Sebaiknya masyarakat diberikan informasi tentang baik buruknya nuklir, lalu keputusan pembangunan PLTN bukan hanya diserahkan kepada ahli nuklir dan pemerintah saja tetapi juga melibatkan masyarakat. Kalau alasan pembangunan PLTN karena kekurangan energi, analisa saja kebijakan pemerintah tentang neraca energi. Kasus harga gas yang akan diusulkan naik PGN. Pemerintah mengekspor gas, lalu terjadi kekurangan pasokan gas didalam negeri, berarti pemerintah harus impor gas dengan harga pasar dunia. Akhirnya harga jual gas dalam negeri kelihatan lebih murah dari harga gas impor, berarti harga gas dalam negeri harus dinaikkan. Belum lagi biaya transportasi yang akan dibebankan kepada konsumen. Pertanyaannya apakah bijaksana ? Pemerintah sangat bijaksana kalau mengutamakan kebutuhan dalam negeri dan gas tidak perlu diekspor. Gas yang tidak diekspor bisa menutup defisit energi dalam negeri. Belum lagi kebijakan energi lainnya seperti minyak bumi kasusnya juga sama. Ekspor minyak lalu beli minyak katanya lebih untung, tapi apakah publik mendapat informasinya. Logika sederhana biaya transportasi juga dibebankan kepada masyarakat. Begitu juga batu bara di ekspor keluar negeri, kenapa tidak digunakan untuk cadangan dalam negeri ? Setelah terjadi ekpor dan impor energi akhirnya Indonesia kekurangan energi, berarti kekurangan energi harus ditutup dengan energi PLTN. Kita analisa lagi harga minyak goreng didalan negeri naik, karena ekspor meningkat, jadi konsumen harus menanggung kenaikan harga minyak goreng. Buat apa minyak diekspor karena di eropa minyak goreng bukan untuk menggoreng tetapi untuk menggerakan mesin mobil atau campuran untuk solar, Lagi lagi energi yang kita ekspor, apakah kita menyadari bahwa banyak sekali energi yang di ekspor pemerintah. Alasan utama kalau pemerintah tidak mengekspor energi, APBN akan defisit, sehingga tidak mungkin pemerintah menahan cadangan energi dengan mengorbankan pembangunan. Kita juga harus menyadari, membangun PLTN juga mengimpor energi, berarti rakyat ikut menanggung pembelian energi PLTN. Berarti ada jual beli energi, kenapa pemerintah dagang energi, pakai saja energi tersebut untuk kebutuhan dalam negeri, kekurangannya barulah diimpor. Amerika Serikat punya cadangan energi sangat melimpah, tetapi Amerika mengimpor energi dalam jumlah besar dari Negara lain, terutama minyak dari timur tengah. Amerika melakukan semuanya untuk memberikan warisan kepada anak cucunya bahwa orang tuanya memanfaatkan sumber energi untuk kepentingan jangka panjang bagi bangsanya. Bagaimana dengan Indonesia Apakah para pemimpin kita memikirkan warisan enegi untuk anak cucu bangsanya ? Analisa saja kebijakan yang dilakukan Pemerintah terhadap sumber energi yang dimilikinya tanah airnya. Salam, Iwan Kurniawan ----Original Message----- From: Chairul Hudaya [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: 22 Mei 2007 17:48 To: [email protected] Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Menggalang Sikap Anti PLTN Muria Jepara Terlepas pro dan kontra dari pembangunan PLTN tersebut, saya melihat bahwa pembangunan PLTN di Indonesia ini bagai memakan buah simalakama. Maju kena, mundur kena. Penilaian saya pribadi, PLTN mempunyai banyak keuntungan dibanding kerugiannya. Memang sangat susah untuk meng-educate masyarakat, menjadikan masyarakat paham apa itu PLTN. Mungkin yang ada dipikiran masyarakat, PLTN diidentikan dengan "BOM" yang meledak di hirosima dan Nagasaki, atau kecelakaan fatal di chernobyl. Padahal didunia ini banyak sekali PLTN yang beroperasi dan semuanya aman aman saja tuh.
Sedikit informasi saja : 1 gram uranium melalui reaksi fisi akan menghasilkan energi yang setara dengan 3 metrik ton batubara. Bayangkan efisiensi yang bisa didapat dengan PLTN. Ini salah satu contoh saja... Konon sewaktu para anggota DPR berkunjung ke Negeri Ginseng beberapa waktu yang lalu, mereka menanyakan bagaimana cara yang terbaik untuk meyakinkan masyarakat agar yakin bahwa dengan pembangunan PLTN akan membawa kepada kemaslahatan ummat manusia. Ini hanya sekedar komentar dari orang yang sedang belajar nuklir. Salam CH - SeouL
