http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/26/Politikhukum/3557545.htm
=====================

Jakarta, Kompas - Seluruh komponen anak bangsa ini harus menampilkan
etika, keteladanan, dan kejujuran dalam berbangsa. Tanpa itu, bukan
saja masyarakat tidak akan mendukung program pemerintah, parpol, dan
pemimpin yang selalu berteriak demi kepentingan rakyat, namun lebih
jauh lagi bangsa ini akan hancur.

Hal ini disampaikan anggota Majelis Hikmah PP Muhammadiyah Rustam
Effendy di Jakarta, Jumat (25/5). "Dalam kasus dana DKP, kader politik
dari kalangan Islam banyak yang menyangkal telah menerima dana
tersebut. Jika mereka betul-betul tidak menerima, tidak mengapa,
tetapi kalau menerima kemudian bilang sudah mengembalikan atau untuk
yayasan, ini jelas ketidakjujuran," ujarnya.

Menurut Rustam, ketidakjujuran dan politik citra telah merusak bangsa
ini hingga sulit untuk bangkit lagi. Padahal, masyarakat sudah tidak
sanggup lagi melihat tampilan megah dan citra baik para pemimpin.

"Kita rasanya sudah terlalu lelah menghadapi perilaku para pemimpin,"
ujar Rustam.

Koordinator Masyarakat Profesional Madani Ismed Hasan Putro
mengatakan, saat ini para tokoh dan pemimpin bangsa perlu melihat hati
nuraninya. Hanya dengan itulah mereka akan bisa menuntun moral bangsa
ini dengan kejujuran dan kebenaran.

"Bukan dengan kemunafikan dan pembenaran. Karenanya, janganlah
mengecoh publik seolah- olah bantahan dapat menjadi kebenaran mutlak.
Jangan lagi ada dusta di antara para pemimpin dan tokoh," ujarnya.

Ismed mencontohkan, sebagai bagian dari tokoh bangsa, mestinya
pasangan Pilpres 2004 dapat menjunjung harkat dan nuraninya. Dengan
berjiwa besar, mereka memberi kesaksian yang berkekuatan hukum di
pengadilan atas apa yang telah terungkap dalam persidangan korupsi DKP
mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rochmin Dahuri.

"Sungguh menyedihkan kalau kejujuran telah digadaikan demi citra diri.
Memprihatinkan kalau pembenaran menjadi wahana untuk menyucikan diri,"
ujarnya.

Belajar dari Soekarno

Mestinya para pasangan Pilpres 2004, tokoh partai, dan pemimpin bangsa
ini, menurut Ismed, belajar dari pendiri bangsa, Soekarno-Hatta.
Pendiri bangsa tersebut lebih mengutamakan kepentingan negara dan masa
depan bangsa, dibandingkan dengan birahi untuk tetap terlihat bak
malaikat dalam singgasana kekuasaan politik. (MAM)



Kirim email ke