Oleh Daoed Joesoef
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/23/opini/3207728.htm
=====================

Ada artikel di harian Kompas (8/12/2006) berjudul "Ibadah Ilmu", buah
pikiran Sulistyowati Irianto, yang begitu mengingatkan hingga tidak
pantas jika tidak ditanggapi. Dia menyayangkan mengapa ilmuwan
"terlalu diam" dengan dalih "obyektivitas" dan "netralitas" dan lalu
mengajaknya untuk melibatkan diri dalam masalah kemanusiaan untuk
mampu membuat ilmu menjadi suatu ibadah dalam rangka perumusan jawaban
yang diperlukan.

Harus diakui bahwa pengetahuan dikembangkan praktis di Eropa sejak
zaman Pencerahan begitu rupa hingga menjadi "pengetahuan ilmiah" atau
"ilmu pengetahuan" (IP) tentang alam. Metode pengembangannya berupa
laboratory experiment, yaitu memanipulasi parameter yang efeknya
dipertanyakan, melakukan parallel control experiments terhadap
parameter yang ditetapkan konstan, mempertahankan lain-lain parameter
terus- menerus konstan, mengopi baik manipulasi eksperimental maupun
control experiment dan mendapatkan data kuantitatif. Metode ini tidak
hanya berhasil dalam penanganan fisika, tetapi juga untuk urusan kimia
dan biologi molekular, hingga disimpulkan bahwa eksperimentasi adalah
hakikat metode ilmiah.

Jadi, sejak awal IP dikembangkan sebagai pengorganisasian pengetahuan
begitu rupa hingga ia dapat mengungkapkan lebih banyak lagi potensial
yang tersembunyi dalam alam guna selanjutnya diamalkan oleh manusia.
Pengamalan IP ini membuahkan fakta mulai dari teori kinetic gaz dan
telepon, melalui jembatan gantung dan mesin penggerak, hingga
obat-obatan dan medicated toothpaste. Maka, ibadah ilmu dapat
dikatakan membantu manusia mewujudkan "emansipasi fisik", yaitu
pembebasan humanitas dari kekuatan alam, dari kekuasaan alami.

Dengan mengembangkan ilmu alam, para ilmuwannya sejak awal tidak
bermaksud mengubah alam, cukup dengan mengetahui rahasianya saja.
Mereka sadar tidak mungkin mengintervensi pembentukan galaksi,
mengatur ulang peredaran planet dan bintang, memusnahkan secara
eksperimental fauna dan flora tertentu lalu menggerakkan kembali
kehidupan evolusionernya, memulai dan menyetop badai serta zaman es.
Namun, dengan pengetahuan ilmiahnya, mereka bertekad menolak atau
mengurangi fatalitas yang ditimbulkan oleh malapetaka alam yang tak
terelakkan.

Membantu nasib manusia

Pengetahuan sosial dan humanities yang datang belakangan mengadopsi
begitu saja agar dikualifikasi sebagai "ilmiah", metode kerja ilmu
alam, yaitu the standard empiricism. Ilmu-ilmu non-alam tersebut
dikembangkan juga dengan maksud membantu nasib manusia menjadi lebih
baik. Sebab, semakin disadari bahwa tanpa IP, the modern world is
indeed inconceivable. Namun, untuk memperbaiki, menyempurnakan,
kehidupan sosial, dan masyarakat human; kehidupan dan masyarakat ini
harus diintervensi. Berarti, ilmu sosial tidak cukup hanya berusaha
"memahami" kehidupan sosial dan masyarakat human, tetapi demi
terwujudnya "emansipasi sosial", ia harus mencampuri, ikut menata,
kehidupan dan masyarakat tersebut.

Dengan perkataan lain, ilmu sosial harus "mengambil keputusan", beda
dengan ilmu alam yang tidak harus berbuat begitu karena ia memang
tidak ingin mencampuri struktur alami dan jalannya alam, yang adalah
kreasi Tuhan, jadi sudah cukup sempurna.

Jadi, walaupun sama-sama manusia berilmu, kiranya perlu disadari
perbedaan fundamental antara sikap "ilmuwan alam" dan "ilmuwan
sosial". Ilmuwan alam (scientist) maunya menjadi "penganut ilmu" dan
sebagai penganut yang carrect—sama dengan penganut agama atau
kepercayaan apa pun—dia tunduk pada ketentuan ilmu yang dihayatinya.
Ilmu alam tidak mengambil, apalagi mendikte, keputusan. Ia hanya
memaparkan keadaan alami apa adanya sebagai suatu kebenaran yang
terjelaskan dan menjelaskan (explanatory truth). Jadi, kalau ilmuwan
alam sebagai scientist bersikap "diam" (netral) terhadap (jalannya)
alam adalah wajar. Namun, karena dia "memahaminya" adalah wajar pula
kalau dia menyiapkan segala sesuatu untuk mengelakkan fatalitas yang
ditimbulkan oleh alam, bukan untuk mengatur atau menata ulang alam.

