduannya akan kejujuran dan ketulusan rakyat dalam menyampaikan penilaian dan kritik kepada pemerintah. Di mata rakyat, tidak ada kepentingan politik dan ambisi muluk-muluk saat memberi penilaian dan menyampaikan kritik. "Kita rindu kejujuran di negeri ini. Yang benar katakan benar, yang salah sebutlah salah. Yang baik katakan baik, yang jelek sebutlah jelek," ujarnya. Dari pengalamannya melakukan kunjungan mendadak ke Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat, Presiden mengemukakan, keinginan rakyat kebanyakan sederhana, yaitu pemenuhan kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Karenanya, upaya memenuhi kebutuhan hidup mendasar rakyat akan diperhatikan pemerintah. "Rakyat tidak muluk-muluk. Tidak bicara politik tinggi-tinggi, " ujar Presiden. (INU)
