Oleh Samuel Mulia
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/27/urban/3553236.htm
==================

1. Saya adalah manusia yang selalu mengatakan kata sibuk, belum ada
waktu, dan sebagainya, terutama kalau seseorang meminta sesuatu dan
saya tak menyukainya itu. Bahkan, seperti klien-klien saya, saya juga
tidak membalas SMS atau mengangkat telepon. Pokoknya saya mengharap
mereka yang harus mengerti saya, dan saya tak perlu harus mengerti
mereka. Terutama kalau saya punya posisi yang dibutuhkan. Maka
celakalah mereka yang menelepon saya.

Maka my brothers and sisters, jangan turuti kebiasaan buruk saya itu.
Pembalasan itu ternyata ada di dunia ini. Mengapa cerita kekesalan
saya dalam artikel utama saya beberkan? Itu bukan untuk membalas sakit
hati saya kepada klien-klien saya, tetapi itu sebuah gambaran
pembalasan dari apa yang pernah saya lakukan kepada orang lain.
Sahabat saya bilang begini ketika saya kesal mengapa saya ditolak
klien-klien saya itu. "Sukurin.… Makanya jangan jahat jadi orang."

2. Saya sudah tahu sejak lama bahwa roda itu berputar kalau diputar.
Yang atas ke bawah, yang ke bawah ke atas dan ke bawah lagi. Saya suka
tak mau tahu. Waktu di atas, saat saya dibutuhkan orang, saya bisa
seperti raja, untuk menentukan siapa yang hendak saya temui atau yang
tidak mau saya temui. Saya lupa kalau saya bisa ke bawah di mana saya
yang giliran membutuhkan orang. Kalau Anda membiasakan diri untuk tak
mau tahu, maka jangan menyesal kalau suatu hari orang tak mau
mendengarkan Anda lagi. Dan yang paling menyedihkan saat orang tak
membutuhkan Anda lagi.

3. Jangan kesal kalau saat Anda membutuhkan sesuatu atau seseorang,
mereka diam seribu bahasa, mendadak buta, mendadak bisu, mendadak
tuli, mendadak tak mengerti bahasa Indonesia dan bahasa asing. Jangan
pernah sekali-kali keadaan negatif itu mendorong, bahkan mengubah Anda
menjadi manusia jahat. Mendendam, mengumpat, bahkan mungkin mengutuki.
Justru belajarlah dari keadaan yang mengesalkan itu, untuk menjadi
manusia yang lebih baik. Gampangnya. "Amit-amit jangan sampai gue
kayak gicu."

Saya dianjurkan sahabat saya. "Bang, latihlah berbuat baik.
Berhentilah kau berbuat jahat." Memang benar, berbuat baik memang
perlu latihan, seperti menjadi jahat juga memerlukan latihan rutin.
Maka berlatihlah seperti anjuran teman saya itu. Jangan sampai orang
lain berlatih menjadi baik dari kejahatan Anda. 

Kirim email ke