Seandainya 10 % saja dari seluruh penduduk Indonesia mempunyai sikap mental
seperti yang diungkapkan dalam kisah Pak Kus, saya yakin konflik horizontal
maupun vertikal seperti yang terjadi saat ini ini dapat diminimalisir ke titik
terendah.
Beberapa point yang dapat kita tangkap dalam kisah Pak Kus adalah :
- Tidak ada kesuksesan yang dapat di raih secara instan
- Hanya diri kita sendiri yang dapat mengubah nasib kita
- Sukses dimulai ketika kita dapat menerima kelemahan kita apa adanya, tidak
iri terhadap kelebihan orang lain.
Kisah nyata serupa namun tak sama saya jumpai ketika saya berjalan-jalan ke
Yogya beberapa saat yang lalu. Saya cukup surprise ketika menemukan seorang Ibu
yang dengan tekun berjualan gudeg di dekat Malioboro. Gudeg Ibu itu sudah saya
nikmati puluhan tahun yang lalu, saat saya masih remaja.
Hebatnya, rasa maupun racikan bumbu gudeg tersebut masih sama lezatnya dengan
gudeg yang saya santap puluhan tahun silam.
Lebih hebat lagi, Ibu itu tetap tekun, persisten dan sabar menekuni usahanya,
walaupun sadar zaman telah berubah, anak-anak muda lebih suka menyantap fast
food di mall, dan secara bisnis, usaha masakan gudeg Ibu itu tidak profitable.
Lalu mengapa Ibu itu tetap berjualan gudeg?
"Hidup itu tidak hanya mengejar untung, Mas. Namun juga harus bisa memberi
manfaat kepada orang lain," jawab sang Ibu.
Salam.
Kusmayanto Kadiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kawan-kawan,
Walaupun barangkali cerita ini atau cerita serupa sudah banyak yang
tahu, saya tetap tergerak untuk meneruskan cerita dari sebuah milis.
Bagus sekali pelajaran yang dapat saya petik yaitu jangan terperangkap
pada apa yang dipandang sebagai kelemahan.
Jabat erat,
KK
----------------------------------------------------------
Kekuatan atau Kelemahan?
Penulis tidak diketahui, Bits & Pieces, August 15, 1996,
Economic Press Inc
Kadang kelemahan kita bisa menjadi kekuatan terbesar kita. Ambil
contoh kisah seorang bocah 10 tahun yang memutuskan untuk
mempelajari judo walaupun ia telah kehilangan lengan kirinya
dalam sebuah kecelakaan mobil.
Sang bocah belajar dari seorang guru judo Jepang. Bocah ini
benar-benar belajar dengan baik, sehingga ia sendiri tidak
paham, kenapa setelah tiga bulan latihan, sang guru hanya
mengajarkannya satu gerakan.
âSensei,â akhirnya sang bocah bertanya, âBukankah saya
seharusnya sudah belajar gerakan lainnya?â
âIni adalah satu-satunya gerakan yang kamu tahu, tapi ini juga
satu-satunya gerakan yang perlu kamu ketahuiâ jawab sang Sensei.
Walau tidak begitu memahami, tapi tetap percaya pada gurunya,
bocah ini tetap berlatih dan berlatih.
Beberapa bulan kemudian, sang sensei mengantarkan sang bocah ke
turnamen pertamanya. Terkejut pada kemampuannya sendiri, sang
bocah dengan mudah memenangkan dua pertarungan pertamanya.
Pertarungan ketiga lebih sulit, tapi setelah beberapa saat,
lawannya kehilangan kesabaran dan menyerang, sang bocah dengan
piawai menggunakan satu gerakannya untuk memenangkan
pertarungan. Masih heran dengan kemenangannya, sang bocah masuk
final.
Kali ini, lawannya lebih besar, lebih kuat, dan lebih
berpengalaman. Untuk beberapa saat sang bocah terlihat tidak
sepadan dibanding lawannya. Karena kuatir sang bocah bisa
cedera, wasit menyerukan time-out. Ia bermaksud menghentikan
pertarungan saat sang sensei menginterupsinya.
âTidak,â interupsi sang sensei,âBiarkan ia melanjutkan.â
Segera setelah pertarungan dilanjutkan, lawannya membuat
kesalahan kritikal: ia lalai dalam pertahanannya. Secara cepat
sang bocah menggunakan satu gerakan untuk menguncinya. Sang
bocah memenangkan pertarungan dan kejuaraan. Ialah sang
juaranya.
Dalam perjalanan kembali ke rumah, sang bocah dan senseinya
mempelajari kembali setiap gerakan di pertarungan hari itu. Lalu
sang bocah berani menanyakan yang terus dipikirkannya.
âSensei, bagaimana saya bisa memenangkan kejuaraan hanya dengan
satu gerakan?â
âKamu menang karena dua alasan!â jawab sang sensei. âPertama,
kamu hampir memahiri salah satu bantingan tersulit dari semua
gerakan di judo. Kedua, satu-satunya pertahanan yang telah
diketahui terhadap gerakan itu adalah jika lawan kamu menangkap
lengan kiri kamuâ
Kelemahan sang bocah telah menjadi kekuatan terbesarnya.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]