Oleh Mardiatmadja
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/26/opini/3557161.htm
====================

Usaha dagang, ilmu, dan strategi politik sering menciptakan hiruk
pikuk dari dulu hingga kini. Semula, ekonomi, ilmu, dan politik
tercipta untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

Dari ekonomi, rakyat memperoleh banyak cara mengelola hidup dan
peningkatan kesejahteraan. Ilmu menjanjikan kemajuan menggarap alam
dan meningkatkan kesehatan.

Politik mau menggalang segala usaha dari lapisan mana pun demi
kebaikan bersama. Namun, sering kali usaha ilmu, persaingan ekonomi,
dan pergulatan untuk menguasai jalannya pemerintahan menawarkan
peluang konflik tak terbilang meski juga kemungkinan menjalin
persahabatan. Banyak perusahaan menghasilkan devisa, tetapi juga
menelantarkan buruh ribuan. Tidak sedikit penyelidikan ilmu yang
menghasilkan obat baru, tetapi juga mengorbankan janin atau kesehatan
rakyat.

Pilkada menebar tidak hanya pesona, tetapi juga kekecutan di hati
rakyat: akan ada kerusuhan ataukah berlangsung damai. Setiap calon mau
menonjolkan tawaran jasanya dan mengecilkan jasa pihak lain. Yang satu
mau disebut pahlawan, yang lain tidak mau disebut pecundang. Di lubuk
hati dan di mulut diinginkan terkumpul sebanyak mungkin sahabat,
tetapi yang kerap terjadi pemecahbelahan rakyat. Di mana tempat agama?

Tidak jarang, penelitian ilmu, teori ekonomi, maupun pilkada dan
pemilihan politik, menyalahgunakan sentimen keagamaan angkal untuk
mencari teman: seakan "Tuhan jelas ada di pihakku". Sesekali muncul
slogan yang menyiratkan seolah "pihakku satu-satunya pembela agama kita".

Sering terlupakan, dalam banyak kesempatan, pemenang sebenarnya adalah
setan, yang ingin manusia mempertuhan diri sendiri, keluarga sendiri,
kelompok sendiri, dan partainya sendiri; menggantikan Tuhan sejati
atas nama partai dan golongan.

Di tengah sorak sorai pendukung fanatik, argumentasi jernih dan iman
tulus maupun ibadat khusyuk sulit mengatasi kepalsuan religiositas.
Orang mudah terlena iming-iming kursi dan materi: menjual kerohanian
dengan popularitas semu.

Sejarah pengikut agama dari abad ke abad telah menelanjangi hampir
semua pemuka semu dari agama mana pun, yang terjerumus dalam
meninabobokkan umat dengan "suapan nikmat, derajat, dan semat sesaat".
Politik yang sebenarnya menginginkan kesejahteraan rakyat berubah
menjadi laknat tanpa berkat.

Agama yang seharusnya menemani rakyat berziarah menuju akhirat bersama
Sang Sumber Rahmat ditantang menawarkan penawar racun kemajuan untuk
menjadi perekat paguyuban manusia, melampaui kepicikan segelintir
pemimpin semu. Diperlukan paguyuban umat beriman yang dari tahun ke
tahun menunjukkan kesetiaan kepada Yang Mahakuasa seraya makin
berbakti kepada sesama.

Dua abad Gereja Katolik di Jakarta

Di tengah pasang surut sejarah manusia, dihadirkan utusan- utusan yang
mengingatkan manusia pada tujuan hidupnya. Utusan itu dapat ditemukan
dalam sosok seorang pemimpin negara yang bijaksana, ilmuwan yang
tulus, ekonom yang mengedepankan kesejahteraan, pelaku politik yang
adil, dan pemuka agama yang beriman dan bersetiakawan kepada umat.

Dalam tradisi agama-agama Semit, malaikat dikirim Allah untuk
menunjukkan kasih dan belas kasih-Nya. Bahkan, jika Malaikat Maut
dikirim pun dalam rangka menyampaikan kehendak Allah untuk memanggil
kembali makhluk-Nya.

