Oleh Agung Sasongkojati http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/23/ilpeng/3544077.htm ===========================
"The most beautiful fish I had ever seen...." Kalimat inilah yang diungkapkan Marjorie Courtenay-Latimer, kurator sebuah museum lokal di Cape Town, Afrika Selatan, saat melihat seekor ikan Coelacanth—ikan purba hidup pertama yang ditangkap oleh Kapten Hendrick Goosen di Laut Hindia—tak jauh dari mulut Sungai Chalumna di pantai timur Afrika Selatan, pada 23 Desember 1938. Hati pun merasa takjub sekaligus iba saat pertama melihat seekor Coelacanth yang tertangkap di Teluk Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (19/5) pagi. Ikan ini juga diberi nama Latimeria Chalumnae Smith untuk menghormati ahli ikan dari Universitas Rhodes, Prof JLB Smith. Sebelumnya, ikan serupa ditemukan di sekitar Kepulauan Komoro di Samudra Hindia, Mozambik, dan Madagaskar. Makhluk sangar tersebut begitu terkenal karena sosoknya yang seolah-olah melawan teori evolusi Darwin. Betapa tidak, spesies ikan ini tidak mengalami perubahan anatomi tubuh selama jutaan tahun seperti fosil nenek moyangnya yang berumur antara 70 juta tahun sampai 360 juta tahun. Pada Sabtu pagi yang cerah itu, secara kebetulan Coelacanth seberat 60 kilogram dengan panjang 130 sentimeter (cm) dan lebar 46 cm ini tanpa sengaja terpancing oleh dua nelayan setempat, yaitu Justinus Lahama dan anaknya, Delvi Lahama; di dekat pantai Malalayang, Manado. Mereka baru beberapa menit memasukkan kail pada kedalaman 70-100 meter saat tali pancing bergetar dan terasa berat. Ketika tali pancing ditarik tidak ada perlawanan berarti. Tetapi, ikan aneh berkelamin betina dengan sirip yang mirip tangan kecil ini baru mengamuk setelah diletakkan di dalam perahu. Seorang nelayan kemudian melaporkan temuan ke aparat setempat. Sejak saat itulah terjadi kehebohan di pantai yang dikenal sebagai pusat kuliner di Kota Manado itu. Akhirnya berita ini sampai juga kepada Gubernur Sulawesi Utara SHS Sarundayang, yang segera mengoordinasi penyelamatan Coelacanth. Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, yang kebetulan tengah berdinas di Sulut, sempat menyaksikan ikan langka tersebut. Pada pukul 13.00 ikan malang ini dibawa ke kolam pemulihan ikan di RM City Extra, Kalasey, sekaligus memperoleh perawatan oleh pemilik RM, Willem Inkiriwang, serta diobservasi oleh seorang karyawan setempat, Saman Kamea. Selama beberapa jam ikan tampak membaik, ditandai dengan gerakan pada sirip. Namun, karena luka, mengalami stres, serta kondisi lingkungan yang tidak sesuai, akhirnya pada pukul 24.30 malam, Saman Samea memastikan Coelacanth temuan telah berhenti bernapas. Ia hanya bertahan hidup selama 17 jam. Badannya lalu dibungkus plastik dan dimasukkan freezer untuk menunggu penanganan lanjutan dari tim ahli. Temuan terakhir Penemuan ikan fosil purba ini adalah penemuan terakhir setelah rekaman video hasil penelitian di perairan Laut Sulawesi pada bulan Juni 2006. Diketahui bahwa penemuan pertama Coelacanth dalam keadaan mati di sebuah pasar di Manado terjadi pada tahun 1997 oleh Dr Mark V Erdmann dari University of California di Berkeley, AS, dan istrinya, Arnaz Mehta. Baru pada 30 Juli 1998, Erdmann berhasil memperoleh seekor ikan sepanjang sekitar 1,5 meter dan seberat 45 kilogram yang ditangkap jaring nelayan, Lameh Sonathan, di sekitar Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara, yang berjarak 10.000 km dari Pulau Komoro. Ikan ini sempat hidup selama sekitar tiga jam sebelum diawetkan dan disimpan di Gedung Zoologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong, Bogor. Dua ekor Coelacanth lainnya berhasil terekam di kedalaman 145 meter dasar laut Sulawesi pada tahun 1999, selama ekspedisi yang dilakukan para peneliti dari Max Planc Institute menggunakan Kapal Baruna Jaya VIII. Meskipun hanya rekaman video, temuan-temuan selanjutnya tetap menggemparkan dunia. Selanjutnya kerja sama para peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dan Aquamarine Fukushima, Jepang, berhasil merekam keberadaannya menggunakan kamera bawah air yang dibawa remotely operated vehicle pada 31 Mei-4 Juni 2006. Kala itu tim berhasil memotret lima ekor Coelacanth. Kelimanya tertangkap kamera di beberapa tempat berbeda pada kedalaman lebih dari 150 meter. Penemuan Coelacanth di Manado sangat menggemparkan karena para ilmuwan menduga ikan tersebut telah punah sebelum ditemukan kembali di pantai timur Afrika pada 1938 dan selama 60 tahun berikutnya tidak ditemukan di bagian dunia lain. Prof Hans Fricke dari Max Planck Institute, Seewiesen, Jerman, adalah ilmuwan yang paling aktif menyelidiki tentang Coelacanth. Setelah kematian tiga penyelam dalam upaya ekspedisi di Afrika Selatan yang berhasil menemukan habitat hidup Coelacanth pada kedalaman 100 meter pada tahun 2000, ia menciptakan kapal selam sendiri demi keselamatan penyelaman. Dia berhasil, untuk pertama kalinya, menemukan habitat ikan purba ini pada kedalaman antara 150-200 meter, hidup di goa-goa di tebing-tebing pantai pulau vulkanik Komoro. Penamaan penemuan ikan di Manado menjadi Latimena Menadoensis oleh Comptes Rendus de L'Academie des Sciences pada bulan Maret 1999 karena karakter morfologi dan genetika yang berbeda dengan jenis ikan Latimena Chalumnae di daerah kepulauan Komoro, Afrika. Prof Hans Fricke menyebutkan, hasil tes DNA menunjukkan jenis Coelacanth Manado berbeda dengan spesies Afrika, bahkan berasal dari jenis yang lebih tua. Tampak bentuk sirip yang berbeda, jumlah jari-jari sirip tak sama banyak, warna berbeda dan total 52 persen perbedaan lainnya, jelas membuktikan ikan ini merupakan jenis baru di dunia. Melihat bentuk ikan ini, pantas jika kita menganggapnya fosil hidup. Berlubang pada sirip Menurut Wikipedia, Coelacanth sendiri berasal dari bahasa Yunani, yang berarti duri berlubang pada sirip. Coelacanth juga disebut sebagai ikan fosil purba karena, berdasarkan fosilnya, ikan jenis ini pertama kali muncul diperkirakan pada zaman Devonian (sekitar 400 juta tahun silam) atau jauh lebih tua dibandingkan dengan zaman dinosaurus pada masa Triasic (sekitar 200 juta tahun silam). Prof Fricke menyebutkan bahwa jenis ikan ini diketahui hidup di goa-goa bawah laut pada kedalaman 150-200 meter bersuhu 18 derajat Celsius. Coelacanth juga tergolong ikan yang mengalami pembuahan di dalam tubuh dan melahirkan anak. Fricke menambahkan adanya ciri sirip berlobi daging yang menyerupai tonjolan kaki dan tangan, ikan ini diasumsikan lebih berkerabat dekat dengan hewan berkaki empat (tetrapoda) dan ikan paru daripada ke jenis ikan yang biasa dilihat. Ikan ini diperkirakan memiliki hubungan evolusi yang erat dengan ikan pertama yang hidup di pantai sebelum hidup di darat sekitar 360 juta tahun lalu. Hal ini karena bentuk sirip Coelacanth yang diperkirakan merupakan perkembangan pertama evolusi sirip menjadi tungkai. Di samping itu, Fricke juga percaya bahwa asal mula Coelacanth adalah di wilayah Pasifik yang kemudian menyebar ke pantai timur Afrika Selatan 3,5 juta tahun yang lalu saat kepulauan Indonesia terbentuk. Diketahui, Coelacanth termasuk binatang yang lambat berkembang. Dari populasi semula sekitar 650 ekor di Komoro pada tahun 1989 selanjutnya tahun 1995 telah menyusut menjadi setengahnya dan saat ini diperkirakan hanya tinggal 200 ekor. Oleh karena itu, sebagai insan yang peduli kelestarian alam, penulis menyarankan sudah selayaknya diadakan pembentukan badan penelitian khusus ikan Coelacanth dan sejalan dengan itu dilakukan pula usaha konservasinya. LIPI bekerja sama dengan Departemen Kelautan dan Perikanan serta Pemprov Sulut dan Universitas Sam Ratulangi harus segera tanggap merencanakan dan melaksanakan aktivitas dengan agenda utama penyelamatan dan pelestarian Coelacanth. Pada World Ocean Conference 2009 di Manado, Coelacanth bakal menjadi maskot. Letkol Pnb Agung Sasongkojati Pencinta Lingkungan Hidup, Bertugas di Manado
