Jangan-jangan logikanya polisi memang terbalik dengan logika masyarakat? Jadi polisi memang membiarkan para preman itu berorganisasi; biar mudah mengontrolnya. Kalau tidak begitu takutnya nanti mereka malah balik lagi jadi garong atau memalak orang di jalan.
Setelah itu mereka diberi bisnis keamanan di kompleks pelacuran atau perjudian; biar jadi tukang kepruk di situ saja, tidak usah campur dengan masyarakat biasa. Kalau nanti masih ada anggotanya yang beredar memeras pedagang atau memukuli sopir mikrolet, polisi tinggal komplain ke bos-nya. Biar bosnya yang menghajar anak buah bandel tersebut. Kalau bosnya tidak bisa mengontrol anak buah, resikonya "bisnis" keamanannya bisa dicabut polisi. Jadi mereka memang dibuat seperti Yakuza di film-film itulah; urusannya cuma perjudian dan pelacuran. Kalau anggotanya bikin kejahatan kecil-kecil, akan dihajar sendiri oleh bosnya. Dengan logika begitu, kalau si FBR ini dibubarkan efeknya malah makin buruk buat keamanan, bukannya makin baik. Sori kalau kedengaran ajaib. Maklum, akhir minggu kemarin kebanyakan nonton film mafia. Andi --- In [email protected], "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/26/metro/3557441.htm > ======================= > > Kerusuhan Rusak Citra Ibu Kota > > Jakarta, Kompas - Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menginginkan > organisasi masyarakat yang berlaku anarkis di Jakarta agar dibubarkan. > Tindakan anarkis secara massal yang terjadi berulang kali dapat > menciptakan citra Ibu Kota yang buruk. > > Menurut Sutiyoso, Jumat (25/5), jika diperlukan, Pemerintah Provinsi > DKI Jakarta akan mengajukan usulan kepada Menteri Dalam Negeri > (Mendagri) guna membubarkan ormas yang berlaku anarkis. Usulan itu > diperlukan karena hanya Mendagri yang boleh membubarkan ormas. > > "Pemprov DKI Jakarta sedang mengkaji tindakan dari ormas- ormas yang > sering meresahkan masyarakat. Namun, pemprov membutuhkan keterangan > dari polisi mengenai definisi tindakan anarkis yang dilakukan ormas," > kata Sutiyoso. > > Pernyataan Sutiyoso itu dilontarkan menanggapi keinginan berbagai > pihak untuk memberi tindakan tegas bagi ormas-ormas yang mengganggu > kepentingan umum dengan berbuat anarkis. Sebelumnya, Forum Betawi > Rempug dan Ikatan Keluarga Besar Betawi Kebayoran Lama terlibat > perkelahian massal dan berbuntut pada meninggalnya dua orang anggota > salah satu ormas itu. > > Pimpinan meredam > > Menurut Sutiyoso, jika terjadi konflik, pimpinan-pimpinan ormas > seharusnya mampu meredam kemarahan anggotanya dan menyelesaikan > masalah di antara mereka dengan damai. Penyelesaian masalah secara > internal diperlukan agar masyarakat luas tidak terkena imbas dari > perseteruan mereka. > > "Kajian untuk pembubaran ormas yang anarkis tidak terbatas kepada > kedua ormas itu saja. Semua ormas yang berlaku anarkis akan diusulkan > untuk dibubarkan," tutur Sutiyoso. > > Menurut Sutiyoso, keamanan dan ketertiban di Jakarta harus dijaga > karena Ibu Kota merupakan barometer keamanan Indonesia. Gangguan > stabilitas akibat bentrokan masyarakat di Jakarta dapat menjadi > gangguan kestabilan nasional. > > Pada kesempatan terpisah, Wakil Gubernur DKI Jakarta, yang sekaligus > Ketua Badan Musyawarah (Bamus) Betawi, Fauzi Bowo, mengatakan, kedua > pimpinan dan anggota kedua ormas itu diminta untuk introspeksi dan > menahan diri agar bentrokan serupa tidak terjadi lagi. > > Namun, kata Fauzi, dia menyerahkan penyelesaian kasus itu kepada > polisi karena sudah terjadi kasus kriminal. Sebagai Ketua Bamus > Betawi, Fauzi tidak akan mengintervensi kasus itu meskipun yang > terlibat adalah anggota dari dua ormas di bawah Bamus Betawi. > > Fauzi juga meminta semua pihak untuk tidak mengumpulkan massa atau > mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang dapat menciptakan kondisi yang > mencekam, sekarang ini. Sampai saat ini polisi masih berjaga-jaga di > Pasar Kebayoran Lama untuk mencegah timbulnya bentrokan susulan. > > Ada 92 ormas Betawi > > Berdasarkan data Badan Kesatuan Bangsa (Kesbang) DKI Jakarta, terdapat > 92 ormas kesukuan di bawah Bamus Betawi. Sedangkan jumlah ormas, > yayasan, dan LSM di DKI Jakarta mencapai 1.172 organisasi. > > Menurut Kepala Bidang Hubungan Antarlembaga Badan Kesbang DKI Jakarta > Ichwan Bandar Nata, sebagian besar konflik yang terjadi akibat > perselisihan antarindividu, yang kemudian melibatkan rekan-rekan > mereka dari ormas. Konflik semacam itu sulit dihentikan jika para > pemimpin ormas tidak proaktif membina anggota mereka. (eca) >
