Oleh Mu'man Nuryana
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/26/humaniora/3555770.htm
=======================

Gempa bumi hebat yang mengguncang Pulau Sumatera dan Jawa dalam tiga
tahun terakhir ini adalah sebuah bukti bahwa Patahan Sunda (Sunda
Trench)—salah satu seksi dari Ring of Fire di belahan barat Pacific
rim—telah memperlihatkan aktivitas seismik paling berbahaya.

Aktivitasnya bisa saja terus berlanjut karena terkait dengan
pergerakan lempeng-lempeng permukaan bumi. Tetapi, bagi penduduk yang
menghuni kedua pulau tersebut dapat menjadi sebuah ancaman serius
terhadap keberlangsungan hidupnya.

Magnitude gempa bumi di Sumatera dan Jawa bisa saja melampaui apa yang
pernah dialami selama ini, sementara tidak ada orang yang mampu
memprediksi kapan dan bagaimana hal itu terjadi. Dengan asumsi bahwa
penduduk tetap tinggal di situ, maka maksimum yang dapat mereka
lakukan adalah mengurangi risiko bencana.

Tetapi, sebagaimana yang kita alami sekarang, rehabilitasi dan
rekonstruksi pasca-bencana di Aceh, Nias, Yogyakarta, Pangandaran, dan
Padang yang telah menyedot sumber daya demikian besar, hasilnya masih
jauh dari yang diharapkan.

Pemerintah Indonesia terpaksa menangguhkan berbagai prioritas
pembangunan nasional untuk mendahulukan rehabilitasi dan rekonstruksi
pasca-bencana. Penanggulangan bencana dengan pendekatan pencegahan
juga tidak gampang karena perlu koordinasi, integrasi, dan sinergi
serta pengerahan sumber daya yang luar biasa besar.

Ongkos penanggulangan bencana alam bisa jauh lebih mahal dibandingkan
dengan pemindahan penduduk secara massal dari daerah rawan bencana ke
wilayah yang relatif lebih aman.

Muasal semua gempa

Patahan Sunda membentang mulai dari Teluk Bengali, bersambung ke Pulau
Andaman dan Nikobar, Sumatera, Jawa, Bali, Lombok dan seterusnya,
berakhir di Tanimbar. Patahan Sunda adalah patahan vulkanik yang
membentuk Kepulauan Sunda Besar dan Sunda Kecil.

Patahan ini termasuk ke dalam tipe convergent boundary, di mana dua
buah lempeng permukaan bumi—Eurasian Plate dan Indian-Australian
Plate—dalam proses bertumbukan (subduction). Di atas Sunda Plate
inilah terhampar pulau-pulau besar dan kecil, laksana mutu manikam di
khatulistiwa yang dikenal dengan Kepulauan Nusantara, sebuah kompleks
kepulauan terbesar di dunia.

Patahan Sunda adalah sebuah contoh klasik dari patahan vulkanik.
Deformasi tektonik sepanjang zone subduksi Patahan Sunda inilah yang
menimbulkan gempa bumi di Samudra Hindia tanggal 26 Desember 2004.
Begitu pula peristiwa gempa bumi di Nias (28 Maret 2005), di
Yogyakarta (27 Mei 2006), di Pangandaran (17 Juli 2006), dan di Padang
(6 Maret 2007). Semua disebabkan oleh aktivitas Patahan Sunda.

Masih banyak lagi peristiwa gempa bumi dengan magnitude lebih rendah
yang tidak menimbulkan korban manusia dan kerugian harta benda,
sehingga kurang mendapat perhatian masyarakat. Padahal, ini semua
merupakan tanda-tanda alam yang memberikan peringatan kepada manusia
untuk berpikir.

Fenomena yang sama muncul pada April tahun 1815 dengan sebuah ledakan
cataclysmic volcano Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, yang merupakan
sebuah letusan paling kuat yang tercatat dalam sejarah. Debu vulkanik
Tambora sampai menutupi langit berbulan-bulan lamanya sehingga
menurunkan temperatur bumi sampai 3 derajat Celsius.

Meskipun telah setahun pasca-letusan Tambora pada waktu itu, hampir
semua lapisan hemisphere di belahan utara mengalami temperatur lebih
dingin selama bulan-bulan musim panas. Masyarakat di sebagian Benua
Eropa dan Amerika Utara mengenal tahun 1816 itu sebagai "the year
without a summer", akibat tertutupnya permukaan bumi oleh awan debu
dari vulkanik Tambora.

