Oleh Herry Tjahjono
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/23/opini/3543286.htm
======================

Ada tiga salah kaprah gejala kehidupan yang memprihatinkan di negeri
ini. Pertama, salah kaprah paradigma yang sadar atau tidak telah
menggiring orang untuk memutarbalikkan hukum alam, "hidup sejati"
dengan "konsekuensi logis kehidupan". Hidup sejati adalah inti,
hakikat, comes first. Konsekuensi logis adalah perifer, kulit, comes
later. Yang seharusnya dikejar lebih dahulu adalah hidup sejati dan
konsekuensi logis akan datang dengan sendirinya.

Ilustrasinya sederhana, seorang pelajar hidup sejatinya adalah menjadi
pelajar sejati (cerdas, bukan hanya otak, tetapi juga kepribadian,
watak, dan sebagainya). Jika sudah jadi pelajar sejati, konsekuensi
logis akan datang sendirinya, seperti nilai dan peringkat yang baik.
Tapi kenyataannya, dunia pendidikan sekarang, orang tua, menggiring
anak untuk lebih dulu mengejar nilai dan peringkat. Maka, berbagai
penyimpangan terjadi demi nilai dan peringkat yang "hanya" konsekuensi
logis itu. Demikian juga atlet, yang terjadi adalah upaya untuk lebih
dulu mengejar hadiah dan uang, bukannya menjadi atlet sejati.

Secara umum, demikianlah yang terjadi di masyarakat sekitar kita. Itu
sebabnya banyak wacana, pelatihan, seminar, atau berbagai upaya lain
yang menawarkan tema tentang bagaimana mendapatkan "konsekuensi logis
kehidupan" (apalagi secara cepat dan instan) laris luar biasa bak
kacang goreng. Menjadi kaya dengan cepat, menjadi sukses dengan cepat,
dan lainnya, semuanya akan diserbu masyarakat.

Kedua, salah kaprah paradigma kehidupan di atas mendapatkan resultante
sempurna dengan dimensi usaha. Para pengusaha (terlepas tetap ada
pengecualian) juga dirasuki "virus" konsekuensi logis ini. Mereka
cenderung enggan untuk menjadi "pengusaha sejati" dan lebih gemar
dengan upaya-upaya mengejar konsekuensi logis lebih dulu.

Elkington (dalam Cannibals with Forks: The Triple Bottom Line in 21st
Century Bussiness, 1997) menyebutkan tentang tanggung jawab dunia
usaha yang mencakup "3P": profit, people, planet—yang terkait dengan
konsep kepentingan stakeholder.

Namun, dari ketiga P itu, profit lebih mudah tergelincir ke wilayah
konsekuensi logis. Profit tentu penting dan menjadi tanggung jawab
pengusaha demi kepentingan stakeholder keseluruhan. Namun, secara
faktual-psikologis, keuntungan ini lebih diperlakukan sebagai
konsekuensi logis yang dikejar lebih dulu. Maka, lupakan soal menjadi
pengusaha sejati. Itu sebabnya penyelewengan dunia usaha, mulai dari
kasus Enron dan seterusnya sampai kasus "lumpindo" (lumpur panas
Lapindo), lebih karena pengusaha dirasuki nafsu mengejar keuntungan
sebagai konsekuensi logis belaka.

Ketiga, kedua salah kaprah di atas itulah yang melahirkan "virus
profit" (sebagai konsekuensi logis), yang kini merasuki, menghantui,
sekaligus merusak berbagai dimensi dan kualitas kehidupan masyarakat
kita. Pelajar dan mahasiswa cenderung berpikir dan berorientasi untuk
mengejar "profit" bagi dirinya dulu (baca: nilai, peringkat,
kelulusan) sehingga kasus perjokian, nyontek, beli ijazah, dan
seterusnya merajalela.

Atlet atau olahragawan (apa pun) sama, "profit" apa yang bisa
didapatkan lebih dulu, baik itu hadiah, uang, nama besar, kemewahan,
dan lainnya. Bahkan, sesungguhnya mereka lupa, "kemenangan" atau
menjadi "nomor satu" sekalipun hanyalah konsekuensi logis dari upaya
untuk menjadi atlet atau olahragawan sejati. Maka, jangan heran jika,
misalnya, dunia sepak bola kita sangat memalukan dengan perilaku
tawuran atau lainnya sebab yang dikejar sekadar konsekuensi logisnya.

Dunia politik pun terjangkit hebat oleh "virus profit". Para pemimpin,
baik level politisi biasa, menteri, sampai presiden sekalipun, telah
terjangkit virus ini. Yang dikejar lebih dulu adalah konsekuensi
logis, apa "profit" yang bisa didapat bagi dirinya sendiri lebih dulu.
Konsekuensi logis menjadi pemimpin, politisi, atau presiden adalah
"kekuasaan".

Secara kontekstual, persis yang dikatakan Victor Frankl, bahwa
kekuasaan itu hanyalah konsekuensi logis dari upaya seseorang menjadi
"pemimpin sejati". Jika seseorang sudah mampu menjadi pemimpin sejati
(yang bernuansakan nilai-nilai dan kepentingan kemanusiaan, umat
manusia, rakyat), kekuasaan beserta segenap kenikmatan hidup akan
datang dengan sendirinya. Tapi, yang terjadi adalah sebongkah nafsu
dan pertanyaan, "Apa profit (kekuasaan) yang bisa didapat bagi diri
sendiri dulu?" Itu sebabnya berbagai perilaku, kebijakan, dan pola
kepemimpinan cenderung berorientasi pada kekuasaan itu sendiri,
bukannya menjadi pemimpin atau presiden sejati. Itu juga sebabnya
sekian kali ganti presiden, nasib bangsa tetap terpuruk sebab profit
berupa kekuasaan itu lebih dulu didekap oleh para pemimpin. Akibatnya,
kita hanya punya politisi dan bukannya negarawan.

Virus konsekuensi logis itu kini bersimaharajalela, semua berpikir,
bersikap, dan berperilaku sebagaimana "pengusaha" dengan "virus
profitnya". Sejatinya, ketiga "P" bukan hanya tanggung jawab
"pengusaha" an sich, tetapi juga semua orang, baik itu pelajar, atlet,
pemimpin, menteri, presiden, pejuang LSM, dan seterusnya. Kedua P
lainnya, people dan planet, juga menjadi kepedulian semua orang.

Namun, akibat P pertama (profit) yang telah menjadi virus mengerikan,
kedua P lainnya menjadi mati suri. Jadi, jangan heran, kasus
"lumpindo" terkatung-katung menyakitkan para korbannya. Para pemimpin
lebih berpikir dan bertindak bak pengusaha dengan "virus profitnya".
Mahasiswa, aktivis LSM, atau komponen masyarakat terkait lainnya
nyaris tak peduli, betapa sebagian "planet" dan people di Sidoarjo
telah dihancurkan seenaknya oleh segelintir pengusaha dan pemimpin
republik yang dijangkiti "virus profit".

Sebagai fenomena kehidupan, "virus profit" ini hanya bisa diberantas
dari lingkungan terdekat dan diri sendiri masing-masing. Orang tua
atau pendidik terhadap anak dan anak didiknya, pelatih dan manajer
terhadap atletnya, partai politik terhadap para kadernya, dan
seterusnya. Jangan mengharap perubahan itu turun dari para pemimpin,
menteri, presiden, pengusaha. Ini tentang sebuah virus yang telah
menjangkiti diri kita masing-masing.

Herry Tjahjono Corporate Culture Therapist, Penulis Buku The XO Way: 3
GIANTS & 6 Liliputs, Jakarta



Kirim email ke