Ilmuwan sosial, orang berilmu yang kadang kala disebut scholar, maunya
menjadi "pemilik ilmu" dan sebagai pemilik bersikap sebagai "penguasa
ilmu", mau menggunakan ilmunya untuk mengintervensi kondisi kehidupan
sosial dan masyarakat human. Sedangkan ilmunya sebenarnya tidak
mengambil keputusan ke arah itu karena ia terbentuk menurut standard
empericism dari ilmu alam yang bertujuan untuk sekadar "memahami".

Jadi, "memahami" adalah satu hal, sedangkan menerapkannya begitu saja
sebagai suatu kekuatan intervensi ilmiah adalah hal lain lagi.
Artinya, kalau seorang ilmuwan sosial merasa terpanggil untuk
memperbaiki/menyempurnakan kehidupan sosial dan masyarakat human
selaku scientist—penganut ilmu dan tidak sekadar sebagai seorang
"intelektual"—dia harus berbuat supaya "ilmu sosialnya" itu
berpembawaan "mengambil keputusan", bersendikan "kebenaran yang
bernilai" (valuable truth), berkat metode pembentukannya sendiri yang
khas.

Dan metode yang khas baginya itu adalah aim-oriented empiricism, bukan
standard empericsm dari ilmu alam. Dan hal ini sah-sah saja mengingat
science yang berarti knowledge—dari kata Latin scire (mengetahui) dan
scientia (pengetahuan)—diperoleh dengan metode apa saja selama
dianggap paling sesuai dengan bidang khusus (sosial) tadi. Mengingat
aim-oriented empiricism ini tidak memungkinkan eksperimen
laboratorium, empirismenya diperoleh dengan cara-cara lain, berupa
"observasi", "perbandingan" (comparison), dan apa yang disebut natural
experiments.

Galaksi

Jika astronom yang mempelajari pembentukan galaksi tidak mungkin
memanipulasi sistemnya dalam eksperimen laboratorium yang terkontrol,
demikian pula halnya dengan sejarawan human atau yuris atau
antropolog. Namun, mereka dapat memanfaatkan natural experiments,
yaitu membanding-bandingkan sistem yang berbeda berkat ada-tidaknya,
atau kuat-lemahnya efek, dari some putative causative factors.

Tidak bebas nilai

Memang jauh lebih sulit menyimpulkan asas-asas umum (hukum) dari
pembelajaran gejala sosial (sejarah, hukum, dan lain-lain) daripada
pembelajaran gejala alam (orbit planeter dan lain-lain). Namun, hal
ini tidak terlalu fatal karena sejujurnya kesulitan yang sama dialami
juga oleh subyek-subyek keilmuan yang sudah terjamin tempatnya di
lingkungan ilmu-ilmu kealaman, seperti astronomi, klimatologi,
ekologi, biologi evolusioner, geologi, dan palaentologi.

Walaupun begitu, tidak bisa dikatakan bahwa IP, baik alam lebih-lebih
sosial, adalah "bebas nilai". Yang benar adalah bahwa metode ilmiah
adalah "bebas emosi", dalam artian, in its perfect application it
proceeds rigorously regardless of values to which there may be deep
emotional reactions pro or con. Tetapi, hal ini tidak membuat "ilmu"
yang dihasilkannya "bebas nilai" mengingat IP itu sendiri merupakan
suatu nilai. Jika tidak, untuk apa ia dikembangkan dengan menghabiskan
begitu banyak biaya in terms of energi, waktu, dan uang.

IP memang perlu diamalkan. Ilmuwan sosial seharusnya merasa terpanggil
untuk turun tangan, mencampuri kondisi kehidupan sosial dan masyarakat
human sebelum terlambat. Jika tidak, kondisi ini terus ditentukan oleh
kebijakan politik (policy), semakin diacak-acak seenaknya oleh
politikus demi kepentingan primordialnya sendiri. Sedangkan
"politik"—baik sebagai "kiat" maupun selaku "profesi"—cenderung
menjauhi diktum "politik" sebagai "ilmu pengetahuan". Namun, dalam
mengintervensi ilmuwan sosial seharusnya tetap bertindak selaku
scientist mengingat ilmu yang dihayatinya itulah yang "memutuskan" begitu.

Berarti, pengembangan ilmu sosialnya perlu dibenahi menurut ketentuan
aim-oriented empiricsm sebab far from letting politics corrupt
science, science needs to contribute to the decorruption of politics!

Daoed JOESOEF Docteur d'Etat es Sciences Economiques Universite
Pluridisciplanaires Pantheon-Sorbonne de Paris I 

Kirim email ke