Ancaman eksistensial

Motivasi tulisan ini sekadar mengingatkan bahwa aktivitas seismik
Patahan Sunda adalah sebuah ancaman paling realistis dan serius dewasa
ini bagi keberlanjutan bangsa Indonesia, terutama bagi mereka yang
tinggal di Pulau Sumatera dan Jawa.

Di lepas pantai barat Pulau Sumatera dan lepas pantai selatan Pulau
Jawa, terbentang Patahan Sunda yang menakutkan, seperti dilukiskan
dalam konsep mitologi Jawa Kuno; yang menyebut Laut Hindia sebagai
"Laut Kidul" yang penuh misteri karena memiliki palung laut paling
dalam di dunia (7,725 meter) setelah Patahan Diamantina di Lautan
Hindia (8,047 m).

Subduksi atau benturan antara Eurasian Plate dan India-Australian
Plate itu dikenal dengan Patahan Sunda dengan aktivitas seismik yang
semakin intensif akhir-akhir ini. Apakah fenomena alam ini perlu
dihiraukan atau biarkan saja berlalu bagai air mengalir di sungai?
Jawabannya bergantung pada kita sendiri. Kalau gempa bumi di Pulau
Sumatera dan Jawa dinilai sebagai peristiwa alam biasa, maka kita
cukup menjalaninya saja sebagai sebuah realitas dalam kehidupan
sehari-hari.

Akan tetapi, kalau kita berpikir untuk kepentingan eksistensi bangsa
Indonesia dalam kerangka jangka panjang, maka bencana alam akhir-akhir
ini dapat menjadi sebuah informasi penting bagi kajian lebih lanjut.
Dengan begitu didapatkan sebuah landasan berpikir ilmiah untuk
mendukung sebuah kebijakan nasional berupa migrasi penduduk untuk
kepentingan eksistensi sebuah bangsa Indonesia dalam kerangka jangka
panjang.

Migrasi besar-besaran

Cukup beralasan bila mulai berpikir tentang konsep migrasi penduduk
dalam skala besar dalam konteks jangka panjang bagi mereka yang
tinggal di Pulau Sumatera dan Jawa ke pulau lain yang relatif lebih
aman. Di dalam Nusantara sendiri, Indonesia memiliki Pulau Kalimantan
dan Pulau Sulawesi yang relatif aman bagi permukiman penduduk.

Bahkan, kalau perlu memikirkan bagaimana agar bisa mengembangkan
permukiman penduduk di daerah baru di Benua Australia bagian utara
karena lebih mudah terjangkau dan lebih aman. Benua yang demikian luas
itu belum mampu dimanfaatkan secara optimal oleh penduduknya untuk
permukiman dalam skala besar.

Benua itu pada hakikatnya adalah tanah milik bangsa Aborigin yang
serumpun dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Hanya karena konsep
kolonialisasi yang diterapkan oleh pemerintah kolonial sehingga muncul
batas-batas antarnegara, di mana penduduk serumpun sudah tidak bisa
lagi saling bersilaturahmi dan berbagi tanah bagi kehidupan bersama.

Bangsa-bangsa Eropa (Inggris, Portugis, Spanyol, Perancis, Belanda,
Irlandia) bisa mengembangkan permukiman dalam skala massal (koloni) di
luar wilayah negara mereka, yakni Amerika Utara, Kanada, Asia (Canton,
Hongkong, Macao), Australia, dan Afrika (Afrika Selatan), dan Pulau
Timor. Kenapa bangsa-bangsa Asia Tenggara tidak boleh melakukan hal
yang sama dengan motivasi yang lebih mulia, yakni kemanusiaan? Kalau
dahulu bangsa Eropa melakukan ekspansi karena alasan ekonomi dengan
menguasai sumber daya alam, tetapi kita dapat melakukan hal yang sama
atas dasar keselamatan dan eksistensi manusia.

Kerja sama internasional dapat membuka ruang bagi kita untuk
memperoleh hak hidup lebih layak dan aman. Apa artinya warga dunia
menyebut dirinya sebagai "komunitas global" kalau dalam situasi
kesulitan seperti yang kita hadapi mereka tidak mampu memberikan
solusi yang lebih adil....

Mu'man Nuryana Peneliti Tamu di Hosei School of Policy Sciences,
Universitas Hosei, Tokyo 

Kirim email ke