"Malaikat meronda" adalah ungkapan keinginan agar Allah mendampingi
umat-Nya, entah mereka tertidur lelap, terlena, atau berjaga. Selama
malaikat meronda, umat Allah tak perlu khawatir berjalan, pun dalam
lembah kegelapan. Begitulah ziarah hidup dihayati paguyuban umat
beriman: dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti
pengembaraan anak cucu Ibrahim di gurun berpuluh tahun atau gereja di
Jakarta selama 200 tahun terakhir ini.

Pasang surut ziarah diyakini selamat selama malaikat meronda, juga
kalau cuaca tidak selalu cerah dan hawa tidak membuat gerah. Ketika
pada tahun 1807 umat katolik Jakarta memperoleh seorang pemuka
setingkat uskup, J Nelissen, saat itu sudah banyak orang pribumi
maupun pendatang yang guyub dalam persekutuan beriman. Mereka menyatu
dengan kerukunan sehari-hari baik antarmereka maupun dengan orang
beragama lain meski tidak mendapat dukungan dari penguasa dagang dan
politik masa itu.

Ketika parlemen Hindia Belanda mulai berbicara mengenai hak-hak
politik rakyat, seorang seperti Van Lith dengan tegas mengatakan,
Gereja Katolik memihak rakyat. Upaya lain dilakukan dengan
menyelenggarakan sekolah untuk mencerdaskan rakyat agar tersedia
generasi baru yang tangguh.

Generasi 1928

Generasi 1928 mengenal orang-orang Katolik yang ikut membangun
semangat persatuan bangsa. Tahap pembangunan Indonesia selanjutnya
mengenal orang seperti Slamet Rijadi, Adisoetjipto, Yos Soedarso, dan
lainnya yang bersama teman-teman lain berjuang bagi negara. Di
kalangan ilmuwan, seniman, dan pelaku politik tercatat orang seperti
WJS Poerwodarminto, A. Soegijopranoto, dan IJ Kasimo yang kerap
mengingatkan umatnya agar tidak mengkhianati demokrasi dan kebangsaan,
tetapi menjadi 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia.

Sesudah itu, sejumlah orang terlibat dunia ilmu, ekonomi, politik,
seni, serta media massa atau pemberdayaan rakyat guna memajukan nusa
dan bangsa: mau ikut membangun republik.

Di tengah paguyuban umat beriman ini, ada saja orang yang tidak setia
dan tidak jujur. Namun, selama malaikat masih meronda, selama itu juga
dapat diharapkan paguyuban umat beriman ini setia kepada Tuhannya dan
ikut bersetiakawan dengan orang sebangsa. Kehadiran itu diperlukan
karena dalam dunia ilmu, ekonomi, seni, media, LSM dan politik, ajaran
sosial gereja, yang menggarisbawahi perlunya etika politik, etika
bisnis, dan etika biomedik sehingga orang mendahulukan orang kecil,
mengembangkan solidaritas, memperjuangkan subsidiaritas, membela
keadilan sosial maupun membela kebenaran dan kehidupan, dalam
keputusan nyata, tidaklah memberikan pengaturan tunggal.

Di lingkungan kemasyarakatan, orang Katolik memiliki kemungkinan untuk
membuat berbagai pertimbangan yang sehat, memilah masalah lalu
mengambil keputusan selaras suara hati yang memerhatikan aneka faktor
yang tersedia.

Iman menuntut tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial. Karena
itu, kolegialitas dan pembicaraan bersama dalam semangat ini menjadi
bagian integral paguyuban umat beriman bersama dengan ketaatan iman.

Dan, keselamatan akan dapat diyakini, "selama malaikat masih meronda"
pada saat umat mengarungi sejarah dalam ziarah iman.

Mardiatmadja Pembantu Uskup Agung Jakarta untuk Bidang Kategorial 

Kirim email ke