http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/23/metro/3551844.htm =======================
Jakarta, Kompas - Gara-gara rebutan lahan pungutan di pasar, massa Forum Betawi Rempug dan Ikatan Keluarga Besar Betawi Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, bentrok, Selasa (22/5). Dua anggota FBR tewas akibat tertusuk senjata tajam. Kedua korban, Ade Sulistyono (43) dan Syarifuddin (21), mengembuskan nafas terakhir saat dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan. Dua warga Cipulir itu tertusuk saat terjadi bentrokan antara massa Forum Betawi Rempug (FBR) dengan IKB di dekat toko Swalayan Alfa, Kebayoran Lama, sekitar pukul 10.30. Tubuh mereka terkena bacokan pada kepala, beberapa bagian di tubuh, dan alat kelamin. Keributan bermula saat puluhan anggota FBR mendatangi kelompok IKB di Pasar Kebayoran Lama, di Jalan Raya Ciledug. Seusai keributan itu, polisi sempat menguasai keadaan, setelah Sekretaris IKB, Mahmud Biyuzar, dan anggota Dewan Pembina FBR, Ghozali, dipertemukan oleh Kepala Kepolisian Resor (Polres) Jaksel, Komisaris Besar Wiliardi Wizar, di bawah pohon jambu air dekat kantor Sekretariat RW 02, Kelurahan Cipulir. Sekitar 15 menit setelah pertemuan itu, tiba-tiba sekitar 50 anggota FBR datang dengan tiga mobil dan belasan motor ke lokasi yang masih dijaga polisi. Dengan menenteng samurai, golok, balok kayu, dan besi beton, mereka berteriak-teriak mencari pelaku pembunuhan temannya. Sebagian masa FBR sempat mengamuk dan menebaskan golok mereka ke dagangan para pedagang buah di pinggir jalan. Para pedagang berlarian menyelamatkan diri ke pelataran parkir toko swalayan Alfa. Panglima FBR Amirullah sempat berteriak-teriak emosi kepada polisi. Amirullah bahkan sempat berkata keras kepada polisi, jika dalam 1-3 jam pelaku penusukan belum ditangkap, seluruh massa FBR turun di kawasan itu. Sementara polisi meminta tolong kepada Amirullah untuk mengendalikan massanya yang mulai liar. Polisi tidak berusaha merampas senjata tajam yang mereka bawa. Padahal ada sekitar 100 polisi yang berjaga-jaga. Setelah polisi berjanji segera menangani kasus itu, Amirullah meminta anggota FBR pulang. Namun, sebagian massa FBR tetap liar dan berlari ke arah Gang Cipulir I sambil menenteng senjata tajam. Warga pun ketakutan. Polisi lalu mengejar dan merampas senjata mereka. Massa FBR lalu pergi, dan meninggalkan 10 sepeda motor mereka di lokasi. Seusai kejadian itu, polisi tidak menahan seorang pun. Enam saksi masih dimintai keterangan. Wiliardi membantah polisi kurang tegas. "Tidak. Kami akan tindak tegas semua pihak. Siapa pun yang anarkis adalah preman," tandas Wiliardi. Masalah "perut" Mahmud mengakui, peristiwa itu hanya karena masalah "perut". Sejak 2001, perparkiran dan ribuan pedagang di pasar dikelola anggota IKB. Menurut dia, pengelolaan itu telah menjadi nafkah bagi ratusan anggota IKB. Pedagang mengaku setiap hari mereka dipungut Rp 6.000 sebagai uang keamanan oleh IKB. Mahmud menyebutkan, sedikitnya ada 5.000 pedagang di Kebayoran Lama yang dikelola IKB. Amirullah sempat membantah kericuhan itu berawal karena rebutan lahan pungutan liar. Sejak sepekan lalu, FBR mendirikan posko di kawasan itu. Warga sudah mendengar isu kedatangan massa FBR sejak tiga hari lalu. Camat Kebayoran Lama, Tahrir, berharap polisi bisa tegas menindak masalah pungutan liar di kawasan tersebut. (sf)
